Judul: Kosakata dan Lafal Bahasa Indonesia Ragam Lisan Medan

Penulis: Amran Purba

Subjek: Sintaksis

Jenis: Tesis

Tahun: 2005

Abstrak

Tesis ini bertujuan menginventaris dan mendeskripsikan bentuk kata (kosakata dan lafal) kata yang khas digunakan dalam ragam lisan Medan yang merupakan aset daerah Medan dan membandingakn dan menganalisis bentuk kata (kosakata dan lafal) kata yang khas digunakan dalam ragam lisan Medan. Kosakata yang menjadi kajian itu adalah kosakata yang merupakan ciri khas ragam bahasa Medan saja yang diteliti, misalnya digunakan kata kereta ‘sepedan motor’, pajak ‘pasar’, pigi ‘pergi’, sedangkan bentuk kata yang umum (bahasa yang dipakai secara nasional) tidak diteliti. Selanjutnya, lafal yang diteliti juga yang khas ragam lisan Medan, misalnya pada kata [plaza], [nasihat], [naik[, [kebun] dilafalkan menjadi [plaja], [nasἐhat], [naἐk], [kebon]. Jadi, masalah ang diteliti dibatasi pada bentuk kata kosakata dan lafal bahasa Indonesia ragam lisan Medan dan sekitarnya pada ranah keluarga, ranah pasar, dan ranah pertemuan.

      Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk mendapatkan data aktual dalam dekade mutakhir dan faktual berbasa dengan melakukan teknik perekaman dan pengamatan langsung serta pencatatan pada penutur bahasa Indonesia ragam lisan Medan. Peneliti menggunakan teknik perekaman dan percakapan langsung karena lebih ideal jika dibandingkan dengan teknik menggunakan angket.

     Sumber data diperoleh dari penutur asli (Melayu) dan penutur pendatang (nonMelayu) sebagai penutur bahasa Indonesia ragam lisan Medan dalam dua ranah pemakaian bahasa. Ranah merupakan konstelasi antara lokasi, topik, dan partisipan.Ranah penelitian ini adalah ranah keluarga dan ranah pasar. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan percakapan semuka dan perekaman secara sembunyi serta pencatatan. Penelitian ini tidak menentukan jumlah informan dan persyaratannya, tetapi secara acak merekam penutur bahasa lisan Medan.

     Pemakaian bahasa lisan Medan pada ranah pasar dan keluarga memperlihatkan penggunaan bahasa yang khas Medan  berdasarkan pada kebiasaan saja tanpa menghiraukan aturan yang telah ditetapkan. Pengunaan bahasa Indonesia ragam lisan Medan memperlihatkan pelafalan vokal a yang lebih konsisten pada kosakata. Vokal a kelihatannya tidak terpengaruh oleh penutur pendatang, sedangkan vokal lain memang tidak konsisten karena pengaruh artikulator, posisi vokal dalam menghasilkannya cenderung menurun. Kemudian, penggunaan konsonan memiliki ketidaktepatan karena faktor keterbatasan konsonan bahasa penutur sehingga koakata yang berasal dari bahasa asing cenderung disesuaikan dengan konsonan yang ada pada bahasa penutur, misalnya konsonan f tidak ditemukan dalam bahasa daerah Batak pada umumnya sehingga  konsonan f diubah menjadi konsonan p yang ada dalam bahasa daerah penutur. Akibatnya, penutur asli juga terpengaruh oleh penutur pendatang. Padahal penutur asli (Melayu) memiliki konsonan f yang berasal dari bahasa Arab.

     Pemakaian bahasa lisan Medan pada ranah pasar dan keluarga juga memperlihatkan penggunaan kosakata leksikal yang khas Medan berdasarkan pada kebiasaan saja tanpa menghiraukan apa yang tertulis. Dengan demikian, penutur bahasa lisan Medan menunjukkan warna penggunaan bahasa yang khas.  Warna yang khas itu disebut dialek regional Medan. Penggunaan dialek regional tidak terikat pada aturan kebakuan  atau tidak, tetapi berpegang pada kelaziman atau kebiasaan yang telah berlaku pada masyarakat bahasa, seperti Medan. Hal ini terbukti dengan banyaknya kosakata yang dipakai, tetapi tidak ada tertulis, misalnya jika Anda ingin mengisi bahan bakar kendaraan, maka Anda pergi ke Galon sementara yang tertulis di tempat itu adalah SPBU; jika ibu-ibu ingin belanja ke pasar membeli  bahan ke, maka ibu itu akan membeli tepung roti sementara yang tertulis  di karung adalah terigu. Faktor pertimbangan pilihan kata ragam lisan Medan mungkin dapat dikatakan mengabaikan unsur ketepatan dan kebenaran, tetapi hanya kelaziman yang dilakukan  penutur bahasa Indonesia lisan Medan. Selain itu, ada juga pertimbangan kesantunan bahasa sehingga penggunaan bahasanya tidak suka berbentuan dengan kebiasaan. [ALOY]