Judul: Ciri Akustik sebagai Pemarkah Sosial Penutur Bahasa Melayu Deli

Penulis: Tengku Syarfina

Subjek: Bahasa Melayu-Fonetik; Bahasa Melayu-Sosiolinguistik

Jenis: Disertasi

Penerbit: Medan: Universitas Sumatera Utara

Tahun: 2008

Abstrak

Disertasi ini bertujuan mendeskripsikan pola intonasi kalimat deklaratif, imperative, interogatif bahasa Melayu Deli (BMD), dan mengidentifikasi ciri akustik yang menandai kelompok social dalam masyarakat Melayu Deli. Di samping itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan ciri akustik yang signifikan menjadi penanda modus, mendeskripsikan nada pembeda modus dan nada distingtif dari nada dasar dari kontur ini.  Durasi bagian tuturan yang membedakan modus dicari dan berapa beda durasi distingtif itu dari durasi silabel pada umumnya. Kemudian dalam penelitian ini juga menghitung intensitas bagian mana di dalam tuturan yang membedakan modus dan berapa beda intensitas distingtif itu dibandingkan dengan intensitas rata-rata dalam tuturan. Penelitian ini mencakupi dua bidang kajian, yaitu kajian fonetik eksperimental dan sosiolinguistik.

            Metode penelitian dalam disertasi ini menggunakan metode eksperimental dan korelasional dan variabel utama penelitian ini adalah ciri  akustik variasi sosiolinguistik. Data yang digunakan dalam penelitian ciri akustik BMD  ini dikumpulkan dengan merekam tuturan BMD dalam tiga modus, yaitu modus deklaratif, interogatif, dan imperatif.  Untuk menguji apakah subjek penelitian dapat diterima sebagai tuturan yang dimaksudkan peneliti, dilakukan validasi instrumen. Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan alat bantu computer dengan program Praat versi 4.0.27. Program ini digunakan oleh para peneliti mutakhir di bidang fonetik eksperimental.

            Hasil analisis ciri akustik  menunjukkan bahwa secara umum frekuensi suara, intensitas suara dan durasi sangat distingtif dalam tuturan BMD. Itu berarti bahwa ciri akustik tuturan BMD menjadi penanda sosial penutur yang terbagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan variabel bebas, seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia, kelas sosial, dan pemakaian BMD. Secara umum, dalam BMD ditemukan ada tujuh alir nada, yaitu (1) alir nada naik, (2) alir nada turun, (3) alir nada naik-turun, (4) alir nada turun-naik, (5) alir nada naik-datar, (6) alir nada data-turun, dan (7) alir nada turun-naik.

            Alir nada naik umumnya terdapat pada konstituen subjek hamper semua modus kecuali subjek dalam modus imperatif dan submodus interogatif informatif dengan mengkale. Alir nada turun umumnya ditemukan pada nada final interogatif kecuali interogatif informatif.  ALir nada naik-turun umumnya terdapat pada konstituen predikat dan keterangan interogatif ekoik. Alir nada ini juga terdapat pada konstituen pemarkah interogatif mengkale. Alir nada naik-datar umumnya pada konstituen predikat dan keterangan interogatif konfirmatoris kan. Selain itu, alir nada ini juga terdapat pada konstituen predikat mengkale. Alir nada datar-turun hanya terdapat pada konstituen subjek dan predikat pada modus imperatif. Akan tetapi, alir nada tunun-naik umumnya terdapat pada konstituen subjek interogatif mengkale dan keterangan imperatif.  Pada variabel jenis kelamin, ketika perempuan berbicara, julat nada, nada dasar, dan nada final lebih tinggi daripada tuturan laki-laki, tetapi tidak ditemukan perbedaan pada ekskursi nada final. Secara umum, durasi deklaratif lebih besar dibandingkan dengan durasi interogatif, sedangkan durasi deklaratif hamper sama dengan durasi imperatif.  Hal ini ditemukan pada variabel jenis kelamin, generasi, kelas sosial, pendidikan, dan pemakaian BMD. Penelitian ciri akustik sebagai pemarkah sosial penutur BMD ini,  merupakan upaya perekaman bahasa daerah di Indonesia yang kian terdesak oleh perubahan system komunikasi. Selain bermanfaat bagi pemertahanan bahasa, penelitian ini juga merupakan upaya kodifikasi bahasa Melayu yang juga sudah semestinya mencakupi aspek kelisanan. [AL/a]