Tabu dalam Bahasa Bali

I Ketut Darma Laksana
Bahasa Bali-Sosiolinguistik
Disertasi
Perpustakaan Badan Bahasa
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Linguistik
2003

Disertasi ini bertujuan mengumpulkan, memerikan, dan menjelaskan data tabu dalam bahasa sebagaimana yang digunakan oleh masyarakat Bali sebagai modelnya. Tujuan khusus penelitian ini adalah 1) untuk memperoleh gambaran mengenai cara orang Bali mengelakkan tabu bahasanya; 2) untuk mengungkapkan alas an atau pandangan orang Bali mengapa tabu bahasa itu dilanggar, jika dilanggar apa fungsinya, dan sanksi apa yang dikenakan pada pelanggar; 3) untuk mengungkapkan kaitan antara kelompok-kelompok masyarakat Bali yang diteliti dan pelanggaran sumpah serapah yang ditabukan. Kajian tabu dalam bahasa Bali ini bertolak dari masalah “bagaimana tabu dalam kebudayaan Bali diwujudkan dalam tingkah laku verbal”.  Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) teori tabu oleh Douglas, (2) teori tentang tabu oleh Frazer, dan (3) teori tentang tabu (sumpah serapah) oleh Montagu.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah bahasa Bali yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari ((bahasa Bali lumrah), sedangkan metode pengumpulan data yang diterapkan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Dalam pembahasan, analisis data pun dipilah menjadi analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Data tabu bahasa yang dianalisis secara kualitaitf adalah nama dan kata-kata tertentu yang ditabukan dan sebagian sumpah serapah yang ditabukan. Salah satu langgaran tabu nama disebabkan oleh ketakteraturan. Larangan tabu nama yang disebabkan oleh ketakteraturan dapat menyebabkan bahasa tulah pada pelanggar. Analisis kuantitatif mempunyai tujuan: 1) untuk meninjau pengguanaan tabu dari segi partisipan yang terlibat dalam penggunaan sumpah serapah; 2) untuk mengetahui kekerapan dan atau kemaknawian (kadar) penggunaan sumpah serapah bagi yang menggunakannya, dan sebaliknya; 3) untuk menelaah apakah sumpah serapah yang digunakan oleh penutur berbeda-beda menurut kelompok umur, tingkat pendidikan, kasta, tempat tinggal, dan jenis kelamin. 

           Penerapan teori linguistik antropologi dalam disertasi ini sangat relevan. Kata/ungkapan yang ditabukan muncul pada permukaan sebagai bentuk-bentuk linguistik yang berupa majas (metafora dan metonimia), eufemisme, paraphrase, diglosia/alih kode, dan teknonim. Penyebutan nama dan kata-kata tertentu yang ditabukan dilarang dalam masyarakat Bali. Langgaran tabu seperti tabu menyebut nama orang tua dan kerabat lainnya dapat mendatangkan bencana yang disebut tulah, misalnya pelanggara akan mengalami nasib sial dalam hidupnya. Nama orang yang meninggal juga ditabukan penyebutannya. Ada sebutan lain untuk itu, yaitu petala ‘sudah meninggal tetapi belum diabenkan’ dan prewayah ‘sudah meninggal dan telah diabenkan’. Pelanggaran yang mungkin terjadi dapat mendatangkan bencana yang lebih berat daripada sekadar nasib sial.

           Nama lainnya yang terpenting untuk dielakkan penyebutannya—meskipin tidak bersifat permanen—adalah nama tikus dan nama cecak. Tikus (bikul) memperoleh julukan jero ketut dan cecak (cecek) memperoleh julukan Sang Hyang Aji Saraswati. Langgaran penyebutan nama binatang tersebut secara terus menerus pada saat-saat tertentu dapat menimbulkan kegelisahan hati dan rasa bersalah.

            Berdasarkan analisis kuantitatf dapat disimpulkan sebagai berikut. Pada latar dalam keluarga, generasi muda (lebih kurang 30 tahun) lebih sering mengucapkan sumpah serapah daripada generasi yang lebih tua. Pada latar luar keluarga, generasi muda juga lebih sering menggunakan sumpah serapah daripada yang lebih tua. Responden yang tidak menggunakan sumpah serapah, pada latar dalam keluarga, presentasi yang paling tinggi adalah alas an rasa malu dan takut. [ALOY/a]