Judul: Struktur, Fungsi, dan Nilai Hadih Maja: Kajian Puisi Lisan Aceh

Penulis: Mohd. Harun

Subjek: Analisis Puisi

Jenis: Disertasi

Tahun: 2006

Abstrak

Penelitian terhadap aspek struktur, fungsi, dan nilah hadih maja penting dilakukan karena belum ada kajian komprehensif terhadapnya, terutama dari perspektif etnisitasemik. Oleh karena itu, disertasi ini berfokus pada tiga aspek, yakni (1) struktur hadih maja, meliputi a) jenis hadih maja, b) bahasa hadih maja, dan c) pola persajakan hadih maja; (2) fungsi hadih maja, meliputi a) fungsi informasional, b) fungsi ekspresif, c) fungsi direktif, d) fungsi phaktik, dan e) fungsi estetis; (3) nilai hadih maja meliputi a) nilai religius, b) nilai filosofis, c) nilai etis, dan d) nilai estetis.

     Secara umum, tujuan penelitian ini adalah menelaah secara kritis-interoretatif aspek (1) struktur hadih maja, (2) fungsi hadih maja, dan (3) nilai hadih maja sehingga diperoleh karakteristik dan hakikat hadih maja dalam wujudnya yang holistik. Dari perspektif ilmu sastra, hadih maja merupakan puisi lisan dan sebagai produk sosial budaya etnis Aceh. Sebagai genre puisi, hadih maja memiliki struktur, fungsi, dan nilai. Ketiganya merupakan satu kesatuan.

     Secara paradigmatik, penelitian terhdap struktur, fungsi, dan nilai hadih maja ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini sesuai digunakan berdasarkan beberapa asas metodologis. Beberapa alasan yang mendasarinya adalah (1) sumber data dan data hadih maja bersifat naturalistik, (2) peneliti sebagai instrumen kunci yang berfungsi sebagai makhluk penafsir yang secara hermeutis dipandang kapabel, (3) pemaparan dan atau pembahasan data bersifat deskriptif-interpretatif-eksplanatif, (4) lebih mengutamakan proses daripada hasil, (5) analisis data dilakukan secara interaktif-induktif, (6) makna menjadi perhatian utama, (7) disain penelitian bersifat sementara. Data penelitian diperoleh dari tiga sumber, yaitu dari (1) masyarakat, (2) papan nama atau baliho, dan (3) dokumen.

     Dari aspek bahasanya, hadih maja memiliki kekhasan diksi dan stilistik. Diksi meliputi perbendaharaan kata, posisi kata, daya sugesti kata-kata, dan kata-kata arkais. Perbendaharaan kata memenuhi kriteria ungkapan lat batat kayee batee (seluruh benda alam semesta), sesuai kategori ruang persepsi manusia dalam sistem ekologi meliputi komponen being, cosmos, energy, substance, terrestrial, object, living, animate, dan human. Dari sisi bahasa arkais, setidaknya terdapat 121 kata yang sudah kurang lazim digunakan masyarakat Aceh, bahkan sebagian besar tidak dipahami generasi muda. Selain itu, hadih maja banyak menggunakan gaya bahasa, paralelisme , simile, metafora, metonimia, personofikasi, hiperbola, dan repetisi.

     Dari aspek struktur hadih maja disimpulkan hal berikut. Pertama, hadih maja tidak hanya identik dengan peribahasa seperti diyakini selama ini, sebab ia juga terdiri atas bentuk pantun, syair, pepatah, perumpamaan, tamsil, ibarat, dan pemeo. Semua bentuk tersebut mewarnai pola ucap hadih maja. Kedua, untuk melahirkan harmonisasi bunyi antarkata dan antarbaris, sebauh hadih maja harus senantiasa memperhatikan sistem pakhok (pola persajakan atau rima) dan buhu. Ketiga, berdasarkan diksinya, hadih maja menunjukkan keberagaman asal-usul tempat penciptaan (pesisir, pedalaman), keberagaman tradisi setempat (resam), dan merepresentasikan sistem ekologi manusia dalam kategori being, cosmos, energy, substance, terrestrial, object, living, animagte, dan human. Keempat, kata-kata hadih maja memiliki daya magis yang mampu menyugesti emosi atau perasaan manusia. Kelima, sebagian besar hadih maja menggunakan kata arkais untuk mencapai efek estetis, di samping menunjukkan hadih maja itu sudah eksis sejak lama. Keenam, pesan dalam hadih maja umumnya dinyatakan tidak langsung, tetapi lebih sering dalam bentuk pernyataan dan kontras, meskipun intinya bermaksud derektif.

      Dari aspek fungsi, disimpulkan hal berikut. Pertama, hadih maja merupakan alat untuk menyampaikan berbagai informasi peradatan, pendidikan, dan struktur sosial (fungsi informasional) sehingga dalam konteks ini, ia menempati posisi sentral sebagai salah satu agen budaya dalam kerangka wayof life. Kedua, hadih maja berfungsi sebagai sarana ekspresi dalam berbagai konteks komunikasi untuk menyampaikan maksud penutur, seperti persetujuan, rasa senang dan bahagia, kritik, rasa humor, kekecewaan, teguran/peringatan, permintaan maaf, keheranan, salam, dan saran. Ketiga, sebagai fungsi direktif untuk mempengaruhi orang yang berkenaan dengan menyuruh, meminta perhatian, meminta informasi, mempersilakan, mengajak, fungsi phatik, untuk memelihara hubungan baik dalam komunikasi dalam hal mengungkap canda, rasa kagum, salam adat, dan rasa akrab, . Dari aspek fungsi, hadih maja mengandung (1) fungsi informasional sebagai  [AL]

