Judul: Studi Pragmatik tentang Prinsip Kerja Sama dalam Penggunaan Bahasa Indonesia pada Sidang Pengadilan di Pengadilan Negeri Makassar

Penulis: David G. Manuputty

Subjek: Pragmatik Bahasa

Jenis: Tesis

Tahun: 2004

Abstrak

Tesis ini mengkaji masalah keefektifan penerapan kaidah dan prinsip percakapan yang disebut prinsip koopereratif  atau prinsip kerja sama di antara para pelaku pertuturan bahasa Indonesia pada suatu bidang pengadilan. Suatu tuturan yang berpijak pada suatu praanggapn sering memunculkan suatu makna tambahan yang menyiratkan suatu maksud tertentu yang sesungguhnya berbeda dari yang sebenarnya dituturkan. Hal-hal seperti itu tidak akan bermasalah berkat adanya penerapan suatu prinsip kerja sama yang meliputi faktor-faktor kebenaran, kelugasan dan ketepatan, relevansi dengan fakta yang ada dan kejelasan. Selain mengkaji keefektifan penerapan maksim-maksim prinsip kerja sama tersebut. Penelitian ini pun menelusuri keterkaitan maksim-maksim prinsip kerja sama dengan maksim-maksim prinsip kesopanan yang digunakan sebagai alat ukur apabila terjadi pelanggaran salah satu maksim prinsip kerja sama dan eksistensi mutlak peranan faktor praanggapan.

            Tujuan penelitian in i adalah (1) mendeskripsikan penerapan prinsip-prinsip kerja sama antara para pelaku pertuturan bahasa Indonesia pada suatu bidang pengadilan dan  (2) menggambarkan kepatuhan para pelaku percakapan bahasa Indonesia memenuhi maksim-maksim prinsip kerja sama dan maksim-maksim prinsip kesopanan apabila terjadi pelanggaran salah satu maksim prinsip kerja sama.

            Penelitian ini  bersifat deskriptif-kualitatif. Metode deskriptif digunakan untuk meneliti suatu objek tertentu, status kelompok tertentu, kondisi faktual yang ada, sistem pemikiran atau gagasan yang ada. Atas dasar itu, dengan bersumber pada data yang terkumpul berupa dialog/tanya-jawab antara hakim dan saksi, jaksa dan saksi, penasihat/kuasa hukum dan saksi, hakim dan terdakwa, jaksa dan terdakwa, penasihat hukum dan terdakwa, penelitian ini menggambarkan secara apa adanya  pertuturan di dalam dialog/tanya-jawab tersebut tanpa melihat kuantitasnya. Selain itu, penelitian ini pun mengkaji secara kritis serta menginterpretasi hal-hal yang terungkap di dalam penerapan dan pelanggaran prinsip kerja sama tersebut.

            Data penelitian yang mendukung penelitian ini adalah data lisan yang bersumber pada pertuturan berupa tanya-jawab antara hakim dan saksi, jaksa dan saksi, penasihat hukum/kuasa hukum dan saksi, hakim dan terdakwa, jaksa dan terdakwa. Fokus kajian dan sekaligus objek utama penelitian ini adalah pertuturan yang berupa dialog atau tanya-jawab pada sidang pengadilan perkara perdata dan perkara pidana. Populasi penelitian ini adalah pertuturan bahasa Indonesia yang terjadi pada sidang pengadilan secara keseluruhan, selama paruh pertama tahun 2004.

            Penerapaan prinsip-prinsip kerja sama di antara para pelaku percakapan bahasa Indonesia pada sidang pengadilan kasus perdata maupun pidana dengan berorientasi pada penuturan saksi sebagai objek yang dijadikan sumber informasi. Seorang saksi akan bersikap kooperatif (menerapkan prinsip-prinsip kerja sama tersebut) apabilaia berstatus sebaghai korban atau pihak yang merasa dirugikan, ataupun pihak yang melapor atau yang menyebabkan si terdakwa diseret ke pengadilan. Sebaliknya, apabila saksi tersebut memiliki hubungan moral dengan salah satu pihak yang bersengketa pada kasus perdata ataupun dengan pihak terdakwa pada kasus pidana, ia akan bersikap ‘melanggar prinsip kerja sama’ atau bersikap tidak kooperatif demi meminimalkan kesalahan si terdakwa. Akan halnya terdakwa, seorang terdakwa pada umumnya ‘enggan’ memenuhi sesuatu maksim percakapan secara simultan karena yang bersangkutan menghadapai sesuatu yang dilematis, sehingga sering tidak memberi informasi yang singkat, ringkas, dan tepat karena terdorong oleh keinginannya berbicara untuk memungkiri dakwaan dan juga sebagai upaya meminimalkan kesalahannya.

            Para pelaku pertuturan bahasa Indonesia pada sidang pengadilan baik kasus perdata maupun pidana, yaitu hakim, jaksa, kuasa hukum senantiasa patuh memenuhi maksim-maksim prinsip kerja sama. Terdakwa pada kasus pidana berupaya memberikan keterangan yang menurutnya dapat meminimalkan kesalahannya. [ALOY]