Judul: Bahasa Iklan Layanan Masyarakat: Suatu Analisis Wacana Secara Pragmatik

Penulis: Hanip Pujiati

Subjek: Analisis Wacana

Jenis: Disertasi

Tahun: 2006

Abstrak

Disertasi ini memfokuskan pada tingkat kekomunikatifan wacana iklan layanan masyarakat ditinjau dari aspek pragmatik. Secara lebih spesifik, fokus penelitian adalah a) fungsi pragmatic wacana iklan, b) kualitas kohesi, c) kualitas koherensi, d) kualitas intertekstualitas, e) kualitas keinformatifan, f) kualitas intensionalitas, dan g) kualitas akseptabilitas wacana yang meliputi maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik analisis, yaitu analisis isi kualitatif. (Mayring, 2004: 64). Analisis isi adalah teknik penelitian yang dipakai untuk menganalisis perilaku komunikasi (Budd, 1972:2). Karena penelitian ini adalah penelitian pragmatik, teknik analisis isi kualitatif yang dipakai dalam menganalisis wacana iklan layanan masyarakat menggunakan prinsip-prinsip teknik analisis wacana pragmatik. Mayring (2000:3) menjelaskan tentang alasan mendasar yang menjadi bahan pertimbangan utama dalarn melakukan analisis isi adalah: pertama, penemptan pokok bahasan dalam model komunikasi. Kedua, perumusan prosedur analisis. Peneliti merumuskan dengan jelas tahap-tahap proses analisis dan menjabarkan materi dalam unit analisis. Ketiga, pembuatan kategori sebelum proses analisis. Keempat, penentuan criteria reliabilitas dan validitas, Karena prosedur penelitian memiliki kecenderungan ada subjektivitas peneliti, dibutuhkan proses triangulasi iklan layanan masyarakat untuk mendapatkan reliabilitas dan validitas iklan layanan masyarakat.

Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pertama, sebagian besar wacana iklan layanan masyarakat memilki tingkat kekomunikatifan yang rendah apabila ditinjau dari segi pragmatik. Hal ini dibuktikan dari 26 iklan yang diteliti hanya ada 9 iklan atau 34,62% ynag komunikatif (memenuhi semua criteria kekomunikatifan wacana). Iklan yang tidak komunikatif (tidak memenuhi salah satu atau lebih criteria kekomunikatifan wacana) berjumlah 17 iklan atau 65,38%. Wacana iklan yang tidak komunikatif menyebabkan kurang komunikatif dalam menyampaikan fungsi pragmatik iklan. Kedua, pesan persuasi iklan layanan masyarakat atau fungsi pragmatik iklan dapat diekspresikan dalam berbagai macam bentuk ujaran.

Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa ada 6 macam fungsi pragmatik ikaln, yaitu wacana ikaln yang berfungsi untuk melarang, untuk mengimbau atau mengajak, untuk memperingatkan, untuk memberitahukan, untuk menjelaskan, dan untuk meminta dukungan. Fungsi persuasi tersebut dapat diekspresikan dalam berbagai macam ujaran sesuai dengan isi pesan, tujuan, dan konteks wacana. Misalnya, iklan yang mempunyai fungsi pragmatic untuk melarang, ujaran yang dipakai tidak hanya menggunakan kalimat Iarangan, tetapi dapat berupa peringatan, pemyataan, atau pertanyaan retoris. Fungsi pragmatik untuk meminta dukungan disajikan dalam bentuk pemyataan dan pertanyaan retoris. Fungsi pragmatic untuk memperingatkan tidak hanya berbentuk larangan tetapi dapat berbentuk pemyataan, pertanyaan retoris dan perintah. Ketiga, tingkat kekomunikatifan wacana iklan layanan masyarakat sangat menentukan daya perlokusi iklan. Ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat kekomunikatifan wacana iklan, akan semakin tinggi daya perlokusi wacana iklan tersebut. Demikian juga dengan ikaln yang tingkat kekomunikatifannya rendah maka kurang memiliki daya perlokusi atau kurang mampu mempengaruhi pembaca melakukan tindakan sesuai dengan pesan iklan. Meskipun demikian adajuga iklan yang memiliki tingkat kekomunikatifan tinggi tetapi tidak memiliki daya pengubah bagi pembaca untuk melakukan tindakan sesuai dengan apa yang disampaikan iklan. Hal ini disebabkan karena masyarakat memiliki resistensi yang tinggi terhadap isi pesan iklan atau masyarakat sudak memiliki persepsi sendiri yangberbeda dengan pesan iklan. (ALOY)