Keterlibatan Tokoh Utama Bawuk Dan Kubah Dalam Peristiwa

Prih Suharto

Perebutan kekuasaan yang terjadi di pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 (sering disebut G-30 S/PKI) dan akibatnya, kehancuran Partai Komunis Indonesia (PKI), menjadikan banyak orang terbunuh, terutama di Jawa dan Bali. Perkiraan jumlah yang terbunuh berkisar 78 ribu sampai dengan satu juta. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang tidak seharusnya terbunuh.

Tesis ini menganalisis Bawuk (ditulis Umar Kayam tahun 1975) dan Kubah (ditulis Tohari tahun 1980). Kedua novel itu bercerita tentang Gestapu. Tujuan tesis ini adalah untuk mengungkapkan potret mengapa seseorang (di sini protagonis cerita) yang diklaim terlibat atau tidak dalam peristiwa semacam itu sering dikatakan sebagai salah satu dari tragedi terbesar abad ini.

Tesis ini menggunakan pendekatan paradigma sintagmatik sebagai kerangka teori. Pendekatan itu dipilih karena cerita dapat dibaca dengan hati-hati sehingga dapat diketahui tokoh protagonis dan tokoh lainnya dari waktu ke waktu sampai dia dianggap terlibat Gestapu.

Dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa lingkungan kedua protagonis itu berbeda. Dapat dikatakan pula bahwa Bawuk (protagonis Bawuk) terlibat hanya karena dia berusaha mengabdi kepada suaminya (Hasan, aktivis PKI). Namun, di sisi lain, suaminya diklaim sebagai buron politik. Sementara itu, lingkungan Karman (protagonis Kubah) lebih diakibatkan oleh skenario PKI untuk merekrut dia sebagai kader. Perekrutan Karman membuatnya dikelilingi masalah, apakah sebagai seorang laki-laki yang tidak dapat menikahi wanita yang dicintainya (Rifah, anak perempuan Haji Bakir) atau sebagai anggota kelas bawah yang memiliki konflik dengan Haji Bakir, seorang yang berasal dari kelas yang lebih tinggi.