Judul: Struktur Sastra Lisan Waropen

Penulis: Aleda Mawene, dkk.

Subjek: Sastra Lisan

Jenis: Laporan Penelitian

Tahun: 1995

Abstrak

Penelitian berangkat dari keinginan mendokumentasikan sastra lisan Waropen karena belum pernah dituliskan dalam bahasa Indonesia. Pendokumentasian dibatasi pada gambaran tentang latar belakang cerita dan pola struktur cerita. Tujuannya untuk menghasilkan dokumentasi sastra lisan Waropen dalam bahasa daerah Waropen kemudian ditranskripsikan menjadi bentuk tertulis dan akhirnya terdokumentasikan sastra lisan Waropen dalam bahasa Indonesia. 

Kerangka teori menggunakan buku Penuntun Cara Pengumpulan Folklor bagi Persiapan dari James Danandjaya (1972). Untuk analisis struktur digunakan satuan operasional yang pernah dipakai Yus Rusyana ketika meneliti sastra Sunda, yaitu dengan menggunakan dichotomy terem (term) dan fungsi (function) seperti dipergunakan Maranda. Terem adalah simbol yang dilengkapi dengan konteks kemasyarakatan dan kesejarahan, yang dapat berupa dramatic personal, pelaku magis, gejala alam, yaitu segala subjek yang dapat berbuat atau melakukan peranan. Model analisisnya menggunakan rumus Levi-Stauss: fx (a) : fx (b) : fx (b) : fa-1 (y). (a) merupakan terem pertama yang menyatakan unsur orisinal,  (b): terem II (mediator), (fx) sebagai fungsi yang memberi kekhasan kepada terem (a), (fy) sebagai fungsi yang bertentangan dengan fungsi pertama, memberi kekhasan kepada terem (b) dalam pemunculannya yang pertama.

Operasional penelitian itu menggunakan metode deskriptif dengan teknik perekaman tuturan informan ke dalam pita kaset kemudian ditranskripsikan ke dalam bahasa daerah Waropen dan selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan bantuan informan. Kriteria informan adalah yang manguasai bahasa daerah Waropen.

Populasi penelitian adalah semua sastra lisan Waropen berbentuk prosa, sedangkan sampel adalah cerita dari desa Nubuai yang sekarang bernama Desa Urei Faisei II, Kecamatan Waropen Bawah. Penelitian ini menghasilkan 20 judul cerita rakyat suku Waropen yang 85 % menggunakan judul dari nama terem tanpa menghiraukan fungsi terem yang negatif atau positif. Tokoh-tokoh dalam cerita adalah manusia biasa dan manusia gaib, manusia super, raksasa, binatang, tumbuh-tumbuhan atau benda-benda, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Penuturan cerita hanya dilakukan oleh marga yang memiliki hak sesuatu atas cerita tersebut. Pendengarnya pun adalah orang-orang yang berhak untuk itu, yakni yang masuk dalam kelompok marga dimaksud. Kesempatan menuturkan ialah pada upacara-upacara adat kematian, di kala istirahat dari bekerja, karena keingintahuan terhadap sesuatu legenda, dan saat sebelum tidur.