Judul: Pemikiran Suparta Brata dalam Karya-Karyanya

Penulis: Ratun Untoro

Subjek: Kepengarangan

Jenis: Tesis

Penerbit: Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tahun: 2006

Abstrak

Tesis ini bertujuan mengungkap ide, pemikiran dan kehidupan pribadi Suparta Brata yang menjadi inspirasi dalam aktivitas sastranya.      Pengalaman Suparta Brata yang muncul dalam karya sastranya itu menggeser atau mengangkat personal troble menjadi public issues. Suparta Brata adalah seorang priyayi bangsawan, sehingga perlu dilihat bagaimana cara ia memandang priyayi dan nonpriyayi serta hubungan kedua kelas sosial  itu dalam karya-karyanya. Beberapa karya Suparta Brata memperlihatkan adanya kedekatan hubungan antara fiksi dan nonfiksi, antara realita dalam karya sastra dengan realita dalam kenyataan. Pembaca diajak menikmati pengalaman hidup Suparta Brata dalam hal politik, tradisi, sosial, sastra, dan kehidupan  pribadinya melalui karya sastranya.

            Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk (1) melacak, memahami, dan mengungkapkan ide dan pikiran pengarang yang tertuang dalam karyanya, (2) mengungkapkan dan menjelaskan kemungkinan misi yang diperjuangkan Suparta Brata melalui karyanya, dan (3) meningkatkan apresiasi terhadap karya-karya Suparta Brata. Penelitian ini tidak mengungkapkan latar belakang sosiobudya yang mempengaruhi pengarang, tetapi melihat bagaimana ide dan pikiran pengarang dalam menanggapi sebuah peristiwa sosial. Dengan demikian, penelitian ini sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa pandangan penulis tidak selalu mewakili suara suatu kelompok sosial. Berdasar pda hal itu, penelitian ini tidak menganggap bahwa Suparta Brata merupakan suara suatu kelompok sosial, tetapi merupakan ide dan pikirannya sendiri dalam melihat sebuah peristiwa sosial sehingga pendekatan dengan menggunakan teori ekspresif.

            Penelitian ini menggunakan teori ekspresif sesuai dengan pendapat Abrams (1979:6). Oleh karena itu, teknik dan midel analisisnya sebagai berikut. Pertama, memahami karya-karya pengarang dengan memperhatikan unsur-unsur pembentuk cerita yang membentuk struktur teks yang utuh dan bulat. Kedua, menganalis tokoh. Ketiga, melihat fungsi sruktur teks dalam kaitannya dengan intertekstualitas dalam hal ini adalah biografi pengarang dan karya nonfiksinya.

            Hasrat Suparta Brata mengarang telah terlihat sejak kecil, bahkan sebelum  ia mampu membaca dan menulis. Pendidikan Suparta Brata jauh dari persiapan ideal untuk menjadi seorang pengarang. Namun, ia mampu menghasilkan banyak karya sastra dan beberapa di antaranya mendapat penghargaan. Pemikiran Suparta Brata berdasar pada ideologi priyayi karena kepriyayiannya. Hal itu menjadi ciri utama karya-karyanya (ciri novel priyayi). Ciri menarik novel priyayi adalah priyayi dipertentangkan dengan nonpriyayi dengan kerugian pada pihak nonpriyayi dan penekanan pada keistimewaan dan keunggulan priyayi. Novel jenis ini berekembang pada tahun 1920—1930-an. Dalam karya-karyanya, Suparta Brata sengaja membuat contoh-contoh kehidupan priyayi dan nonpriyayi. Etika dan norma kehidupan kedua kelas masyarakat itu digambarkan dengan jelas. Selain itu,  ia juga “menghukum” orang-orang yang bertindak tidak sesuai dengan etika dan norma yang berlaku. Suparta Brata adalah pengarang produktif yang mampu mengangkat tuduhan matinya sastra Jawa. Oleh karena itu, karya-karyanya dapat menjadi tolok ukur keberadaan sastra Jawa. Di dalam karya sastra itu juga dapat dilihat gambaran masyarakat Jawa. Tentunya, khalayak ingin melihat gambaran mayarakat Jawa dari berbagai lapisan baik priyayi maupun nonpriyayi yang pada kenyataannya berbeda dengan apa yang dilihat Suparta Brata. Kekhawatiran mnculnya ideologi pengarang yang terlalu dominan dalam kaya sastra adalah pengabaian atau penghapusan konsep atau kenyataan sosial lain. Suparta Brata pernah mengkritik pengarang Jawa yang hanya menceritakan orang miskin, bodoh dan sengsara untuk nonpriyayi, sedangkan kesuksesan, kepandaian, kekayaan, dan keberuntungan untuk priyayi. Namun sebaliknya, ia juga berbuat yang sama ketika menceritakan priyayi dan nonpriyayi dalam karya-karyanya. [AL]