      Penelitian terhadap aspek struktur, fungsi, dan nilah hadih maja penting dilakukan karena belum ada kajian komprehensif terhadapnya, terutama dari perspektif etnisitasemik. Oleh karena itu, disertasi ini berfokus pada tiga aspek, yakni (1) struktur hadih maja, meliputi a) jenis hadih maja, b) bahasa hadih maja, dan c) pola persajakan hadih maja; (2) fungsi hadih maja, meliputi a) fungsi informasional, b) fungsi ekspresif, c) fungsi direktif, d) fungsi phaktik, dan e) fungsi estetis; (3) nilai hadih maja meliputi a) nilai religius, b) nilai filosofis, c) nilai etis, dan d) nilai estetis.

     Secara umum, tujuan penelitian ini adalah menelaah secara kritis-interoretatif aspek (1) struktur hadih maja, (2) fungsi hadih maja, dan (3) nilai hadih maja sehingga diperoleh karakteristik dan hakikat hadih maja dalam wujudnya yang holistik. Dari perspektif ilmu sastra, hadih maja merupakan puisi lisan dan sebagai produk sosial budaya etnis Aceh. Sebagai genre puisi, hadih maja memiliki struktur, fungsi, dan nilai. Ketiganya merupakan satu kesatuan.

     Secara paradigmatik, penelitian terhdap struktur, fungsi, dan nilai hadih maja ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini sesuai digunakan berdasarkan beberapa asas metodologis. Beberapa alasan yang mendasarinya adalah (1) sumber data dan data hadih maja bersifat naturalistik, (2) peneliti sebagai instrumen kunci yang berfungsi sebagai makhluk penafsir yang secara hermeutis dipandang kapabel, (3) pemaparan dan atau pembahasan data bersifat deskriptif-interpretatif-eksplanatif, (4) lebih mengutamakan proses daripada hasil, (5) analisis data dilakukan secara interaktif-induktif, (6) makna menjadi perhatian utama, (7) disain penelitian bersifat sementara. Data penelitian diperoleh dari tiga sumber, yaitu dari (1) masyarakat, (2) papan nama atau baliho, dan (3) dokumen.

     Dari aspek bahasanya, hadih maja memiliki kekhasan diksi dan stilistik. Diksi meliputi perbendaharaan kata, posisi kata, daya sugesti kata-kata, dan kata-kata arkais. Perbendaharaan kata memenuhi kriteria ungkapan lat batat kayee batee (seluruh benda alam semesta), sesuai kategori ruang persepsi manusia dalam sistem ekologi meliputi komponen being, cosmos, energy, substance, terrestrial, object, living, animate, dan human. Dari sisi bahasa arkais, setidaknya terdapat 121 kata yang sudah kurang lazim digunakan masyarakat Aceh, bahkan sebagian besar tidak dipahami generasi muda. Selain itu, hadih maja banyak menggunakan gaya bahasa, paralelisme , simile, metafora, metonimia, personofikasi, hiperbola, dan repetisi.

     Dari aspek struktur hadih maja disimpulkan hal berikut. Pertama, hadih maja tidak hanya identik dengan peribahasa seperti diyakini selama ini, sebab ia juga terdiri atas bentuk pantun, syair, pepatah, perumpamaan, tamsil, ibarat, dan pemeo. Semua bentuk tersebut mewarnai pola ucap hadih maja. Kedua, untuk melahirkan harmonisasi bunyi antarkata dan antarbaris, sebauh hadih maja harus senantiasa memperhatikan sistem pakhok (pola persajakan atau rima) dan buhu. Ketiga, berdasarkan diksinya, hadih maja menunjukkan keberagaman asal-usul tempat penciptaan (pesisir, pedalaman), keberagaman tradisi setempat (resam), dan merepresentasikan sistem ekologi manusia dalam kategori being, cosmos, energy, substance, terrestrial, object, living, animagte, dan human. Keempat, kata-kata hadih maja memiliki daya magis yang mampu menyugesti emosi atau perasaan manusia. Kelima, sebagian besar hadih maja menggunakan kata arkais untuk mencapai efek estetis, di samping menunjukkan hadih maja itu sudah eksis sejak lama. Keenam, pesan dalam hadih maja umumnya dinyatakan tidak langsung, tetapi lebih sering dalam bentuk pernyataan dan kontras, meskipun intinya bermaksud derektif.

       Dari aspek fungsi, disimpulkan hal berikut. Pertama, hadih maja merupakan alat untuk menyampaikan berbagai informasi peradatan, pendidikan, dan struktur sosial (fungsi informasional) sehingga dalam konteks ini, ia menempati posisi sentral sebagai salah satu agen budaya dalam kerangka wayof life. Kedua, hadih maja berfungsi sebagai sarana ekspresi dalam berbagai konteks komunikasi untuk menyampaikan maksud penutur, seperti persetujuan, rasa senang dan bahagia, kritik, rasa humor, kekecewaan, teguran/peringatan, permintaan maaf, keheranan, salam, dan saran. Ketiga, sebagai fungsi direktif untuk mempengaruhi orang yang berkenaan dengan menyuruh, meminta perhatian, meminta informasi, mempersilakan, mengajak, fungsi phatik, untuk memelihara hubungan baik dalam komunikasi dalam hal mengungkap canda, rasa kagum, salam adat, dan rasa akrab, . Dari aspek fungsi, hadih maja mengandung (1) fungsi informasional sebagai  [ALOY]