Judul: Pemertahanan Bahasa Muna (Studi Etnografi di Kabupaten Muna)

Penulis: Zalili Sailan

Subjek: Bahasa Muna-Etnolinguistik; Sosiolinguistik

Jenis: Disertasi

Tahun: 2012

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pemertahanan bahasa Muna di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Pengumpulan data menggunakan metode etnografi dengan teknik (1) observasi yakni mengamati penggunaan bahasa Muna dan sejumlah informan, (2) wawancara, baik terstruktur maupun tidak terstruktur yang dibantu dengan alat rekam dan tayang (tape recorder, kamera, dan video). Data yang diinginkan berupa pemertahanan bahasa Muna dalam berbagai ranah dan situasi.

     Subjek penelitian yakni masyarakat tutur bahasa Muna yang berdomosili di kabupaten Muna kurang lebih lima tahun berturut-turut. Data diambil  dari enam kecamatan, yakni Kecamatan Tongkuno, Tongkuno Selatan, Lawa, Kabangka, Napabalano, dan Katobu. Informan terdiri dari pria dan wanita yang masih sehat dan tidak pikun, mulai dari usia prasekolah hingga 50 tahun ke atas dengan latar belakang sosial yang berbeda-beda.

     Hasil temuan penelitian (1) masyarakat Muna berawal dari masyarakat monolingual ke masyarakat bilingual; (2) dilihat dari jumlah penutur, pemertahanan bahasa Muna masih dimungkinkan; (3) pergerakan penduduk, mempengaruhi pemertahanan bahasa Muna; (4) persentuhan bahasa Muna dengan bahasa lainnya mempengaruhi pemertahanan bahasa Muna; (5) di kalangan masyarakat terdidik mulai dari anak-anak kota maupun desa yang sudah maju, pemertahanan bahasa Muna dalam berbagai ranah semakin menyusut; (6) dalam situasi kontekstual yang berbau tradisional dan kegiatan keagamaan, baik di masjid, greja, pengajian, pesta adat, nasihat perkawinan maupun kegiatan sosial lain, pemertahanan bahasa Muna semakin menurun karena penggunaan bahasa Muna semakin terdesak oleh penggunaan  bahasa Indonesia; (7) tidak ada pewarisan penggunaan bahasa Muna di sekolah secara terstruktur karena tidak semua sekolah menetapkan bahasa Muna sebagai bahasa pengantar pada kelas permulaan; (8) pemertahanan bahasa Muna hanya pada orang-orang tua pedesaan.

     Benang merah dari hasil temuan, bahwa pemertahanan bahasa Muna hanya terjadi pada generasi tua pedesaan usia 50 tahun ke atas. Generasi muda pedesaan mulai meningalkan bahasa ibunya (bahasa Muna). Lebih-lebih generasi muda dan anak-anak kota atau desa yang sudah maju. Mereka mulai menginggalkan bahasa Muna dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun belum mengarah ke pergeseran bahasa Muna, gejala ini mengindikasikan adanya ketersendatan pewarisan dan pemertahanan bahasa Muna pada generasi berikutnya.

     Hal ini disarankan (1) saran yang bersifat pengembangan teori, perlu ada penelitian sejenis untuk memperkaya khasanah sosiolinguistik di tanah air; (1) saran yang bersifat praktis: a) pemertahanan bahasa Muna harus lebih ditingkatkan dengan jalan mendayagunakan pemakaiannya dalam berbagai ranah dan situasi, b) dalam otonomi daerah kebijaksanaan tidak  hanya menyentuh otonomi politik dan ekonomi, tetapi harus menyangkut pula otonomi bahasa dan budaya, c) perlu ada gerakn khusus yang menyangkut penyadaran pemertahanan  bahasa Muna dalam bentuk slogan atau kampanye, d) untuk pewarisannya kepada generasi berikutnya, bahasa Muna patut dijadikan mata pelajaran wajib dan bahasa pengantar kelas permulaan di SD yang diperkuat dengan Perda, e) pada momen-momen tertentu perlu ada lomba mendongeng, loma pidato, lomba mencipta lagu dan puisi dalam bahasa Muna; f) loma menulis dalam bahasa Muna, dan g) perlu ada insentif khusus bagi keluarga yang setia menggunakan bahasa Muna dalam berbagai ranah. (aloy)