Judul: Struktur Sastra Lisan Sentani

Penulis: R. Fatubun, dkk

Subjek: Sastra Lisan

Jenis: Laporan Penelitian

Tahun: 1997

Abstrak

Penelitian dilakukan untuk mengumpulkan cerita rakyat Sentani jenis prosa kemudian menganalisis strukturnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik wawancara dengan informan yang direkam dalam pita kaset. Kriteria informan ialah orang suku Sentani asli yang lahir dan dibesarkan di Sentani, meguasai bahasa Sentani serta pada saat wawancara dilakukan informan merupakan penduduk Sentani.

Landasan teorinya ialah mimetic criticism, obdjective criticism, subdjective criticism, dan pragmatic criticism, dan juga archetypal criticism untuk melihat archetypal characters, situations, symbols dan association bila diperlukan. Pendekatannya mempertimbangkan unsur ekstrinsik.

Penelitian berhasil menjaring sebanyak 26 cerita rakyat Sentani masing-masing dari Sentani Barat, Sentani Tengah, dan Sentani Timur. Cerita dikategorikan menjadi sembilan jenis legenda di antaranya enam legenda lokal dan tiga legenda personal; tujuh lelucon tentang orang pandir, lima dongeng biasa di antaranya satu tentang sihir; lima dongeng binatang di antaranya tiga tentang burung, satu dongeng tentang manusia dengan binatang liar, dan lima dongeng tentang binatang liar.

Tema cerita beragam, masing-masing (1) ketidakpatuhan terhadap aturan atau nasehat akan mendatangkan kecelakaan; (2) mengganggu satwa akan membawa bencana; (3) penipuan akan mengakibatkan ketidaksenangan dan ketidakharmonisan antara sahabat, tetangga, atau masyarakat; (4) tidak baik menghina orang cacad karena mereka juga bisa berguna bagi kita suatu saat; (5) keluguan dapat membawa keuntungan; (6) keteguhan yang tidak beralasan jelas dapat membawa perpecahan; (7) perbuatan jahat mengakibatkan malapetaka pada diri sendiri; (8) menentang kekuasaan lebih tinggi akan mendatangkan bencana; (9) kesombongan akan merugikan diri sendiri; (10) orang kecil perlu diperhatikan karena mereka dapat berguna bagi kita suatu saat; (11) ketidaksetiaan pada teman atau sahabat akan mengakibatkan perpisahan; dan (12) merendahkan sahabat atau orang lain dapat membawa malapetaka. Karena lokasi penemuan cerita yang berbeda-beda maka beberapa cerita yang sama mengalami versi yang berbeda.

Penutur cerita adalah laki-laki dan perempuan dari berbagai status sosial, yaitu tua, muda, petani, ondoafi (kepala suku), dan mahasiswa. Mereka pertama kali mendengar cerita itu dari kakek, nenek, orang tua baik dari dalam lingkup keluarganya maupun di luar keluarga. Semua penutur dapat berbahasa daerah Sentani, bahasa Indonesia, dan sebahagian ada yang dapat berbahasa Inggris. Waktu bercerita dilakukan kapan saja pada waktu senggang. Tujuan bercerita adalah untuk memberi atau menyampaikan informasi tentang lingkungan masyarakat, memberi informasi tentang adat-istiadat setempat, dan menyampaikan ajaran moral. Semua hal itu sesuai dengan yang disampaikan Wiliam R. Bascom. Hambatan-hambatan yang dialami antara lain (1) keragaman dialek Sentani yang mempersulit pemahaman terhadap cerita; (2) adanya cerita yang tanpa judul sehingga harus diberi sendiri judulnya; dan (3) versi kelima tentang terjadinya Danau Sentani tidak jelas penyelesaiannya.