Judul: Frase Numeralia Berpenyukat pada Bahasa Kerabat Lasalimu dan Kamaru

Penulis: Yohanis Sanjoko

Subjek: Bahasa Kerabat

Jenis: Tesis

Tahun: 2012

Abstrak

Tesis ini berhubungan dengan frase numeralia berpenyukat pada bahasa kerabat Lasalimu dan Kamaru yang masih diperdebatkan statusnya. Apakah keduanya bahasa yang sama ataukah berbeda bahasa. Desa Lasalimu yang berbahasa Lasalimu terdapat di Kecamatan Lasalimu Selatan, sedangkan di Kecamatan Lasalimu, terdapat desa yang bernama Desa Kamaru. Dua desa tersebut adalah nama kedua bahasa yang dibahas dalam penelitian ini. Numeralia adalah kata atau frase yang menunjukkan bilangan atau kuantitas, dapat juga untuk menyatakan jumlah benda atau urutannya dalam suatu deretan.Adapun frase nomina adalah frase  yang unsur pusatnya berupa nomina. Sementara itu, kata penyukat diartikan sebagai classifier atau penggolong yang biasanya terletak setelah numeralia dalam konstruksi frase nomina + numeralia.

            Dalam penelitian ini diuraikan sistematika numeralia pada bahasa kerabat Lasalimu dan Kamaru. Mengklasifikasikan kata penyukatnya yang terdiri atas beberapa jenis kata penyukat, kemudian dijelaskan konstruksi frase numeralia berpebyukat pada kedua bahasa tersebut.

Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan konstruksi frase numeralia pada bahasa berkerabat Lasalimu dan Kamaru, (2) mendeskripsikan konstruksi frase berpenyukat pada bahasa berkerabat Lasalimu dan Kamaru, dan (3) mendeskripsikan kemiripan dan perbedaan konstruksi frase numeralia berpenyukat pada bahasa kerabat Lasalimu dan Kamaru.

            Dalam menganalisis frase numeralia berpenyukat dalam penelitian ini memakai teori struktural. Teori struktural digunakan untuk menguraikan data menjadi komponen, subkomponen, fungsi, dan seterusnya sampai pada unsur atau rincian yang terkecil. Metode adalah cara kerja untuk memahami objek yang bersangkutan, sedangkan teknik adalah jabaran metode yang sesuai dengan alat dan sifat alat yang dipakai (Sudaryanto, 1993:9). Penelitian ini menggunakan metode dengan tiga tahapan, yaitu tahap penyediaan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data.

            Dilihat dari numeralia dasar sebagaimana diuraikan dalam 3.1.1 pada kedua bahasa, ditemukan perbedaan dan kemiripan. Perbedaannya terletak pada sistem dasar untuk mendefinitkan numeralia. Adapun seluruh numeralia dasar utama bahasa Lasalimu dan Kamaru menunjukkan kesamaan asal-muasal karena hanya ada sedikit perbedaan leksikal di antara keduanya yang masih dapat dilacak perubanhannya. Pada bahasa Lasalimu dan Kamaru tampak perbedaan dalam ungkapan numeralia dasar, khususnya urutan beruntun letak  ligatur perangkai frase numeralia di depan dan di belakang numeralia dasar. Pada bahasa Lasalimu letak ligatur mendahului numeralia dasar, sedangkan pada bahasa Kamaru mengikuti numeralia dasar. Pada numeralia multiplikatif dalam bahasa Lasalimu selalu dimulai dengan bentuk dasar dan diakhiri dengan mbule sehingga konstruksinya adalah NumDas + mbule, sedangkan pada bahasa Kamaru, konstruksi frasenya sama dengan bahasa Lasalimu, yakni NumDas + mpearo. Oleh karena itu, hanya terdapat perbedaan pada kata mbule dan mpearo, sedangkan konstruksinya sama.

         Dalam bahasa Lasalimu pemebntukan numeralia tingkatnya ditambahi prefiks pe- sehingga berkonstruksi pe- + NumDas berligatur serta penyukat wajib hadir. Jika dibandingkan dengan konstruksi numeralia tingkat bahasa Kamaru perbedanaanya terletak pada hadirnya penyukat secara opsional (-angu/angu) sehingga konstruksinya adalah ka- + NumDas berligatur. Pada numeralia kolektif, berdasarkan bentuk yang dipakai, dalam bahasa Lasalimu, bentuk berpenegas hanya dipakai apabila terletak di depan kata penyukat, tetapi apabila diimbuhi prefiks atau bereduplikasi, maka bentuk yng dipakai adalah bentuk dasar. Sementara itu, pada bahasa Kamaru keseluruhannya memakai bentuk yang dianggap sebagai bentuk pendek dasar dalam bahasa Lasalimu, baik yang berpenyukat maupun tidak berpenyukat. Pada numeralia tak takrif diketahui terdapat perbedaan leksikal di antara kedua bahasa. Sebagai contoh kata rajuniae dalam bahasa Lasalimu tidak kognat dengan bari-baria dalam bahasa Kamaru, begitu pula dengan bentuknya yang satu tidak direduplikasi, sedangkan yang satunya direduplikasi. Terdapat kecenderungan pada bahasa Kamaru kehadiran penyukat angu bersifat opsional, sedangkan pada bahasa Lasalimu kehadiran penyukat angu bersifat wajib.

        Berdasarkan penelitian lapangan serta kuesioner yang dinyatakan kepada para responden, ternyata tidak ditemukan ligatur perangkai dalam tujuh konstruksi frase Foley. Ketiadaan ligatur dalam konstruksi-konstruksi tersebut memperlihatkan  bahwa kedua bahasa sangat ketat dalam konstruksi frasenya. Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan dalam tesis ini dapat ditarik kesimpulan utama,  yakni  bahasa  Lasalimu dan bahasa  Kamaru  dahulunya merupakan satu bahasa yang sama, tetapi sedang dalam proses membedakan diri satu sama lain menjadi bahasa yang mandiri. Oleh karena itu, diduga telah terjadi pemisahan bahasa berkerabat Lasalimu dan Kamaru dari bahasa yang sama sebelumnya. [ALOY]