Judul: Struktur Sastra Lisan Biak – Numfor: Prosa

Penulis: R.Fatubun

Subjek: Sastra Lisan

Jenis: Laporan Penelitian

Tahun: 2002

Abstrak

Kajian-kajian tentang Biak-Numfor dalam berbagai aspek, belum banyak, itu pun masih sederhana, kecuali yang dilakukan akhir-akhir ini sudah lebih bagus.Di bidang bahasa sudah ada kajian mengenai fonologi (Fautngil, 1988), morfologi (idem, 1989), dan sintaksis (idem, 1994). Leksikografi dilakukan oleh Soeparno (1975) dan tata bahasa dialek Sordiweri oleh Steinhauer (1985). Selain itu, buku tentang percakapan dalam bahasa Biak dikerjakan oleh Muharamsyah (1975). Laporan tentang sosial budaya, kelompok bahasa, dan agama pernah ditulis oleh Blust (1978), Kamma (1954), Wurm dan Hattori (1982), dan oleh Voorhoeve (1975). Naskah yang berisi ayat-ayat Alkitab dan Nyanyian Rohani pernah ditulis oleh van Hasselt (1932, 1949), GKI Jayapura (1969), Kapissa (1975), dan oleh Lembaga Alkitab Indonesia – LAI (1990). Dalam bidang folklor pernah diadakan sebuah penelitian tentang ungkapan tradisional Biak-Numfor (1985). Di samping itu ada beberapa cerita rakyat yang pernah dimuat seri penerbitan ”Cerita Rakyat Irian Jaya” oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dati I Irian Jaya sejak tahun 1974.

           Namun demikian, kegiatan dalam aspek folklor itu tidak berlanjut sedangkan cerita yang diambil hanya secara selektif dari sejumlah cerita rakyat di daerah Papua secara keseluruhan, yang di antaranya adalah cerita rakyat dari Biak-Numfor. Pendokumentasian cerita rakyat Biak-Numfor secara lebih khusus dilakukan oleh Fatubun, dkk. (2000). Artinya, belum ada kajian khusus mengenai struktur cerita-cerita rakyat Biak-Numfor secara lebih mendalam. Padahal, perlu diungkap tentang bentuk-bentuk struktur cerita rakyat Biak-Numfor, sudut pandang, dan hal-hal arketip (karakter, situasi, simbol, dan lain-lain) dalam sastra lisan itu.

       Penelitian ini menggunakan kerangka teori berdasarkan definisi cerita rakyat dalam Webster’s Encyclopedic Unabriged Dictionary of the English Language yang memberikan rumusan tentang folktale (cerita rakyat) atau yang disebut juga sebagai folkstory, yaitu cerita atau legenda yang berasal dari sebuah masyarakat, khususnya cerita-cerita yang membentuk bagian dari tradisi lisan masyarakat itu (halaman 551, terjemahan peneliti). Kemudian dikuatkan dengan definisi cerita rakyat dalam The Concise Oxford Dictionary Terms (halaman 85). Folktale (cerita rakyat) aalah cerita dari mulut ke mulut bukan yang lewat tulis, dengan begitu mengalami perubahan karena diceritakan berulang-ulang sebelum ditulis. Termasuk dalam cerita rakyat ini adalah legenda, fabel, lelucon, dan cerita peri. Banyak cerita rakyat berhubungan dengan mahkluk-mahkluk mistik dan transformasi-transformasi magis (terjemahan peneliti).

            Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dan observasi langsung, sedangkan teori yang digunakan adalah objective criticism, yaitu sastra  Biak-Numfor diperlakukan secara objektif dan dapat dikaji dari hal-hal yang objektif. Populasi penelitian ini adalah semua literary devices yang ada dalam cerita rakyat yang masih terpelihara dan masih diceritakan di daerah Biak-Numfor. Sedangkan sampel adalah devices, yakni seperti disebutkan pada masalah penelitian ini, yaitu plot, karakter dan karakterisasi, setting, point of view, tema, dan lain-lain arketipe.

         Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan pencatatan dan perekaman  kemudian mengkaji strukturnya. Teknik analisas data mengikuti langkah-langkah dari Kennedy yang sudah diformulasikan dalam pernyataan pada bagian masalah penelitian.