Kelahiran Jaka Tarub dalam Teks Babad: Kajian Resepsi, Intertekstual, dan Suntingan Teks

Sri Haryatmo

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui resepsi penyalin (pengarang babad) terhadap kisah kelahiran Jaka Tarub dalam Babad Tanah Jawi (BTJ); (2) memahami makna cerita kelahiran Jaka Tarub versi Seh Maulana Maghribi. Untuk mencapai tujuan itu, digunakan dua teori, yaitu resepsi dan interteks. Teori resepsi dimaksudkan untuk mengetahui sambutan pengarang terhadap kisah kelahiran Jaka Tarub yang dipandang memiliki kelemahan. Sementara itu, teori interteks dimaksudkan untuk memahami teks babad itu dalam kaitannya dengan teks sebelumnya sebagai hipogram.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah kelahiran Jaka Tarub dalam babad versi lama (BTJ) memiliki kelemahan karena Jaka Tarub dilahirkan dari keluarga rakyat biasa. Oleh karena itu, dalam melegitimasi kekuasaan raja dalam babad versi baru (Babad Demak), dikisahkan bahwa Jaka Tarub sebagai keturunan Seh Maulana Maghribi dan Prabu Brawijaya. Upaya legitimasi itu terlihat pada perubahan status sosial dan kesaktian tokoh. Perubahan status sosial tokoh terlihat pada tokoh dalam BTJ yang berkelas sosial bawah diubah menjadi tokoh kelas sosial atas. Misalnya, tokoh Sang Rara diubah menjadi Dewi Rasawulan, tokoh Ki Jaka diubah menjadi tokoh Seh Maulana Maghribi, dan tokoh Ki Ageng Kembang Lampir diubah menjadi tokoh Kangjeng Rasul. Untuk memahami makna kelahiran Jaka Tarub, pengarang menghubungkannya dengan cerita kelahiran Anoman dalam wayang sebagai hipogram. Jika tokohnya disejajarkan, tokoh Jaka Tarub mengacu pada tokoh Anoman, Seh Maulana Maghribi mengacu pada Batara Guru, dan Rasawulan mengacu pada tokoh Anjani. Di samping itu, pola cerita dalam babad memiliki kesamaan dengan pola cerita dalam wayang.