Judul: Pelanggengan Kekuasaan: Analisis Struktur Teks Dramatik Lakon Semar Gugat Karya N. Riantiarno

Penulis: Agus Sri Danardana

Subjek: Kesusastraan Indonesia-Analisis Teks

Jenis: Tesis

Penerbit: Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Imdonesia

Tahun: 2003

Abstrak

Tesis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tokoh (dan penokohan) Semar dalam Semar Gugat; memperoleh suatu pemahaman atas tokoh semar (dan tokoh lainnya) dalam teks lakon Semar Gugat; dan mengungkap makna tema yang terkandung dalam Semar Gugat. Penelitian lakon yang menqambil latar dan tokoh dari dunia pewayangan, seperti Semar Gugat, penting bagi perkembangan ilmu susastra. Dengan demikian, penelitian terhadap lakon Semar Gugat karya N. Riantiarno, dalam hubungannya dengan tokoh semar sebagaimana yang terlihat di dalam lakon-lakon wayang yang menjadi sumber penciptaannya, menjadi penting karena dapat digunakan untuk mengetahui derajat pemahaman dan sikap sastrawan (dalam hal ini N. Riantiarno) atas kekayaan tradisi yang dimilikinya.

            Agar memperoleh pemahaman yang baik, aspek ekspresif dan aspek estetis yang terdapat dalam lakon Semar Gugat akan dianalisis dan diinterpretasikan. Artinya, analisis yang dilakukan akan lebih diarahkan pada signifikasi karya (lakon Semar Gugat). Untuk dapat memahami seni sepenuhnya sebagai struktur, menurut Teeuw (983:61), harus diinsyafi cirri khasnya sebagai tanda (sign).  Selanjutnya, tanda itu baru mendapat makna sepenuhnya lewat persepsi seorang pembaca. Oleh karena itu, penandaan structural dan semiotic—yaitu ilmu yang mempelajari ilmu tanda; di dalam semiotika dipelajari sistem-sistem, kode, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda mempunyai makna—digunakan dalam penelitian ini. Pendekatan struktural difokuskan pada analisis tekstual terhadap unsur-unsur teks lakon  semar Gugat.  Pendekatan semiotika difokuskan pada analisis tanda-tanda yang terdapat pada tokoh dan penokohan serta alur dan pengaluran dalam Semar Gugat.

            Dilihat dari struktur teks dramatiknya, lakon Semar Gugat memiliki cirri-ciri sebagai berikut. (1) Wujud atau bentuk teks dramatik lakon SG dibangun tidak hanya melalui teks pokok (houpttext), tetapi juga melalui teks samping (nebentext). Ia dibangun tidak hanya melalui adegan-adegan dialog antartokoh, tetapi juga melalui adegan-adegan nondialog.

Tokoh-tokoh (dan latar) dalam lakon SG adalah tokoh-tokoh (dan latar) lakon wayang yang watak, karakter, dan perilakunya “dicetak” mengikuti logika dan estetika wayng. (2) Dialog dan petunjuk pemanggungan teks dramatik lakon SG tidak terkesan “cerewet” dan “bawel”. Sebagai lakon yang memanfaatkan mitologi wayang, lakon SG tidak memerlukan deskripsi tokoh dan latar secara detail sebagai penunjang dialog. Artinya, meskipun tidak diberi petunjuk pemanggungan yang lengkap dan rinci, dialog-dialog yang dilakukan tokoh-tokohnya tetap terkesan logis dan wajar. Ketidakeksplisitan itu juga berfungsi untuk membentuk suasana teatrikal sehingga menjadikan lakon SG benar-benar sebagai jenis drama pantas. Dengan kata lain, lakon SG menonjolkan fantasinya tidak semata-mata hanya melalui dialog-dialog, tetapi juga melalui adegan-adegan teatrikal sehingga konvensi mapan hubungan antara tokoh dan pembaca dapat disimpangkan. Di samping dpat memberikan suasana humor, penyimpangan juga dapat untuk mengundang pembaca bertanya-tanya. Dengan demikian, diharapkan pembaca (penonton) lebih terlibat secara aktif dalam proses pemebrian makna. Hal ini sejalan dengan gagasan alienasi.

            Sebagai karya adaptasi (dari cerita wayang), sekurang-kurangnya lakon SG memiliki dua keuntungan. Dilihat dari segi pembaca/penonton, lakon SG mudah dipahami karena masyarakat sudah mengenal cerita wayang sebelumnya. Sementara itu, dilihat dari segi pengarang, lakon SG dapat mengemukakan apa pun sesuai dengan keinginannya, tanpa kekhawatiran mendapat sensor/larangan. Dengan memanfaatkan tokoh dan latar dari dunia wayang, pengarang dapat berkilah bahwa semua peristiwa yang disajikan dalam lakon SG tidak terjadi di dunia “sini”, tetapi terjadi di “dunia” sana. Dengan demikian, pemanfaatan tokoh dan latar dari dunia wayang akan dapat menepis anggapan bahwa cerita (lakon) SG adalah sebuah realita. [AL/a]