Speech Level and Social Change: A Sociolinguistic Study in the Urban Balinese Setting

I Made Suastra

Disertasi ini merupakan sebuah kajian sosiolinguistik bahasa Bali. Tujuan utama kajian ini adalah untuk mengukur akibat perubahan sosial (khususnya status sosial) di dalam masyarakat Bali terhadap struktur dan bentuk tingkat tutur. Kajian ini menggunakan metodologi yang berbasis kerangka kerja umum dari metode kuantitatif (Labov, 1971a, 1972a; Trudgill, 1974; Milroy, 1980). Dalam kajian ini hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat merupakan konsep yang fundamental. Variabel terikat meliputi aspek paradigmatis dan sintagmatis dari tingkat tutur, pilihan leksem bahasa Indonesia, dan leksem bahasa asing. Variabel bebas terdiri atas faktor geografis yang mencakup daerah pedesaan dan faktor sosial, termasuk pekerjaan, wangsa, jenis kelamin, usia, dan kekerabatan.

Di dalam masyarakat pedesaan Bali, tingkat tutur masih kuat dipelihara di antara penutur bahasa Bali, tetapi pembentukan dan penggunaan bahasa Bali agak sederhana. Dalam kajian ini diketahui bahwa perbedaan status, wangsa, dan hubungan kekerabatan sangat memengaruhi penggunaan tingkat tutur, tetapi perbedaan jenis kelamin dan gender tidak secara signifikan berbeda. Pada status sosial, tingkat tutur tidak hanya digunakan antara wangsa (satus tradisional; triwangsa kepada nontriwangsa dan sebaliknya), seperti secara normatif diperbolehkan dengan penggunaan tingkat tutur, tetapi juga digunakan dalam wangsa, khususnya di antara penutur nontriwangsa (menurut status yang dicapai). Sebagai akibatnya, kajian ini menunjukkan bahwa golongan alus madia ‘tingkat tutur tengah tinggi’ diperluas dalam penggunaan. [Arie].