Pemetaan dan Distribusi Bahasa-bahasa di Tangerang

Multamia Retno Mayekti Tawangsih Lauder

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan daerah-pakai kosakata ragam lisan bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu di Tangerang; menerapkan dialektometri (Séguy 1972 dan Guiter 1972) untuk menghitung jarak kosakata antara titik-titik pengamatan di seluruh Tangerang; dan menghasilkan program komputer untuk pemetaan bahasa. Titik pusat perhatian yang dicurahkan pada unsur leksikon ragam lisan berakibat langsung pada daftar tanyaan, yang disusun berdasarkan medan makna (Pop 1950; Kurath 1972; Healy 1975; dan Ayatrohaedi 1979), yang harus dibentuk sebagai alat penjaring informasi penelitian ini. Daftar tanyaan itu terdiri atas 671 tanyaan leksikal, 29 tanyaan kalimat, dan 52 tanyaan tingkat tutur.

Dalam penelitian itu ditemukan bahwa berdasarkan letak geografis Tangerang, dapat diduga bahwa daerah-pakai bahasa Melayu berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta; daerah-pakai bahasa Sunda berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor; dan daerah-pakai bahasa Jawa berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang bagian Utara dan beberapa pencilan, yaitu desa yang cenderung menggunakan kosakata yang berbeda dari desa sekitarnya, meskipun berada di dalam satu daerah-pakai kosakata. Di Tangerang masih dapat ditemukan beberapa kosakata yang dapat dianggap arkais. Kata yang sekarang sudah jarang atau tidak digunakan lagi di daerah perkotaan ternyata masih dapat ditemukan jejaknya di daerah Tangerang karena di Tangerang digunakan kosakata yang berasal dari bahasa Sunda dan bahasa Jawa, bukan berarti bahwa Tangerang merupakan wilayah yang menjadi pusat kerajaan atau ibu kota negara. Atas dasar itu, Tangerang dapat dianggap sebagai wilayah “penerima” dan “penyimpanan” kosakata dari wilayah pusat bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Pada daerah-pakai kosakata bahasa Melayu ditemukan dua subdialek, yaitu subdialek Melayu-Gunung atau Melayu-Benteng di sebelah Utara Terusan Mokervaart dan subdialek Betawi-Ora di sebelah Selatan Terusan Mokervaart. Berdasarkan peta bahasa yang ada, selain desa Sudimara yang memakai Betawi Ora, desa di sekitar bagian tenggara kabupaten, seperti desa Pondokpucung, Lengkonggudang, Serua, Pamulang, Jurangmangu, dan Rempoa, juga menggunakan subdialek Betawi Ora.