Judul: Negasi dalam Bahasa Jawa: Kajian Sintaktis dan Semantis

Penulis: Sutiman

Subjek: Semantik; Sintaksis

Jenis: Tesis

Tahun: 1998

Abstrak

Tesis ini bertujuan untuk membuat deskripsi tentang pengungkapan negasi dalam bahasa Jawa. Oleh karena itu, bahasan dalam tesis mencakupi hal-hal berikut ini. (1) Penentuan konstituen negatif dalam bahasa Jawa; (2) derivasi konstituen negatif penggunaannya dalam kalimat; (3) distribusi, fungsi, dan cakupan nehasi konstituen negatif di dalam tataran kalimat, klausa, dan frasa; (4) penggunaan konstituen negatif negatif secara berurutan (negasi ganda) di dalam kalimat dan makna yang ditimbulkan. Kajian ini member informasi mengenai penggunaan negatif dalam proses penegasian dalam bahasa Jawa. Kajian ini juga menutup rumpang kajian tentang negasi dalam bahasa Jawa.

Penelitian ini terdiri atas tiga tahap, yaitu penyediaan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis. Setiap tahapan itu mempunyai metode yang dijabarkan dalam teknik-teknik sesuai dengan hakikat objek penelitian dan sifat penelitian ini. Karena sumber data penelitian ini berupa sumber tertulis, rekaman pertunjukan dan peneliti sendiri, metode yang digunakan dalam tahap ini adalah metode observasi dan instrospeksi dengan teknik simak dan catat. Dalam pemilahan data ini digunakan teknik identifikasi, yaitu dengan memperhatikan distribusi, fungsi, dan makne konstituen negative dalam setiap tataran gramatikal.

Korpus data dalam penelitian ini terdiri atas tiga ratus buah kalimat negatif. Korpus ini bersumber pada pemakaian bahwa Jawa ragam ngoko baku tulis, lisan, dan data yang diperoleh dari pembangkitan secara kreatif. Pada tahap analisis digunakan metode distribusional atau deskriptif dengan teknik jabarannya: pelesapan, penggantian, perluasan, penyisipan, pembalikan, dan parafrasa.

Penelitian ini mentitikberatkan pengungkapan negasi secara segmental. Dari analisis yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Terdapat tigajenis pengungkap negasi itu, yaitu a) konstituen negative bebas: ora dan dudu; b) konstituen negatif terikat: nir- dan tan-; c) konstituen negatif inheren (word negative in meaning not inform). (2) Ketigajenis pengungkap negasi itu mempunyai perilaku sintaksis dan semantik serta kegunaan yang berbeda-beda. Ora dan dudu serta semua konstituen negative inheren dapat digunakan untuk mengungkapkan negasi. dalam berbagai tipe kalimat ragam Ngoko, sedangkan konstituen negatif terikat, nir- dan tan­hanya dapat digunakan dalam laras khusus seperti dalam laras susastra. (3) Konstituen negative yang dapat mengalami pemindahan (negative raising) adalah ora. Penegasian dalam kalimat beruas dapat dilakukan pada ruas pertama dan ruas kedua. Namun, dalam kalimat beruas punting penegasian hanya dapat dilakukan pada ruas kedua. Ada beberapa makna yang ditimbulkan oleh penggunaan konstituen negatif, yaitu penafian, ketidakselesaian, ketidaktahuan, penolakan, ketidaksertaan, dan ketidakjadian. Penafian dapat diungkapkan dengan ora dan dudu serta konstituen negatif terikat, sedangkan ketidakselesaian, ketidaktahuan, penolakan, ketidaksertaan, dan ketidakjadian dapat diungkapkan dengan menghadirkan konstituen negatif inheren, sepertiduring, embuh, emoh. tanpa, dan wurung. Derivasi konstituen negatif hanya dapat dilakukan terhadap ora, emoh, wurung, dan during. Derivasi clapat dilakukan dengan reduplikasi atau afiksasi. Peduplikasi hanya dapat dilakukan pada ora dan during. Reduplikasi terhadap ora dan during membentuk klausa konsesif dan dalam kalimat berfungsi adverbial. Afiksasi terhadap konstituen negatf itu dapat membentuk verba yang dalam kalimat berfungsi predikat atau membentuk klausa konsesif yang berfungsi adverbial. [ALOY]