Judul: Struktur Sastra Lisan Lha

Penulis: Aleida Mawene, dkk.

Subjek: Sastra Lisan

Jenis: Laporan Penelitian

Tahun: 2002

Abstrak

Sastra lisan Iha menyebar secara lisan pada masyarakat Iha di Kabupaten Fak-Fak. Sastra lisan Iha belum pernah didokumentasikan. Sebelum punah sastra lisan itu perlu didokumentasikan demi mempertahankannya sebagai alat pengontrol norma-norma masyarakat Iha. Deskripsi dilakukan terhadap kedudukan dan fungsi, struktur, serta nilai-nilai hakiki budaya masyarakat Iha yang terdapat cerita rakyat tersebut.

            Penelitian ini menggunakan kerangka teori umum dari Rene Wellek dan Austin Waren (1989:109) bahwa kesusastraan merupakan institusi sosial atau kreasi sosial yang menggunakan bahasa sebagai media. Lebih khusus dilandaskan pada pendapat Thompson (1946) bahwa setiap kelompok manusia mempunyai sastra lisan dengan ciri-ciri tersendiri, yang dikuatkan oleh A. Teeuw (1984:11), bahwa sastra lisan merupakan milik masyarakat dan tidak pernah diciptakan dalam situasi kekosongan budayanya.

            Metode yang digunakan adalah kualitatif dan pendekatan resepsi-struktural genetik, dengan teknik wawancara dalam bahasa penutur yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan bantuan langsung informan yang fasih berbahasa Indonesia. Analisa data dilakukan mengacu pada Levi-Strauss. Data dipenggal-penggal menurut fakta cerita yang berkaitan dengan pelaku dan perilakunya; menyusun ikhtisar mengenai term dan fungsi cerita serta hubungan yang ditujukan oleh setiap bagian cerita; kemudian menyusun formula struktur alur cerita yang terdiri dari bagian-bagian cerita dan hubungan antarbagian cerita tersebut. Penelitian ini akhirnya berhasil mendeskripsikan aspek-aspek seperti yang disebutkan di atas dari 18 judul sastra lisan yang terdapat pada masyarakat Iha, dan disajikan dalam bahasa Indonesia.

            Penelitian ini mengungkap beberapa kesimpulan, yaitu bahwa panjang cerita berkisar antara 2 sampai 3 halaman; judul cerita sebagian besar mengangkat nama terem atau tokoh utamanya yang tidak menghiraukan fungsi terem yang memiliki sifat positif atau negatif. Penutur cerita adalah laki-laki dan perempuan, yakni para penatua adat yang lahir dan dibesarkan di tengah masyarakat suku Iha di Kabupaten Fak-Fak, berusia antara 36 sampai dengan 63 tahun. Pekerjaan penutur beragam, ada petani, peramu, nelayan, wiraswasta, dan ibu rumah tangga. Kesempatan menuturkannya adalah pada saat panen ikan di laut, waktu bulan purnama, sebagai pengisi waktu senggang sehabis kerja, atau ketika ingin tahu tentang asal-usul suatu benda atau tempat, serta sesaat sebelum tidur.

            Struktur alur cerita terdiri dari bagian-bagian yang memiliki hubungan sebab-akibat dan setiap bagian memiliki terem dan fungsinya masing-masing. Bagian-bagian itu diformulasikan menjadi tujuh skema dengan model 3 – 9 bagian. Model skema cerita-cerita tersebut paling banyak memiliki 6 – 7 bagian. Terem dalam cerita itu memiliki hubungan dengan pola (1) terem manusia dengan binatang; (2) manusia dengan makhluk gaib; (3) manusia dengan binatang dan makhluk gaib; (4) binatang dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan atau benda-benda; dan (5) manusia super dengan raksasa. Jumlah pelaku dalam cerita berkisar empat sampai sembilan orang. Pelaku cerita adalah manusia, binatang, makhluk gaib, dan tumbuh-tumbuhan atau benda-benda.

           Secara umum amanat dalam cerita dapat dikelompokkan dalam 16 macam formula yang diaktualisasikan dari pernyataan yang dirumuskan berdasarkan alur yang diperoleh. Perumusan pernyataan amanat dengan menghubungkan sebab – akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi.