Judul: Budaya Islam Minangkabau dalam Drama Perang Paderi Karya Wisran Hadi (Sebuah Pendekatan Interkulturalisme Teater)

Penulis: Sahrul N

Subjek: Kesusastraan Indonesia - Interkulturalisme

Jenis: Tesis

Penerbit: Kajian Budaya, Universitas Udayana (belum diterbitkan)

Tahun: 2002

Abstrak

Budaya Islam telah merubah sebagian besar pola pikir orang Minang baik dalam kehidupan secara umum maupun dengan keseniannya. Bisa dilihat pada kesenian tradisional seperti indang, salawat talam, dikia rebana, dan lain-lain yang merupakan bentuk kesenian bernuansa Islam. Empat Lakon Perang Paderi sangat sarat dengan ide-ide yang cemerlang. Tokoh Empat Lakon Perang Paderi sebagai tokoh sejarah Indonesia dilihat oleh Wisran Hadi bukan sebagai seorang malaikat atau Nabi atau Rasul. Ia tetap merupakan manusia yang punya kelebihan dan kekurangan, punya keunikan-keunikan manusiawi. Ia punya rasa gelisah, cemas, tak berdaya, ragu dan bahkan bisa juga nekad. Islam yang berkembang dalam naskah ini terdiri dari empat periode yaitu Islam tradisional, Islam Wahabi, Islam Demokratis, dan Islam di bawah penjajahan. Ketiga periode ini memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Ini jelas terlihat dalam naskah ini.

Interkulturalisme dalam teater modern di Indonesia sudah sangat lama dikenal. Budaya bangsa lain telah berpengaruh pada teater Indonesia sejak tahun 1928. Mulai dari era Komedi Bangsawan, Komedi Stamboel, Dardanela hingga zaman puncak pembaharuan yang dimotori Rendra, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Teguh Karya, Suyatna Anirun, dan Wisran Hadi.

Teater memiliki fungsi sebagai pengisi ruang kreatif, ruang imajinatif, ruang ekspresif, dan ruang komunikasi. Teater merupakan proses simbolik bahasa verbal dan bahasa tubuh. Penonton tidak seluruhnya menyadari bahwa sebuah permainan merupakan seperangkat sajian yang fiktif dan simbolik. Seorang aktor adalah orang yang melambangkan orang-orang lain, baik yang nyata maupun yang imajiner.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara kualitatif interkulturalisme teater Empat Lakon Perang Paderi karya Wisran Hadi. Buku ini memuat empat naskah yaitu Perguruan (Tuangku Koto Tuo), Perburuan (Tuangku  Nan Receh), Pengakuan (Tuangku Iman Bonjol), dan Penyeberangan (Sutan Abdul Jalil). Pelaksanaan penelitian ini dilandasi oleh metode dan teknik penulisan kualitatif, yaitu metode dan teknik yang merupakan strategi untuk mendapatkan data atau keterangan deskreptif mengenai makna dari suatu benda, tindakan, dan peristiwa-peristiwa yang terkait dalam naskah drama.

Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa kisah Empat Lakon Perang Paderi karya Wisran Hadi sarat dengan intrik politik dari masing-masing tokoh untuk mempertahankan eksistensi dirinya. Hal ini sebetulnya yang diinginkan Belanda sehingga mereka tidak perlu lagi bersusah payah mengadu domba rakyat Minangkabau. Belanda hanya menerima hasil bersih dari perpecahan sesama rakyat Minangkabau. Cerita ini juga menggambarkan bahwa orang Minangkabau sulit untuk disatukan setelah paderi kalah. (a)