Judul: Kecap Anteuran Bahasa Sunda: Satu Kajian Semantik dan Struktur

Penulis: T. Fatimah Djajasudarma-Idat Abdulwahid

Subjek: Semantik

Jenis: Disertasi

Tahun: 1986

Abstrak

Disertasi ini mengkaji 421 kecap anteuran dalam bahasa Sunda. Kecap anteuran telah diakui kehadirannya di dalam bahasa Sunda sejak terbitnya kamus Rigg (1862). Rigg menyebut kecap anteuran dengan istilah idiomatic expressions. Kehadiran kamus Rigg (1862) dianggap sebagai langkah awal bagi ilmu bahasa Sunda. Di dalam disertasi ini dibahas pula empat istilah kecap anteuran yang ada dalam bahasa Indonesia (adverbia inkoatif, verba (bantu) aspek inkoatif, partikel keaspekan inkoatif, dan pemarkah keaspekan inkoatif).

     Data dikumpulkan melalui teknik (1) introspeksi, (2) elisitasi, (3) tes mengisi lajur yang kosong dengan cara mengosongkan lajur kecap anteuran untuk masukkan kecap anteuran dan mengosongkan lajur verba yang dimarkahi kecap anteuran untuk masukkan verba, (4) matriks (kisi-kisi) digunakan untuk jaringan paradigma morfologi kecap anteuran.

     Metode yang digunakan bersifat deskriptif dan perspektif. Metode kajian distribusional digunakan dalam mengkaji kecap anteuran secara semantis dan struktural. Kecap anteuran dikaji,baik secara intriksik (bentuk, fungsi, dan maknanya) maupun secara ekstrinsik.

     Kajian ini bertujuan untuk (1) menginventarisasi kecap anteuran dengan verba yang dimarkahi, (2) mendeskripsikan kecap anteuran, baik secara semantis maupun struktural, dan (3) mendeskripsikan makna leksikal kecap anteuran, (4) melengkapi deskripsi tata bahasa Sunda. Tujuan yang lebih luas adalah untuk memperkenalkan salah satu unsur bahasa Sunda (kecap anteuran) yang secara semantis (keaspekan) merupakan unsur universal.

     Disertasi ini menyimpulkan bahwa masyarakat bahasa Sunda memiliki daya bernalar melalui (1) awal situasi sekuensial (kronologis) dan dinamis (seperti terlihat pada jenis keaspekan inkoatif: pungtual, agak lambat, dan lambat), dan (2) makna keaspekan (seperti terlihat pada upaya keaspekan yang ada dalam bahasa Sunda). Kecap anteuran memiliki makna keaspekan inkoatif secara generik di samping makna cara dan ragam tindakan dari aktivitas yang secara potentisal diungkapkan oleh verba yang dimarkahi kecap anteuran. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui makna leksikal kecap anteuran dengan upaya pemilahan berdasarkan jumlah verba yang dimarkahi kecap anteuran dan peran sintaksis. Inventarisasi makna kecap anteuran melibatkan peran sintaksis, seperti (1) pelaku, (2) objektif, (3) lokatif. Kecap anteuran berperan, baik pada tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. Pada tataran fonologi, pola kanonik kecap anteuran secara intrinsik (susunan fonem) dikaji melalui jumlah silabenya. Pada tataran morfologi, sebanyak 421 kecap anteuran dapat dipilah berdasarkan (a) struktur morfemis (monomorfemis dan polimorfemis) dan (b) struktur silabe (satu sampai dengan empat). Beberapa kecap anteuran ‘berdasarkan bentuknya seolah-olah dibentuk dari akar verba (bagi kecap anteuran satu silabe dan dari gloss verba (bagi kecap anteuran lebih dari satu silabe). Secara sintaksis, kecap anteuran adalah  bagian dari predikat.  Pada tataran wacana sebagai upaya pelatardepanan narasi (kisahan), untuk menyatakan situasi kronologis, kinetis, dinamis, dan mengacu pada peristiwa yang nyata. (ES)