Judul: Sastra Lisan Minangkabau: Tradisi Pasambahan pada Upacara Kematian

Penulis: Syamsuddin Udin, Khaidir Anwar, Mursal Esten, dan kawan-kawan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendapat teks pasambahan upacara kematian yang lengkap serta deskripsi mengenai latar belakang sosial budaya masyarakat, latar, ketentuan tata cara upacara pasambahan,unsur susastra, seperti pantun, pepatah, petitih. Teori yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada pendapat Wellek (1948:89) dan Robson (1978:10). Metode yang digunakan adalah metode deskriprif dan menggunakan teknik pengumpulan data dengan studi pustaka, observasi, perekaman, wawancara, dan pencatatan. Pasambahan upacara kematian yang berkembang dari masa ke masa merupakan tradisi lisan yang mengandung nilai sastra. Kajian nilai terlihat pada aspek seremonial upacara serta nilai keindahan yang penuh simbolik. Pasambahan kematian yang dikelompokkan atas pasambahan kematian anak-anak, orang dewasa, orang tua, kakak, orang tua, mamak penghulu, dan penghulu dapat dikaji unsur sastranya dari keterkaitannya dengan nilai kehidupan yang simbolik dan metaforik. Pasambahan kematian anak-anak, orang dewasa, dan orang tua dilakukan di rumah, yaitu (a) pasambahan melakukan kain kafan dan (b) pasambahan pengembalian bakul (tempat kain kafan) dan (c) pasambahan adat taragak takana dilakukan di pemakaman. Dalam upacara kematian penghulu dipasang peralatan merawa (kuning, hitam, dan merah) di muka rumah dan jalan, payung kuning yang di bawahnya digelar tikar, serta dipasang 2—4 buah piring untuk menating adat. Kematian orang awam tidak memerlukan merawa, hanya payung (tidak kuning) dan tikar yang dimunculkan. Setiap anggota masyarakat akan selalu berpartisipasi dalam upacara kematian sesuai dengan hubungan kekerabatannya dengan mendiang.