Tiga Karya Penyalin Betawi Muhammad Bakir: Analisis Struktur Dan Makna

Mu’jizah, Sri Sayekti, dan Zainal Hakim

Penelitian ini bertujuan untuk memahami tiga karya Muhammad Bakir Hikayat Nakhoda Asyik, Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak dan Hikayat Sultan Taburat II melalui penelitian struktur ceritanya. Dari penelitian struktur cerita tersebut dapat terungkap makna yang ingin disampaikan pengarang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi pustaka. Kerangka teori yang digunakan adalah teori strukturalisme yang merujuk pada pendapat Teeuw (1984), Wellek dan Warren (1989), dan Sudjiman (1988).

Simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, antara lain; (1) dalam Hikayat Nakhoda Asyik ada hal yang menarik dari struktur ceritanya, yaitu nama tokoh yang dimunculkan sudah menggambarkan karekter sang tokoh, begitu juga dengan latarnya. Nama-nama tempat yang digunakan sudah menggambarkan suasana tempat. Gaya penyampaiannya sangat humoris dan menggunakan bahasa Betawi sebagai sarana; (2) dalam Hikayat Merpati Emas dan Merpati Perak ajaran moral yang muncul bahwa kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi penderitaan akan membuahkan kebahagiaan. Hal yang penting dalam hikayat tersebut adalah pelukisan tokoh yang hidup di istana antah berantah (hikayat klasik) dalam bahasa yang ditrunjukan kepada pembaca, yang seolah-olah sudah akrab dikenal pengarang yang rata-rata dari lingkungan bawah; (3) dalam Hikayat Sultan Taburat II hal yang paling penting adalah pergantian nama seorang hulubalang sehingga berhasil menemukan kembali suatu pusaka. Pelukisan tokoh dan paparan alur yang ditunjukan kepada pembaca disampaikan dengan bahasa yang popular pada zamannya.