Judul: Ciri Akustik Tuturan Modus Deklaratif Bahasa Jawa Penutur di Medan (Perbandingan dengan Ciri Akustik Tuturan Modus Deklaratif Bahasa Jawa Penutur di Solo)

Penulis: Wawan Prihartono

Subjek: Bahasa Jawa-Perbandingan

Jenis: Tesis

Tahun: 2012

Abstrak

Bahasa Jawa digunakan di Pulau Jawa, yaitu di Jawa Tengah, Jawa Timur, beberapa bagian Banten (Serang dan Tanggerang), dan Jawa barata (Karawang, Subang, Indramayu, dan Cirebon). Penutur bahasa Jawa tersebar di wilayah luar pulau Jawa dengan jumlah penutur yang signifikan, misalnya Lampung kira-kira 61 %, Bengkulu kira-kira 25 %, dan Sumatera Utara kira-kira 15%--25%. Hal ini dilatarbelakangi faktor geografis yang saling berdekatan dengan Pulau Jawa.

Masyarakat Jawa di Sumatera Utara masuk melalui tahapan-tahapan berdasarkan sejarah abad XII M pada masa Kerajaan Singosari, masa penjajahan Hindia Belanda yang direkrut melalui “Werk” (agen pencari kuli), melalui transmigrasi sejak pemerintahan Hindia Belanda hingga masa orde baru Republik Indonesia, dan melalui perantauan, tugas belajar, tugas kerja, dan lain sebagainya. Selain faktor geografis, bahasa Jawa dikenal dialek Sosial yang merupakan variasi bahasa yang digunakan penutur berdasarkan perbedaan status ragam, usia, dan gender. Tingkatan bahasa Jawa disebut juga undak usuk yang mencakup ragam ngoko (kasar), madya (biasa), dan krama (halus). Seorang anak berbicara dengan teman sebayanya akan menggunakan ragam ngoko. Namun, ketika berbicara dengan orang tuanya atau orang yang lebih tua darinya akan menggunakan ragam krama.

Penelitian ini mengkaji bahasa Jawa yang ada di Medan, Sumatera Utara.  Jumlah penuturnya hanya sedikit yaitu kalangan generasi tua yang dominan mengenal ragam ngoko. Jumlah kosa kata ragam krama langka digunakan oleh penutur jawa karena rumit, kurang komunikatif, dan identif dengan feodalisme kekuasaan. Dialek sosial ragam krama langka ditemukan, walaupun ada, hanya digunakan dalam ranah upacara-upacara tradisi Jawa, seperti kenduri, khitanan, pernikahan. Penggunaan ragam ngoko mengalami pergeseran dalam kosakata maupun intonasi Hal ini disebabkan adanya kontak dengan bahasa Melayu Delidan bahasa lokal lainnyaan. Berdasarkan pernyataan di atas, maka dilakukan penelitian perbandingan tentang penutur bahasa Jawa di Medan dan penutur bahasa Jawa di Solo.

Penelitian ini akan mengkaji ciri-ciri akustik tuturan bahasa Jawa yang dituturkan oleh penutur di Medan dan akan dibandingkan dengan ciri-ciri akustik tuturan bahasa Jawa yang dituturkan oleh penutur di Solo. Adapun masalah yang terdapat dalam penelitian ini adalah (1) Berapa rerata intensitas, struktur melodik, dan durasi bunyi silabis dalam tuturan modus deklaratif performatif bahasa Jawa yang dituturkan oleh penutur bahasa Jawa di Medan?; (2) Berapa rerata intensitas, struktur melodik, dan durasi bunyi silabis dalam tuturan modus deklaratif performatif bahasa Jawa yang dituturkan oleh penutur bahasa Jawa di Solo?; (3) Berapa signifikansi perbedaan rerata intensitas, struktur melodik, dan durasi bunyi silabis dalam tuturan modus deklaratif performatif bahasa Jawa yang dituturkan oleh penutur bahasa Jawa di Medan dan Solo? Berdasarkan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini untuk mengukur rerata intensitas, struktur melodik, dan durasi bunyi silabis dalam tuturan modus deklaratif performatif bahasa Jawa yang dituturkan oleh penutur bahasa Jawa di Medan, mengukur rerata intensitas, struktur melodik, dan durasi bunyi silabis dalam tuturan modus deklaratif performatif bahasa Jawa yang dituturkan oleh penutur bahasa Jawa di Solo, dan mengukur signifikan  perbedaan rerata intensitas, struktur melodik, dan durasi bunyi silabis dalam tuturan modus deklaratif performatif bahasa Jawa yang dituturkan oleh penutur bahasa Jawa di Medan dan Solo. Penelitian ini dilakukan di Kota Medan dan Solo pada bulan Februari hingga bulan Mei 2012.

Metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimental adalah metode yang dilakukan peneliti dengan eksperimental. Tiap kelompok eksperimen dikenakan perlakuan-perlakuan tertentu dengan kondisi yang dapat dikontrol dengan menggunakan instrumen yang sama. Penelitian ini menggunakan ciri-ciri akustik tuturan modus deklaratif bahasa Jawa dialek Deli (Medan) dan ciri-ciri akustik tuturan modus deklaratif  bahasa Jawa dialek standar yang dituturkan oleh penutur laki-laki dan perempuan. Populasi penelitian adalah penutur bahasa Jawa yang berdomisili di Medan dan Solo. Sampel diambil dari kelompok penutur bahasa Jawa di Medan dan Solo yang msing-masing berjumlah 20 penutur (10 orang jenis kelamin laki-laki dan 10 orang jenis kelamin perempuan). Sampel dipilih sesuai dengan kebutuhan penelitian. Ketentuan sampel harus memenuhi kriteria memiliki alat artikulator yang sempurna dan mampu menggunakannya dalam tuturan dengan sempurna, berusia 25—50 tahun, bersuku bangsa Jawa, dan mampu berbahasa Jawa. Prosedur penelitian menggunakan instrumen penelitian untuk dokumentasi dan inventarisasi data yang berbentuk rekamnan tuturan modus deklaratif yang disimpan sebagai file dalam ADATA Micro SD kapasitas 2 GB yang dipindahkan ke komputer/laptop merekAcer Aspire 2920Z dengan perangkat keras mini card reader. Data yang sudah masuk komputer didengar dengan menggunakan windows media player versi 11 dan direkam kembali dengan aplikasi praat, program perangkat lunak untuk menganalisis fonetik akustik dan untuk merekam data yang diperdengarkan di aplikasi windows media player. Hal ini dilakukan untuk seleksi korpus dan digitalisasi data. Kemudian dilakukan analisis akustuik untuk mendapatkan data kontinum tuturan, Selanjutnya ditentukan rerata pada kelompok masing-masing. Sebelumnya, komputer atau laptop sudah diinstal aplikasi SPSS (Statistics Package for Sosial Scientist versi 17). Teknik pengumpulan data menggunakan alat perekam Samsung GT 15510. Tuturan modus deklaratif direkam sebanyak lima tuturan berdasarkan fungsinya. Data dijaring dengan menggunakan narasi, yaitu menjelaskan kepada penutur tentang data yang diinginkan. Kemudian penutur mengucapkan tuturan berulang kali supaya peneliti dapat memilah modus yang benar-benar sahih dan sesuai dengan data natural. Teknik analisis data menggunakan laptop yang sudah diinstal program praat versi 4.0.27. Melalui prgram ini, dilakukan analisis variasi akustik sebuah tuturan, sintesis, dan manipulasi tuturan untuk mendapatkan ukuran frekuensi,durasi, dan intensitas tuturan. Tahap-tahap analisis data dengan digitalisasi (mengubah data manual ke bentuk digital melalui perekaman data), segmentasi bunyi (pemilahan bunyi per bunyi pada tuturan yang sudah digitalisasikan berdasarkan analisis  forman maupun sinyal akustik yang tertera dalam gambar praat, pembuatan salinan kontur frekuensi (kontur nada tuturan yang menggambarkan rangkaian frekunsi atau nada), pembuatan salinan kontur intensitas (untuk mendapatkan data kuntinum intensitas sebuah tuturan, dan uji statistik dengan menggunakan program SPSS yang menerapkan Independent SampleT-Test untuk mengetahui signifikasi perbedaan rerata indeks dari dua kelompok variabel. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa: a)  Rerata intensitas tuturan modus deklaratif performatif yang ditutrkan olaeh penutur Medan tidak menunjukkan signifikasi perbedaan dengan rerata intensitas tuturan modus deklaratif performatif yang dituturkan oleh penutur Solo; b) Rerata struktur melodik tuturan modus deklaratif perfomatif yang dituturkan oleh penutur Medan menunjukkan signifikasi perbedaan dengan rerata struktur melodik tuturan modus deklaratif performatif yang dituturkan oleh penutur Solo. c) Rerata durasi bunyi silabis tuturan modus deklaratif performatif yang dituturkan oleh penutur Medan tidak menunjukkan signifikansi perbedaan dengan reratadurasi bunyi silabis tuturan modus deklaratif performatif yang dituturkan oleh penutur Solo. (RDH)