Judul: Hibrida Lokal-Global pada Politik Komodifikasi Budaya Serentaun Rekonstruktif, Upacara Tahunan Masyarakat Sunda, di Sindangbarang Kabupaten Bogor

Penulis: Dina Amalia Susamto

Subjek: Etnografi

Jenis: Tesis

Penerbit: Program Studi Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (belum diterbitkan)

Tahun: 2011

Abstrak

Serentaun Rekonstruktif merupakan upacara seremonial tahunan masyarakat Sunda di Sindangbarang, Kabupaten Bogor. Upacara ini berasal kebudayaan masyarakat agraris, yang direvitalisasi untuk dikomodifikasikan dalam pembangunan pariwisata budaya.

Persoalannya adalah Serentaun Rekonstruktif tidak benar-benar budaya lokal. Politik komodifikasi budaya dalam ruang global telah menghibridakan lokal-global, sehingga merusak otoritas kemurnian keduanya. Lokal yang terikat lokalitas geografis yang sempit dan kesakralan tradisi menjadi lokalitas imajiner dalam ruang global melalui teknologi informasi. Global yang menguniversalkan semua menjadi produk di bawah pasar modal menjadi ruang global yang dimanfaatkan untuk merepresentasikan identitas budaya Sunda. Ruang ketiga lokal-global menghasilkan hubungan tarik menarik yang akhirnya cenderung pada keuntungan pihak yang mempunyai modal.

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa Serentaun Rekonstruktif yang menghibridakan budaya lokal-global telah merusak otoritas kemurnian lokal dan global yang universal di bawah modal. Penelitian ini juga membuktikan bahwa gerakan politik ekonomi yang mengkomodifikasi budaya tradisional di ranah lokal dalam ruang kapitalisme global menguntungkan pihak transnasional yang memiliki korporasi modal.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggali upacara Serentaun yang telah masuk dalam pasar pariwisata dan hubungannya dengan subjek budaya, sebab penggalian mendalam melihat permasalahan sebagai sesuatu yang lebih kompleks. Hasil akhir penelitian ini membuktikan bahwa hibrida lokal-global telah meruntuhkan lokal-global menjadi tidak kedua-duanya. Ruang ketiga dalam relasi kuasa lokal-global menghadirkan tegangan yang tarik menarik untuk menjadi dominan. Dalam relasi kuasa tersebut pemerintah nasional dan daerah cenderung memberi kesempatan pada korporasi modal transnasional untuk mendapatkan keuntungan. (a)