Judul: Bahasa Ormu, Kayu Pulau, dan Tobati di Jayapura, Papua: Tinjauan Historis Komparatif

Penulis: Suharyanto

Subjek: Bahasa Ormu, Papua-Historis Komparatif

Jenis: Tesis

Penerbit: Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Tahun: 2009

Abstrak

Tesis ini mengangkat tiga bahasa Austronesia di Jayapura, Papua sebagai objek penelitian. Ketiga bahasa tersebut adalah bahasa Ormu, Kayu Pulau, dan Tobati. Selain ketiga bahasa tersebut, dalam analisis kuantitatif juga disertakan dua bahasa non-Austronesia yang bertetangga dengan ketiga bahasa tersebut sebagai bahasa pembanding. Kedua bahasa non-Austronesia tersebut adalah bahasa Sentani dan bahasa Nafri. Dari sisi aspek kebehasaan yang dikaji, penelitian ini hanya membatasi diri pada tataran fonologi.

            Tujuan penelitian ini adalah untu (1) membuktikan bahwa bahasa Snetani dan Nafri sementara ini dikelompokkan ke dalam kelompok bahasa-bahasa non-Austronesia benar-benar berada di luar kelompok bahasa berkerabat Ormu-Kayu Pulau-Tobati, (2) Mengelompokkan secara genetis bahasa Ormu, Kayu Pulau, dan Tobati sebagaimana tercermin dalam diagram pohon kekerabatan berdasarkan evidensi kuantitatif dan evidensi kualitatif, (3) merekonstruksi fonem-fonem protobahasa Jayapura sebagai bentuk tua yang dihipotesiskan menurunkan fonem-fonem pada bahasa Ormu, Kayu Pulau, dan Tobati. Pengelompokan genetis dapat dilaksanakan dengan pendekatan kuantitatif dan juga kualitatif. Melalui pendekatan kuantitatif pengelompokan didasarkan pada bukti-bukti kuantitatif yang berupa persentase persamaan kata-kata kognat, sedangkan melalui pendekatan kualitatif pengelompokan didasarkan atas bukti-bukti kualitatif yang berupa inovasi bersama secara eksklusif. Pendekatan kuantitatif dikasanakan dengan metode leksikostatistik dan pendekatan kualitatif dilaksanakan dengan metode rekonstruksi.

            Bahasa Ormu (Or), Kayu Pulau (KP), dan Tobati (Tb) yang wilayah pakainya terdapat di Kabupaten Jayapura, dan Kota Jayapura, Provinsi Papua merupakan anggota satu kelompok bahasa kerabat yang disebut kelompok bahasa Jayapura. Sementara itu, bahasa Sentani hanya dipertalikan dengan kelompok bahasa Jayapura oleh persentase persamaan kognat sebesar 4,47%, sedangkan bahasa Nafri sebesar 6,47%.  Kelompok bahasa Jayapura ini, baik berdasarkan bukti kuantitatif maupun kualitatif membentuk simpati bipartit yang terdiri dari subkelompok bahasa KT pada simpai yang satu dan bahasa Or pada simpai yang lain. Selanjutnya subkelompok bahasa KT membentuk simpai bipartite yang beranggotakan bahasa KP pada simpai yang satu dan bahasa Tb pada simpai yang lain. Secara skematis pengelompokan bahasa sekerabat di jayapura ini dapat digambarkan dalam diagram pohon.

            Bahasa-bahasa anggota kelompok bahasa Jayapura secara kuantitatif dapat dimasukkan dalam keluarga bahasa yang sama. Bahasa-bahasa tersebut dipertalikan oleh persentase persamaan kognat sebesar 44,04%. Sementara itu, bahasa-bahasa anggota subkelompok KT dipertalikan oleh persentase persamaan kognat sebensar sebesar 53,09%. Secara kualitatif bukti-bukti pengelompokan yang diperoleh tidak bertentangan dengan bukti kuantitatif. Bukti penyatu kelompok bahasa Jayapura berupa pengekalan sejumlah protofonem POKT (proto-Jayapura) pada bahas Or dan PKT. Kelompok bahasa Jayapura memiliki sejumlahj protofonem. Protofonem tersebut terdiri dari tujuh vikal, yaitu i, u, e, o, a, ə, da, c; 19 protofonem. Meskipun Or, KP dan Tb secara kuantitatif dan kualitatif dapat dibuktikan sebagai anggota satu kelompok bahasa yang sama namun dalam penelitian ini tidak dapat ditemukan bukti pendukung yang memadai untuk memasukkan kelompok bahasa Jayapura tersebut ke dalam keanggotaan kelompok bahasa Austronesia. [AL/a]