Judul: Interferensi Bahasa Jawa ke Dalam Bahasa Indonesia pada Proses Belajar Mengajar: Penelitian Kualitatif di Kelas 6 SD IV Sragen

Penulis: Syamhudi

Subjek: Bahasa Jawa-Pengaruh Bahasa Lain; Interferensi Bahasa

Jenis: Tesis

Tahun: 2000

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris tentang gejala interferensi grmatikal bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia lisan siswa kelas VI Sekolah Dasar  Negeri IV, Sragen. Kegiatan penelitian dilaksanakan di SD Negeri nomor 4 Sragen tahun ajaran 1998/1999. Data dihimpun dengan cara peneliti berpartisipasi di dalam kegiatan di kelas, mencatat temuan-temuan tentang interferensi yang muncul pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

     Secara operasional, pelaksanaan penelitian ini menggunakan teknik analisis kesalahan berbahasa (error analysis) dalam mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, dan mendeteksi faktor-faktor penyebab. Timbulnya interferensi berdasarkan bahasa yang muncul dalam kegiatan belajar mengajar. Interferensi terjadi karena ada kecenderungan pada dwibahasawan untuk mempergunakan unsur-unsur grmatikal pada bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. Interferensi dapat dipengaruhi faktor struktur dan nonstruktur. Yang termasuk faktor struktur adalahtingkat perbedaan atau persamaan kedua bahasa itu, sedangkan faktor nonstruktur antara lain adalah sikap pembicara terhadap bahasa pertama dan kedua, sikap terhadap budaya, sikap terhadap kedwibahasawan, dan besarnya kelompok kedwibahasawan.

     Penelitian ini menganalisis gejala-gejala interferensi dengan menggolongkan pada tiga tataran, yaitu interferensi fonologi, morfologi, dan sintaksis kemudia mencari faktor penyebab timbulnya interferensi. Interferensi pada tataran fonologi, meliputi interferensi dalam pelafalan /a/ dengan /o/, /i/ dengan /e/, /u/ dengan /o/, /au/ dengan /o/, /d/ dengan /t/, /d/ dengan /d/, /f/ dengan /p/ dan interferensi konsonan rangkap /b/ dengan /mb/. Interferensi pada tataran morfologi dikumpulkan menurut tipe-tipe yang meliputi lima macam: (1) tipe prefiks me- dan imbuhan me... –i, tipe (2) prefiks ber-, tipe (3) sufiks –an (BJ), tipe (4) gabungan sufiks dan afiks ke-...-an/ka-...-an (BJ), dan tipe (5) kata depan di-. Interferensi sintaksis dapat dikelompokkan menjadi tiga macam tipe, yaitu (1) penggunaan partikel danh kata penghubung yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indoensia. Partikel kok, lho, dan yo, dari bahasa Jawa dan kata penghubung sama, pada, terjemahan dari pada, karo, kaliyan (BJ); (2) pemakaian sufiks –nya dalam bahasa Indonesia yang merupakan terjemahan atau pengaruh sufiks –e bahasa Jawa ngoko atau -ipun/-nipun bahasa Jawa kromo inggil, (3) terjemahan kalimat-kalimat yang berasal dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia, berpola atau berstruktur kalimat bahasa Jawa. Sikap masyarakat yang positif terhadap bahasa daerah  sebagai bahasa pertama yang berfungsi sebagai alat komunikasi secara luas, dapat menimbulkan interferensi terhadap bahasa kedua. Masyarakat Jawa cebderung untuk memakai unsur-unsur bahasa pertama yang oleh para ahli pengajar bahasa dikenal  dengan istilah transfer yang banyak dijumpai ketika mempelajari  bahasa kedua. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa siswa SD kelas VI Negeri no. 4 Sragen yang sedang belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua banyak sekali dipengaruhi bahasa Jawa sebagai bahasa pertama.

     Gejala interferensi yang dilakukan siswa ini timbul karena kekurangcermatan guru melatih siswa, ketika siswa menggunakan bahasa terutama dalam berbahasa lisan. Selain itu, kebiasaan siswa dalam berbahasa Indonesia menggunakan pola kalimat bahasa Jawa sebagai bahasa  pertama. Yang tidak kalah penting lagi dalam hal ini, pengajar bahasa Indonesai sendiri masih terpengaruh oleh pola-pola bahasa Jawa, sehingga atas dasar pengamatan penulis ketika guru berkomunikasi dan mengajar di kelas masih terpengaruh dengan pola-pola bahasa Jawa. Oleh karena itu, guru bahasa Indonesiaseharusnya menjadi contoh bagi siswa untuk menggunakan bahasa Indonesia baku baik lisan maupun tulisan. Guru harus menghilangkan kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia yang masih terpengaruh bahasa Jawa atau yang berpola bahasa jawa, baik dalam berkomunikasi dengan siswa maupun dengan sesama guru. (aloy)