Judul: Pelanggengan Kekuasaan Analisis Struktur Teks Dramatik Lakon Semar Gugat Karya N. Riantiarno

Penulis: Agus Sri Danardana

Subjek: Drama

Jenis: Tesis

Penerbit: Universitas Indonesia, Jakarta

Tahun: 2003

Abstrak

Tesis ini bertujuan untuk (1) memperoleh gambaran tokoh (dan penokohan) semar dalam Semar Gugat, (2) memperoleh suatu pemahaman atas tokoh semar (dan tokoh lainnya) dalam teks lakon Sema Gugat, dan (3) mengungkap makna tema yang terkandung dalam Semar Gugat

            Sebagaimana diutatakan oleh Oemarjati (1971:79), drama dibenihi oleh tara-banding (image) dramatik yang diperoleh dari kehidupan melalui situasi dramatik. Sebagai salah satu bentuk genre sastra, lanjut Oemarjti (1971:79—80), lakon menampilkan dua aspek: aspek ekspresif dan aspek estetis. Aspek ekspresif dapat berupa pengalaman-pengalaman pribadi (pengarang) dan kondisi-kondisi sosial, sedangkan aspek estetis dapat perupa penggunaan citraan dan bahasa. Untuk itu, agar memperoleh suatu pemahaman yang baik, aspek ekspresif dan aspek estetis yang terdapat dalam lakon Semar Gugat akan dianalisis dan diinterpretasikan. Artinya, analisis  yang dilakukan akan  lebih diarahkan pada signifikasi karya.

            Pendekatan struktural dan semiotik—yaitu ilmu yang mempelajari sistem tanda, di dalam semiotika dipelajari sistem-sistem, kode, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda mempunyai makna (Zaimar, 1991:20; Pradopo  (1987:121)—digunakan di dalam penelitian ini. Pendekatan struktural difokuskan pada analisis tekstual terhadap unsur-unsur teks lakon Semar Gugat. Pendekatan semiotika difokuskan pada analisis tanda-tanda (simbolis, indeksikal, dan atau ikonis) yang terdapat pada tokoh dan penokohan (khususnya semar) serta alur dan pengaluran dalam Semar Gugat. Untuk keperluan analisis tanda-tanda ikonik, indeksikal, dan simbolik, penelitian ini akan mengacu pada tipologi Peirce (dalam Zoest, 1993). Sejalan dengan pendekatan struktural dan semiotika yang digunakan, langkah pertama yang dilakukan adalah analisis tekstual terhadap struktur teks dramatik. Langkah kedua adalah analisis semiotik terhadap tanda-tanda ikonik, indeksikal, dan/atau simbolik yang terdapat pada tokoh dan penokohan dalam Semar Gugat untuk memahami makna lakon.

            Lakon SG Semar Gugat adalah salah satu lakon N. Riantiarno yang memanfaatkan unsur-unsur (terutama tokoh dan latar) wayang sebagai pendukung cerita. Dalam pengilustrasian suatu peristiwa atau adegan yang akan atau yang sudah terjadi, misalnya, lakon SG sering menggunakan teknik kisahan/penceritaan tidak langsung, seperti janturan dan pocapan (yang diucapkan oleh dalang) serta kawi dan lagon (yang dibawakan oleh pesinden ‘penyanyi’) dalam wayang. Dilihat dari struktur teks dramatiknya, lakon SG memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

(1) Wujud atau bentuk teks dramatik lakon SG dibangun tidak hanya melalui teks poko houpt text), tetapi juga melalui teks sampling (nebentext). Ia dibangun tidak hanya melalui adegan-adegan dialog antartokoh, tetapi juga melalui adegan-adegan nondialog ; (2) Tokoh-tokoh dan latar dalam lakon SG adalah lakon wayang yang watak, karakter, dan perilakunya ‘dicetak’ mengikuti logika dan estetika wayang; (3) Dialog dan petunjuk pemanggungan teks dramatik lakon SG tidak terkesan ‘cerewet’ dan ‘bawel’. Sebagai lakon yang memanfaatkan mitilogi wayang, lakon SG tidak memerlukan deskripsi tokoh dan latar secara detail dan panjang- lebar sebagai penunjang dialog. Dengan kata lain, lakon SG menonjolkan fantasinya tidak semata-mata hanya melalui dialog-dialog, tetapi juga melalui adegan-adegan teatrikal sehingga konvensi mapan hubungan antara tokoh (pemain) dan pembaca (penonton) dapat disimpangkan. Dalam hal i ni, hubungan antara tokoh (pemain) dan pembaca (penonton) dikejutkan, diputus sementara, agar pembaca lebih aktif dalam proses pemahamannya.

Sesuai dengan temanya,  ketidakberdayaan kaum inferior terhadap kesewenang-wenangan kaum superior, konflik-konflik yang dibangun dalam lakon SG memiliki dua kecenderungan arah. Pertama, konflik-konflik yang mengarah dan berakibat pada keterpurukan Semar, sebagai kaum inferior. Kedua, konflik yang mengarah dan berakibat pada kejayaan dan kehebatan Arjuna-Srikandi, sebagai kaum superior. Tema tersebut mendapatkan bentuknya pada diri dan perjuangan Semar dalam menghadapi sepak-terjang Arjuna-Srikandi. Secara simbolis, pelumpuhan rakat oleh penguasa dalam lakon SG digambarkan dengan pemotongan kuncung Semar oleh Arjuna-Srikandi. Bagi Semar, kuncung ternyata bukan sekadar rambut yang sengaja dibiarkan tumbuh di kepala yang tercukur, melainkan rambut yang menjadi identitas bagi dirinya.

Demikianlah, melalui lakon SG, N. Riantiarno telah berhasil mengadaptasi cerita wayang menjadi sebuah lakon ‘modern’ dengan karakter estetika yang cocok dengan estetika pembaca/penontonnya sehingga mampu menemukan publik teaternya sendiri. Sebagai karya adaptasi (dari cerita wayang), sekuang-kurangnya lakon SG memiliki dua keuntungan, di samping kerugiannya. Dilihat dari segi pembaca/penonton, lakon SG mudah dipahami karena masyarakat sudah mengenal cerita wayang sebelumnya. Sementara itu, dilihat dari segi pengarang (N. Riantiarno) lakon SG dapat mengemukakan apa pun (himbauan, kritikan, kecaman dll.) sesuai dengan keinginannya, tanpa kekhawatiran mendapat sensor/larangan dengan memanfaatkan tokoh dan latar dari dunia wayang,  pengarang  dapat  berkilah bahwa semua peristiwa yang disajikan dalam lakon SG tidak terjadi di dunia “sini”, tetapi terjadi di dunia “sana”. Biasanya, sensor/larangan didasarkan atas anggapan bahwa peristiwa nyata, yang benar-benar terjadi dalam realita. [AL]