Judul: Verba Transitif Bahasa Bima (Kajian Morfosintaksis)

Penulis: Alek

Subjek: Bahasa Bima-Sintaksis

Jenis: Tesis

Tahun: 2005

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan klasifikasi/jenis verba transitif bahasa Bima; mendeskripsikan perilaku sintaksis verba transitif bahasa Bima menurut pola urutan fungsional gramatikal. Metode penelitian yang digunakan adalah  metode deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah berupa kalimat lengkap yang mengandung verba ekatransitif, verba dwitransitif, dan verba semitransitif. Sumber data penelitian ini adalah data tulis dan data lisan. Data tulis diperoleh dari buku-buku pelajaran untuk sekolah dasar mulai kelas 1 sampai dengan kelas 6, pantun bahasa Bima, dan buku-buku lain atau dokumen yang relevan dengan objek penelitian yang ditulis dalam bahasa Bima. Data lisan diperoleh dari informan. Peneliti merupakan penutur asli (native speaker) bahasa yang sedang diteliti (bahasa Bima). Teknik yang digunakan dalam memperoleh data adalah teknik catat, elisitasi, intospeksi, dan beberapa teknik pemancingan yang dikemukakan oleh Samarin yang dipilih sesuai dengan kebutuhan peneliti.

     Teknik analisis satuan fungsional mengikuti teknik yang dikemukakan oleh M. Ramlan. Cakupan analisis meliputi: analisis perilaku sintaksis verba transitif (verba ekatransitif, verba dwitransitif, dan verba semitransitif)  setelah bergabung dalam konstruksi yang lebih besar, satuan fungsional gramatika, dan disertai analisis kategori dan peran menggunakan metode kajian distribusional. Penggunaan metode ini dilandasi pertimbangan bahwa setiap unsur bahasa berhubungan satu sama lain dalam membentuk satu kesatuan yang padu. Penelitan ini menemukan bahwa pengklasifikasian/jenis verba bahasa Bima terdiri atas tiga macam, yaitu (1) verba ekatransitif; (2) verba dwitransitif, dan (3) verba semitransitif. Ketiga macam verba transitif di atas memiliki proses penurunan yang khas setelah berada atau bergabung dalam konstruksi yang lebih besar. Verba transitif merupakan unsur pusat uang menduduki satuan fungsional gramatikal sintaksis predikat (P) dan dapat menentukan jumlah pendamping kiri dan kanan.

     Variasi proses afiksasi verba transitif bahasa Bima dalam suatu konstruksi kalimat yang disebabkan kehadiran satuan fungsional keterangan waktu akan, sedang, dan telah. Berikut contoh mengenai ketiga kala yang dimaksud di atas, seperti afiks gabung ‘na- + VD –ma’, ‘na- + VD + -ku’, ‘ma- VD’ sebagai penanda kala akan,  sebagai penanda kala sedang melalui proses ‘VD = -na’, dan prefiks ‘ra- + VD’ pada verba dasar yang menunjukkan kala telah. Selanjutnya, mengenai pola urutan satuan fungsional gramatikal sintaksis memiliki keragaman bentuk sesuai dengan jenis verba transitif (verba verba ekatransitif, verba dwitransitif, dan verba semitransitif) yang menduduki satuan fungsional gramatikal sintaksis ‘predikat’. Sehubungan dengan hal itu, verba transitif bahasa Bima yang menduduki satuan fungsional gramatikal predikat menghendaki hadirnya satu, dua, atau bahkan tiga pendamping yang masing-masing menduduki satuan fungsional Subjek (S); objek (O), pelngkap (Pel.) dan Keterangan (Ket.). Khususnya satuan fungsional keterangan dapat menduduki posisi di awal atau di akhir kalimat atau bersifat opsional.

     Berkaitan dengan variasi dan keragaman pola yang khas pada masing-masing verba transitif bahasa Bima, seperti (1) verba ekatransitif memiliki pola antara lain: ‘S-P-O’, ‘S-P-O-KWt’, dan KWt-S-P-O; (2) verba-verba dwitransitif, seperti ‘S-P-O-Pel.-KWt’, ‘KWt-S-P-O-Pel., dan ‘S-P-O-Pel.’, dan (3) verba semitransitif bahasa Bima memiliki pola fungsi gramatikal sintaksis, antara lain ‘S-P-O’ dan ‘S-P-‘ Sementara itu, implikasi penelitit ini diarahkan dalam pengajaran bahasa Bima dalampendidikan formal di tingkat sekolah dasar, perlu mengajarkan tentang bagaimana mengklasifikasi verba transitif bahasa Bima. Untuk implikasi mengenai perilaku sintaksis verba transitif bahasa Bima perlu memperkenalkan bentuk pola-pola yang khas dan perilaku verbanya setelah berada atau bergabung dalam konstruksi yang lebih besar, yaitu klausa dan kalimat, begitu juga dengan tataran kategori, berupa verba, nomina, keterangan, dan tataran peran, meliputi: peran agentif, peran aktif, peran pasif, peran objektif, dan peran temporal. Hal lain yang perlu diperhatikan dari hasil penelitian ini dalam pengajaran bahasa Bimauntuk siswa sekolah dasar adalah memperhatikan kesiapan siswa (tingkat dan jenjang yang sedang ditempuh) sebagai objek sasaran pembelajaraqn bahasa Bima.

     Dalam rangka penulisan bahan ajar bahasa Bima dan penulisan buku tata bahasa Bima sebagai buku acuan Mulok untuk pengajaran pada pendidikan formal di tingkat SD di Kabupaten Bima dan Dompu. Oleh karena itu, disarankan  kepada para peneliti sebidang untuk melakukan penelitian secara lebih mendalam dan luas, baik dalam aspek yang sama maupun mengenai aspek-aspek kebahasaan lain agar ketuntasan pembahasan mengenai tataran morfologi dan tataran sintaksis tercapai. (aloy)