Judul: Lupus, Remaja Jakarta yang Berada di Posisi Antara: Analisis Subjektivitas dan Agensi Remaja

Penulis: Rd. Safrina

Subjek: Sosiologi Sastra

Jenis: Disertasi

Tahun: 2006

Abstrak

Penelitian ini merupakan telaah terhadap konstruksi identitas berdasarkan subjektivitas dan agensi yang diberikan kepada tokoh Lupus  dalam empat buku serial  Lupus,  yaitu (1) Interview with the Nyamuk, (2) Mission Muke Tebelm  (3)  Gone with the Gossip,  dan (4) The Lost Boy.  Serial  Lupus dipilih karena merupakan bacaan remaja yang digemar remaja dan mampu bertahan lama di pasaran. Fenomena itu menimbulkan pertanyaan perihal bagaimana identitas Lupus dibentuk serta apa dan bagaimana keterkaitannya dengan kondisi sosial budaya saat karya tersebut diciptakan. Berkaitan dengan hal itu, penelitian ini bertujuan menunjukkan identitas Lupus, menampilkan ngocol sebagai bagian dari subjektivitas, dan menjelaskan kondisi sosial budaya dan ideologi terbentuknya identitas remaja Lupus.

     Tujuan tersebut dijawab melalui analisis teks dan kajian budaya. Analisis teks mengidentifikasi adanya posisi Lupus sebagai subjek dan agen pada tepian tiga konteks,  yaitu kelas sosial, etnisitas, sdan gender, yang melahirkan posisi antara bagi Lupus. Melakui posisi di antara kelas atas dan bawah, tepian dunia global dan dunia lokal juga di tepian maskulinitas lelaki dewasa. Lupus dikembangkan  menjadi identitas yang mudah diterimna oleh remaja kebanyakan  dan disukai juga dikagumi karena keberhasilannya mendekati pusat konteks yang secara umum didambakan oleh para remaja. Keberhasilan Lupus bergerak sangat ditentukan okeh perilaku  keberaksaraannya (kegemaran membaca dan menulis), kemampuan berbahasa Inggris, dan perilaku cuek yang merupakan wujud sikap berani mencoba dan tidak takut gagal.

     Lupus sebagai teks bukanlah teks yang kritis karena kecenderungannya untuk mengukuhkan budaya dominan. Keberhasilan Lupus di posisi antara itu dikontraskan dengan ketersisihan kelas bawah, etnis lokal, dan perempuan sehingga identitas Lupus mencuat di antara para remaja. Ngocol sebagai identitas Lupus yang menonjol memperkuat identitas Lupus di posisi antara dan pada saat yang sama menjadi identitas teks Lupus karena ke-ngocol-an yang hadir menunjukkan peran pencerita yang ngocol secara lebih signifikan daripada peran tokoh Lupus.  

     Ngocol sebagai kekhasan dan kekuatan  Lupus  dapat dikatakan sebagai identitas Lupus yang menjadi ideologi teks karena kehadirn ngocol dalam setiap peristiwa dalam Lupus diterima sebagi kewajaran walaupun pembacaan kritis terhdap ke-ngocol-an menunjukkan adanya relasi kuasa yang menyingkirkan kelompok tettentu. Ketersingkiran kelas bawah, etnik lokal, dan perempuan sebagai pilihan tekstual demi ke-ngocol-an merupakan juga cerminan kondisi sosial politik masa itu. Identitas Lupus di satu sisi menampakkan adanya resistensi terhadap budaya dominannya, tetapi di sisi lain ia merupakan pengukuhan terhadap budaya tersebut ketika pilihnnya mencerminkan perilaku, seperti umum ditemui dalam lingkungan sosialnya. (LS)