Judul: Kalimat Beruas dalam Bahasa Indonesia

Penulis: Teguh Santoso

Subjek: Semantik

Jenis: Tesis

Tahun: 2005

Abstrak

Masyarakat Indonesia telah mampu menyusun sebuah kalimat secara tertulis dalam bahasa Indonesia. Namun, susunan kalimatnya kadang tidak baik dan tidak benar karena masyarakat kurang memiliki pengetahuan tentang kaidah bahasa indonesia dan faktor bahasa ibu yang masih melekat pada penutur bahasa Indonesia. Berdasarkan fakta yang ada, pengguna bahasa perlu memahami aspek sintaksis bahasa Indonesia, khususnya kalimat beruas.

Kalimat beruas merupakan kalimat yang tersusun dan setidaknya dua ruas dengan jeda wajib bersifat fungsional sebagai penunjuk antarruas. Penelitian ini menitikberatkan pada kalimat beruas bahasa Indonesia yang yang memiliki setidaknya dua ruas, yaitu ruas depan dan ruas belakang.

Fokus penelitian ini pada permasalahan pendeskripsian jenis gatra pengisiruas belakang, sifat relasi makna antarruas, dan faktor-faktor yang berkaitan dengan kalimat berruas. Jenis gatra pengisi ruas belakang berupa kalimat tunggal, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk setara. Jenis relasi makna pada kalimat beruas berupa relasi kepemilikan, relasi perlawanan, relasi sebab akibat, relasi sebab, relasi kecaraan, relasi tujuan, relasi syarat, relasi pelaku, relasi sasaran, relasi lokatif, relasi asal, relasi aspek, relasi similatif, relasi kepastian, dan relasi komplementasi.

Penelitian ini akan memberikan deskripsi kalimat beruas dalam bahasa Indonesia disertai dengan kajian seputar gejala munculnya kalimat beruas dan penelitian ini diharapkan mempunyai tujuan sebagai 1) Pendeskripsian definisi dan ciri-ciri kalimat berruas dalam bahasa Indonesia, 2) Pendeskripsian berdasarkan gatra ruas depan bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai jenis gatra pengisi ruas dan yang sering digunakan dalam kalimat berruas bahasa Indonesia, 3) Pendeskripsian jenis gatra ruas belakang, 4) Pendeskripsian relasi makna antarruas dalam kalimat berruas, dan 5) Pendeskripsian faktor-faktor yang berkaitan dengan munculnya kalimat berruas.

Metode yang digunakan oleh penulis bersifat deskriptif kualitatif.Tahap pengumpulan data dilakukan dengan mengamati berbagai bentuk kebahasaan, penyeleksian, dan pengklasifikasian. Pengamatan berbagai bentuk bahasa yang dilakukan pada ragam lisan dan ragam tulis. Penyeleksian dilakukan untuk membuang bentuk-bentuk kebahasaan yang berdasarkan kevaliditasannya kurang relevan terhadap permasalahan. Pengklasifikasian untuk memilah data berdasarkan sifat kekontrasannya.

Analisis data penelitian dilakukan dengan metode agih dan metode padan beserta teknik-tekniknya. Metode agih menggunakan teknik balik, teknik ganti, dan teknik parafrasa. Teknik balik digunakan untuk mengubah konstruksi kalimat beruas ke dalam konstruksi normalnya. Teknik ganti digunakan untuk menguji kekoreferensialan bentuk unsur keterangan dengan bentuk kebahasaan (gatra) yang mengisi ruas belakang. Teknik parafrasa digunakan untuk menguji sifat pertalian makna antarruas. Metode padan untuk membahas kalimat beruas darisifat kesejajaran referen. Sumber data diambil dari sumber lisan dari berbagai tuturan yang terjadi sekitar lingkungan peneliti dan sumber tertulis dari media cetak Kompas dan Kedaulatan Rakyati, serta sumber formal lainnya, misalnya pidato. Hasil analisis disajikan dengan metode pengajian berupa kata-kata. Berdasarkan analisis data, hasil penelitian menunjukkan tipe-tipe kalimat beruas dengangatra pengisi ruas depan berupa 1) Jenis kalimat berruas yang gatra pengisi ruas depannya berupa gatra nominal, gatra preposisional, gatra konjungsional, dan untuk gatra verbal. Sedang pada ruas belakang diisi oleh jenis kalimat berupa a) kalimat tunggal, b) kalimat majemuk bertingkat, dan c) kalimat majemuk setara. 2) Relasi makna antarruas meliputi relasi kepemilikan, perlawanan, kewaktuan, sebab, kecaraan, syarat pelaku, sasaran, lokatif, asal, aspek, similatif, kepastian, dan komplementasi. Kalimat beruas dalam bahasa Indonesia merupakan kalimat ubahan yang diperoleh dengan menerapkan proses transformasi peruasan.Alasan munculnya kalimat berruas dalam bahasa Indonesia karena pemfokusan. Pemindahan konstituen menjadi ciri pemfokusan dalam kalimat beruas. (RDH)