Judul: Sastra Lisan Ekagi (Paniai)

Penulis: Dharmojo, dkk.

Subjek: Sastra Lisan

Jenis: Laporan Penelitian

Tahun: 1996

Abstrak

Sastra lisan Ekagi adalah sastra lisan milik masyarakat Ekagi yang mendiami tujuh dari 17 kecamatan di Kabupaten Paniai, terletak di kawasan Teluk Cenderawasih, Papua. Ketujuh kecamatan yang menjadi populasi lokasi penelitian adalah Kecamatan Paniai Timur, Paniai Barat, Agadide, Tigi, Kamu, Mapia, dan Kecamatan Uwapa. Sampel lokasi dipilih satu kecamatan yang dianggap sebagai pusat (sentral) yang paling banyak penutur asli sastra lisan itu. Pengumpulan cerita dilakukan dengan cara sample purporsive, yakni semua cerita yang dapat dikumpulkan oleh siapa saja dan kapan saja sejauh memenuhi kriteria sebagai cerita rakyat Ekagi.

Penelitian ini dilatarbelakangi keinginan untuk mengetahui keberadaan yang sesungguhnya dari sastra-sastra lisan Ekagi di tengah masyarakat pemangkunya, yakni suku Ekagi pada saat ini, sekaligus sebagai tindakan mengatasi kekhawatiran terhadap ancaman kepunahan sastra lisan itu, mengingat arus globalisasi saat ini yang tidak terbendung. Kerangka teori yang digunakan adalah tiga tahapan dalam penelitian lapangan terhadap folklor dari James Danandjaya, yakni (1) tahap penelitian di tempat; (2) tahap penelitian di tempat yang sesungguhnya; dan (3) tahap pembuatan naskah folklor bagi pengarsipan. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan eklektif, yaitu pendekatan gabungan dari sosiologis, historis, dan arketipal atau proses pewarisan budaya masa lampau. Pendekatan yang lebih ditekankan ialah sosiologis karena mengacu pada jenis penelitian yang social sciences research dan humanities research atau penelitian yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan sosial budayanya.  Teknik yang digunakan adalah dengan merekam dengan tape recorder tuturan dari informan ke dalam pita kaset. Karena tuturan dilakukan dalam bahasa daerah maka hasil rekaman itu ditranskripsikan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atas bantuan informan,  dengan menganut prinsip penerjemahan dari Nida dan Taber, yaitu dengan memperhitungkan situasi dan kondisi bahasa penerima serta gaya penceritaannya. Penerjemahan, terutama penyalinan amanat antarbudaya dan atau antarbahasa dalam tuturan gramatikal dan leksikal dengan maksud efek dan wujud, sedapat mungkin tetap dipertahankan sebagaimana ditawarkan Harimurti Kridalaksana, karena seperti dikatakan A.M. Moeliono, tidak mungkin membuat terjemahan kata demi kata di antara bahasa yang berbeda strukturnya jika hasilnya harus dipahami dengan tepat. 

Penelitian mengungkapkan bahwa cerita-cerita rakyat Ekagi sampai saat ini masih hidup dan terus dipergunakan oleh masyarakat pemangkunya, namun kurang diakrabi oleh kalangan muda. Nilai-nilai yang terkandung dalam sastra lisan Ekagi masih relevan dengan keadaan zaman sekarang ini, sehingga perlu diwariskan kepada generasi penerus masyarakat Ekagi. Sastra lisan itu dipergunakan masyarakat Ekagi antara lain untuk mengisi rangkaian upacara adat tertentu dengan judul-judul cerita rakyat tertentu; karena adanya permintaan untuk mengetahui sejarah atau asal-asul sesuatu tempat, fam atau marga suku Ekagi, atau kepahlawanan seseorang; sebagai media untuk mengajarkan moral kepada generasi muda; atau untuk mengisi waktu luang. Cerita-cerita itu erat kaitannya dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial masyarakat Ekagi.

Penuturnya umumnya adalah kaum tua atau separuh baya baik laki-laki maupun perempuan. Waktu penyampaiannya ialah menjelang berlangsungnya upacara adat tertentu, waktu menunggui tanaman di ladang dari gangguan hewan liar, untuk mengisi waktu luang baik siang waktu istirahat maupun malam hari sambil menidurkan anak.

Adapun kedudukan cerita rakyat itu dalam masyarakat Ekagi adalah sebagai institusi dan kreasi sosial, sebagai wadah dan media berbagai kegiatan sosial, seperti pendidikan, adat istiadat, norma susila, ekonomi, dan lain-lain. Sedangkan fungsinya adalah sebagai sistem projeksi, alat pengesahan dari pranata/lembaga-lembaga kebudayaan, alat pendidikan, alat pemeriksa dan pengawas masyarakat, dan lain-lain.

Hambatan yang dihadapi ketika pengumpulan cerita rakyat Ekagi adalah (1) banyaknya ragam bahasa Ekagi yang dipergunakan informan sehingga ragu menentukan satu ragam tersebut; (2) penutur tidak selalu menyebutkan judul cerita dengan alasan yang penting isi atau nilai cerita;  (3) tokoh-tokoh dalam cerita itu umumnya tidak diberi nama, kecuali jenis kelamin usia, atau status keluarga tokoh, misalnya sebagai bapak, ibu, anak, atau pemuda; dan (4) ada cerita yang tidak tuntas dituturkan informan dengan alasan karena pesan orang tua tidak boleh dituturkan.

Penelitian berhasil menjaring 50 judul sastra lisan Ekagi yang terdiri dari legenda, mite, dan dongeng. Ditemukan 15 nilai budaya, masing-masing (1) tanggung jawab dan kasih sayang orang tua; (2) kepahlawanan seseorang; (3) kesabaran, ketabahan, dan ketidakputusasaan; (4) kecerdikan; (5) pengobatan; (6) sikap sopan santun kepada sesama; (7) bersikap lapang dada; (8) menyantuni anak yatim piatu; (9) larangan mencuri; (10) tolong menolong dengan sesama makhluk Tuhan; (11) kepercayaan terhadap adanya kekuatan gaib; (12) ikhtiar dan kerja keras; (13) patuh kepada nasehat orang tua; (14) tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain; dan (15) tidak boleh malas.