Judul: Inovasi dan Difusi-Geografis Leksikal Bahasa Melayu dan Bahasa Sunda di Bogor-Bekasi: Kajian Geolinguistik

Penulis: Wahya

Subjek: Geolinguistik

Jenis: Disertasi

Tahun: 2005

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kata yang mengalami inovasi internal dan eksternal dalam bahasa Melayu di perbatasan Bogor—Bekasi beserta perwujudannya; (2) mendeskripsikan kata yang mengalami inovasi internal dan berupa inovasi eksternal dalam bahasa Melayu setempat yang kemudian mengalami difusi leksikal; (3) mendeskripsikan kata yang mengalami inovasi internal dan yang berupa eksternal dalam bahasa Sunda setempat beserta perwujudannya; (4) mendeskripsikan kata yang mengalami inovasi internal dan eksternal dalam bahasa Sunda setempat yang kemudian mengalami difusi leksikal; (5) mendeskripsikan kata yang mengalami inovasi internal dan berupa inovasi eksternal dalam bahasa Melayu setempat yang kemudian mengalami difusi geografis beserta arah difusi geografisnya; (6) mendeskripsikan kata yang mengalami inovasi internal dan yang berupa inovasi eksternal dalam bahasa Sunda setempat yang kemudian mengalami difusi geografis beserta arah difusi geografisnya; (7) menyajikan peta distribusi leksikon bahasa Melayu dan bahasa Sunda setempat.

     Metode yang digunakan adalah metode desktiptif. Pendekatan yang digunakan bersifat pankronis, yakni menggabungkan pendekatan sinkronis dan diakronis. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode pengamatan langsung atau metode simak dan metode cakap. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, pencatatan, dan perekaman. Data yang dikumpulkan berupa data lisan atau data empiris yang langsung bersumber dari informan, yakni data bahasa Melayu dan bahasa Sunda yang terdapat di perbatasan Bogor—Bekasi.

      Penelitian dilakukan pada 35 titik pengamatan di perbatasan Bogor—Bekasi, yaitu 9 titik pengamatan berbahasa Melayu dan 26 titik pengamatan berbahasa Sunda. Sampel informan setiap titik pengamatan berjumlah satu orang. Instrumen penelitian yang digunakan untuk berwawancara berupa daftar pertanyaan yang memuat 410 butir pertanyaan.

      Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi inovasi internal dan inovasi eksternal, baik dalam bahasa Melayu maupun bahasa Sunda di perbatasan Bogor—Bekasi. Kedua inovasi tersebut menyebar secara tidak merata di titik pengamatan yang diamati. Inovasi internal bahasa Melayu setempat menampilkan 61 varian, yaitu 10 varian inovasi leksikal penuh, 46 varian inovasi fonetis, dan 5 varian inovasi makna. Inovasi eksternal bahasa Melayu setempat menampilkan 92 varian, yaitu 47 varian berupa unsur serapan dari bahasa Indonesia dan 45 varian berupa kata serapan dari bahasa Sunda setempat. Inovasi internal bahasa Sunda setempat menampilkan 66 varian, yaitu 14 varian inovasi leksikal penuh, 41 varian inovasi fonetis, dan 11 varian inovasi makna. Inovasi eksternal bahasa Sunda setempat menampilkan 45 varian, yaitu 17 varian berupa kata serapan dari bahasa Indonesia dan 28 varian berupa kata serapan dari bahasa Melayu setempat. Varian inovatif akibat inovasi internal bahasa Melayu yang mengalami difusi leksikal dan berlanjut pada difusi geografis adalah (1) varian yang memperlihatkan penghilangan silabe pertama K + | dan (2) varian yang memperlihatkan penambahan konsonan h pada akhir kata. Varian inovatif akibat inovasi eksternal bahasa Melayu yang mengalami difusi leksikal dan berlanjut pada difusi geografis adalah (1) varian yang memperlihatkan penambahan konsonan h pada awal kata dan antarvokal dan (2) varian yang memperlihatkan penggantian vokal | dengan vokal a pada silabe akhir antarkonsonan, yang keduanya merupakan unsur serapan dari bahasa Indonesia. Varian inovatif akibat inovasi internal bahasa Sunda yang mengalami difusi leksikal dan berlanjut pada difusi geografis adalah varian yang memperlihatkan penghilangan konsonan h pada awal kata dan awal silabe kedua. Arah dua difusi geografis pertama dari utara ke timur dan arah tiga difusi geografis terakhir dari barat ke timur. (es)