Keutuhan Dan Perkembangan Tema Novel Y.B. Mangunwijaya

Saksono Prijanto

Tulisan ini membahas trilogi karya Y.B. Mangunwijaya yang terdiri atas Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Trilogi karya itu melukiskan peristiwa pada masa kejayaan sampai masa kejatuhan Kerajaan Mataram, yaitu Novel Roro Mendut dalam masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, novel Genduk Duku dalam masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, dan novel Lusi Lindri pada masa pemerintahan Amangkurat I.

Analisis penelitian ini bertujuan menemukan (1) persamaan struktur, (2) perkembangan struktur, dan (3) gagasan yang terkandung dalam trilogi novel. Untuk mencapai tujuan itu, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semiotik menurut teori Ferdinand de Saussure. Selain itu, juga diterapkan teori sintaksis naratif (Greimas), teori semantik naratif (Todorov), dan teori isotopi (Greimas).

Hasil analisis membuktikan bahwa ketiga novel itu memiliki keutuhan sebagai trilogi, baik dari unsur sintaksis naratif maupun semantik naratif. Di samping itu, setiap novel secara tema memiliki perkembangan gagasan. Pokok permasalahan novel Roro Mendut bersifat individual (konflik pribadi antara Roro Mendut dan Tumenggung Wiraguna). Pokok permasalahan novel Genduk Duku melukiskan penderitaan Genduk Duku, yang dianggap sebagai metafor kaum kecil yang tidak berdaya. Pokok permasalahan novel Lusi Lindri mencerminkan idealisme Lusi Lindri terhadap situasi dan kondisi sekitarnya.