Pemetaan dan Distribusi Bahasa-Bahasa di Tangerang

Multamia Retno Mayekti Tawangsih Lauder
Dialektologi
Disertasi
Universitas Indonesia
1990

Penelitian ini difokuskan pada pembahasan leksikon karena leksikon merupakan unsur yang mandiri di dalam bahasa apa pun. Dalam penelitian ini, penulis memetakan distribusi kosakata bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu. Menurut penulis, pemetaan bahasa merupakan salah satu sarana wajib sebuah penelitian geografi dialek karena dapat memvisualkan gejala kebahasaan beserta distribusinya. Selain pemetaan, dilakukan pula pengumpulan kebahasaan untuk kepentingan sejarah bahasa.

            Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menggambarkan daerah pakai serta daerah sebar variasi kebahasaan pada ketiga bahasa yang terdapat di Kabupaten Tangerang, yaitu bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu; (2) menerapkan rumus dialektometri untuk menghitung seberapa jauh jarak kosakata di antara titik pengamatan di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang; (3) menghasilkan program komputer untuk pemetaan bahasa yang dapat dipertanggungjawabkan.

            Penelitian ini berpijak pada pemikiran dasar Guiraud yang mengganggap bahwa bahasa yang terdapat pada “daerah terbuka” akan lebih cepat berubah daripada bahasa yang terdapat pada “daerah tertutup”. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan konsep mutual intelligibility dari Voegelin dan Harris, yang dibantu dengan penghitungan dialektometri secara permutasi antardesa. Untuk melihat jaringan mata rantai pemahaman timbal-balik antarbahasa atau dialek yang bertetangga digunakan pendekatan Seguy yang menghitung jarak kebahasaan pada semua titik pengamatan tanpa adanya titik uji dan titik acuan.

            Metode yang digunakan adalah metode penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara bertanya langsung berdasarkan daftar tanyaan. Titik pengamatan dalam penelitian ini terdiri atas 237 desa yang terdapat di 17 kecamatan di Kabupaten Tangerang.

            Hasil penelitian menunjukakan bahwa berdasarkan berkas isoglos per medan makna, secara umum, dapat dikatakan bahwa ada medan makna yang dengan jelas memperlihatkan daerah-pakai kosakata dan ada juga yang tidak memperlihatkan daerah-pakai kosakata. Medan makna yang memperlihatkan dengan jelas daerah-pakai kosakatanya meliputi medan makna bagian tubuh, gerak, kerja, kekerabatan, musim, keadaan alam, perangai, mata pencaharian, pakaian, tutur sapaan, dan tutur acuan. Berdasarkan tinjauan penghimpunan isoglos, baik menurut pola penyebaran kosakata maupun medan maknanya, di Tanggerang terdapat tiga daerah-pakai kosakata yang berbeda, yaitu wilayah Tangerang di sebelah tenggara, timur, timur laut dan sebagian utara menggunakan bahasa Melayu; wilayah kedua, yaitu sebelah selatan, barat daya, barat tengah, dan sebagian utara Tangerang menggunakan bahasa Sunda; wilayah ketiga, yaitu sebelah barat laut dan sebagian utara Tangerang menggunakan bahasa Jawa. Di Tangerang masih dapat ditemukan beberapa kosakata arkais  pada kosakata gerak dan kerja. Penghitungan dialektometri pada semua peta leksikal, hasilnya memperlihatkan kesejajaran dengan hasil penghitungan dialektometri medan makna bagian tubuh serta kerja. Di wilayah Tangerang terdapat dua daerah-pengaruh, yaitu daerah-pengaruh Jawa  (pemakaian sejumlah kosakata Jawa di luar daerah-pakai yang melebar ke arah selatan dan timur Tangerang) dan daerah-pengaruh Melayu (pemakaian sejumlah kosakata Melayu di luar daerah-pakai yang melebar ke arah barat Tangerang).  (es)