Pandangan Dunia Darmanto Jatman

Puji Santoso

Abstrak Penelitian ini mengungkap dan mendeskripsikan representasi pandangan dunia Darmanto Jatman tentang masalah dasar kehidupan yang tersirat dan tersurat dalam karya puisi yang ditulisnya. Pandangan penyair yang tersirat atau tersurat dalam karya sastranya itu meliputi pandangan tentang masalah maut, tragedi, cinta, harapan, kekuasaan, loyalitas, makna dan tujuan hidup serta hal-hal yang bersifat transendental dalam kehidupan manusia.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis dengan teknik yang digunakan adalah analisis teks, yaitu menganalisis teks-teks yang dijadikan sampel beberapa puisi Darmanto Jatman. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu dengan teori mimetik atau mimesis yang merujuk pada pendapat Abraham (1980).

Simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bahwa kedelapan masalah dasar kehidupan yang tertuang dalam sajak-sajak yang ditulis Darmanto Jatman tidak jauh berbeda dengan pandangan dunia yang telah dikemukakan oleh pengarang lain pada umumnya, terutama dari pandangan Nasrani dan Jawa. Kematian atau maut bagi Darmanto Jatman adalah jalan untuk mencapai “Kemerdekaan”. Tragedi atau bencana adalah irama kehidupan yang silih berganti. Cinta adalah tenaga moral manusia yang mampu mendekatkan satu rasa atau perasaan manusia dengan mahluk yang lain agar terasa lebih intim. Harapan adalah optimisme hidup. Kekuasaan bermula dari kekuasaan Tuhan yang lalu dipinjamkan kepada manusia. Loyalitas adalah kesetiaan yang tulus dan ikhlas. Makna dan tujuan hidup adalah kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Hal-hal yang transsendental adalah sesuatu yang berada di luar kekuasaan manusia. Delapan masalah dasar kehidupan manusia, direpresentasikan dalam karya Darmanto Jatman melalui lakuan tokoh yang telah tercatat dalam sejarah keimanan (terutama tokoh-tokoh dalam agama Nasrani). Ungkapan-ungkapan puitisnya disampaikan dalam berbagai variasi/ragam bahasa: ada Jawa, Ingris, Cina, Perancis, Sangsekerta atau Jawa Kono, dan bahasa Indonesia.