Macapat Modern dalam Sastra Jawa: Analisis Bentuk dan Isi

Sri Haryatmo, Prapti Rahayu, Hesti Mulyani, dan Cristianto W. Nugraha

Penelitian ini mencoba mendeskripsikan bentuk macapat modern dalam sastra Jawa dan melihat apakah para pengarang macapat zaman sekarang mengikuti konvensi yang berlaku dalam tembang macapat. Pembahasan ini meliputi analisis bentuk dan isi tembang macapat. Selain itu, juga melihat tema yang terkandung dalam tembang macapat untuk mengetahui bagaimana pandangan pengarang terhadap berbagai fenomena kehidupan.

Sumber data penelitian ini adalah teks macapat yang terdapat dalam majalah berbahasa Jawa yang meliputi Panyebar Semangat dan Jaya Baya di Surabaya serta Djaka Lodang, Mekar Sari, dan Pagagan di Yogyakarta. Di samping itu, teks macapat yang pernah disiarkan di media elektronik (radio) dan teks macapat hasil lomba yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah dan swasta.

Metode dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi pustaka. Tahap yang dikerjakan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan. Dalam pengumpulan data tertulis digunakan metode simak dan catat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktural. Teori itu digunakan untuk menjaring tema yang terdapat dalam teks macapat modern. Untuk melihat refleksi pengarang terhadap berbagai fenomena kehidupan dalam masyarakat, digunakan teori sosiologi sastra yang dikemukakan Sapardi Djoko Damono dalam bukunya Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas.

Simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bahwa macapat modern berbeda dengan macapat tradisional. Perbedaan itu terletak pada bahasa yang digunakan dan tema yang ditampilkan. Macapat modern banyak dibumbuhi oleh kata atau istilah modern dan tema yang ditampilkan biasanya berhubungan dengan pembangunan dan peristiwa yang dianggap penting. Selain itu, macapat modern hanya digubah dalam jumlah kurang dari dua puluh bait, bahkan kurang dari sepuluh bait. Dari segi karakteristik teks, macapat tradisional diciptakan untuk didendangkan. Teks macapat modern belum tentu ditembangkan, tetapi diciptakan dan disebarluaskan di media tulis.