Judul: Ketakrifan dan Ketaktakrifan: Kajian Persamaan dan Perbedaan dalam Tata Bahasa Pronomina

Penulis: Welya Roza

Subjek: Bahasa

Jenis: Disertasi

Tahun: 2000

Abstrak

Disertasi ini membahas persamaan dan perbedaan 1) jenis, 2) klasifikasi, dan 3) keserasian makna penggunaan peranti sintaktis dalam ketakrifan dan ketaktakrifan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Befokus pada tiga hal itu, peneliti telah memenuhi keinginan untuk memerikan dan mengeksplanasi ketakrifan dan ketaktakrifan (a) bahasa Inggris yang memiliki system artikula khusus, tetapi bahasa Indonesia tidak memiliki, (2) masing-masing melalui demonstratif, nama diri, pronominal persona, pengkuantitas semesta (pewatas takrif), dan (kata) bilangan pokok, pengkuantitas taktakrif, dan demonstratif taktaktif bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

     Penelitian ini memerikan dan mengeksplanasi satuan gramatikal yang berupa peranti sintaktis. Pendekatan penelitian ini terdiri atas dua komponen yang saling berkaitan, yaitu proses dan hasil (Nunan, 1992:2). Yang pertama adalah ranah penyelidikan yang berupa perumusan masalah dan tujuan penelitian, Yang kedua berarti hasil penelitian menjadi pengetahuan bam yang diangkat dari proses dan juga ranah lain dalam pengkajian. Dalam penelitian iru, peneliti menerapkan analisis sinkronis. Alasannya, tujuan utama penelitian ini adalah memeriksa bentuk dan arti ketakrifan dan ketaktakrifan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia masa kini.

    Penelitian ini juga bersitat kualitatif-interpretatif dalarn penelitian kualitatif, peneliti memandang isu linguistic tidak hanya sebagai proses mental individualistik, tetapi juga sebagai sarana budaya penutur. Penelitian ini juga menggunakan ancangan struktural. Ancangan demikian menganut prinsip bahwa kesatuan makna dan bentuk merupakan titik tolak analisis data. Peneliti menerapkan model analisis yang dalam perbandingannya bersifat dua arah.

       Perbandingan unsur bahasa secara dua arah dalam tataran itu berarti memperbandingkan unsur bahasa yang sedang berfungsi dalarn tindak komunikasi. Pembandingan diharapkan menghasilkan keselarasan bentuk dan makna. Dalam semantik unsur bahasa yang dibandingkan itu disebut tuturan. Penggunaan bentuk kosong 0 sebagai peranti ketakrifan bahasa Indonesia adalah, pertarna, jika penutur dan mitra tutur dapat mengidentifikasi acuan dalam konteks fisik, kelompok, dan urnat keseluruhan. Penutur dan mitra tutur, dalarn hal ini, dapat bersemuka dalam pertuturan; ini adalah padanan penggunaan artikutula takrif the secara situsional. Penggunaan itu juga sebagai padanan artikula takrif the, yang menunjukkan penutur dan mitra tutur mengidentifikasi acuan secara linguistis (anaforis), asosiatif, dan kataforis. Padanan anaforis direfleksi dalarn (1) koherensi, (2) pengacuan wacana, dan (3) struktur informasi wacana. Padanan asosiatif lebih menekankan intereferensil alaih-alih koreferensial, yaitu pengetahuan mitra tutur yang dibangkitkan atau diasosiasikan pada penyebutan sebelum (kombinasi anaforis dan pengetahuan dunia).

     Kemudian, padanan kataforis berimplikasi penutur dan mitra tutur akrab dengan acuan berupa spesifikasi di kanan FN, jadi, artikula takrif bersifat keteridentifikasian, bukan pengidentifikasi (hanya mewatasi induk, bukan FN keseluruhan). Kedua, bentuk kosong 0 digunakan untuk padanan penggunaan artikula the yang bukan didasari prinsip keteridentifikasian, melainkan berkaitan dengan keunikan (penutur dan mitra tutur tidak mengenal tetapi berhubungan dengan satu-satunya maujud) dan ketercakupan. Peranti sintaktis takrif bahasa Indonesia berupa pronominal -nya dapat sepadan dengan penggunaan artikula takrif the dalam hal penutur berasumsi mitra tutur mengenal acuan sehingga dapat mengidentifikasi (akrab dengan) acuan itu dalam konteks fisik, anaforis, dan asosiatif. [ALOY]