Judul: Pembelajaran Keaksaraan Bahasa Indonesia

Penulis: Bambang Chrismanto

Subjek: Pengajaran Bahasa Indonesia

Jenis: Tesis

Tahun: 2007

Abstrak

Isi Peraturan Pemerintah RI no 73 tahun 1991 tentang Penidikan Luar Sekolah menyatakan bahwa “Pendidikan Luar Sekoah adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah, baik di lembaga ataupun tidak. Salah satu program pemerintah dalam pendidikan luar sekolah adalah program keaksaraan fungsional.Program ini mendidik semua masyarakat, baik kaum wanita maupun pria.Keaksaraan fungsional adalah salah satu program pendidikan dari Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, untuk masyarakat yang belum dapat membaca, menulis dan berhitung dan ingin membaca, dan menulis dan berhitung.Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran keaksaraan fungsional adalah tempat tinggal warga berdekatan sehingga mempunyai keinginan untuk belajar, menambah ilmu pengetahuan, wawasan, meningkatkan taraf hidup, dan prtisipasi warga belajar masyarakat di sekitarnya.

Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pembelajaran keaksaraan bahasa Indonesia dilaksanakan pada kelompok belajar fungsional di Kabupaten serang?; Bagaimana cara penerapan bahasa Indonesia pada kelompok belajar keaksaraan fungsional dengan menggunakan metode BI?; dan Apakah dengan menggunakan metode BI ini warga kelompok belajar dapat termotivasi untuk rajin belajar dan mengembangkan diri? Berdasarkan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses belajar-mengajar keaksaraan fungsional berlangsung dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa dialek Serang (B1) pada Kelompok Belajar Mahabbah, di Desa Cipocok, Pontang, Kabupaten Serang, Banten, Jawa Barat.

Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang merupakan suatu penelitian yang mengkaji perilaku manusia dalam setting alamiah dengan penekanan dari perspektif budaya. Sumber data diambil dari kata-kata dan tindakan tutor (instruktur) dari warga belajar yang diamati, diwawancarai, dan dicatat secara tertulis atau rekaman. Data tertulis diambil dari sumber buku, arsip, dan dokumen resmi yang diperoleh dari instansi yang menangani kelompok belajar keaksaraan maupun dari kepustakaan. Instrumen adalah peneliti sendiri. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan (melihat dan mengamati apa yang terjadi di lapangan), wawancara (metode untuk mendapatkan informasi dengan cara bertanya secara langsung kepada warga belajar), dokumentasi (untuk menunjang data utama, yaitu dari perpustakaan, data pribadi, dan data dokumentasi resmi), catatan lapangan (catatan tentang segala sesuatu yang dilihat, didengar, dialami, dan dipikirkan oleh para aktor dengan memperhatikan bentuk bahasa yang diucapkan, kalimat yang diungkapkan oleh informan, dan menggunakan bahasa secara konkrit), dan rekaman data (merekam data di lokasi, rekonstruksi, dan penyusunan ulang semua data yang direkam, mencatat dan member kode pada formulir, memeriksa dan mengelompokkan ulang semua hasil wawancara sesuai dengan format yang disusun) .

Data dianalisis secara induktif dan dirumuskan berdasarkan analisis domain (meliputi istilah bagian, istilah acuan, hubungan semantik antara istilah  bagian dan istilah acuan), analisis taksonomi (untuk menemukan hubungan-hubungan yang ada di antara komponen-komponen setiap domain), analisis komponen (untuk mengamati data secara lebih dalam yang diperoleh dari hasil analisis taksonomi),dan analisis tema (untuk memperoleh pandangan holistic tentang keseluruhan budaya).

Temuan penelitian di lapangan adalah sebagai berikut. 1) Bahasa Jawa dialek Serang atau bahasa ibu (B1) mampu membuat warga Kelompok Belajar Mahabbah berani bertanya kepada tutor, kepada teman, dan tidak mempunyai rasa takut sehingga tercipta suasana kekeluargaan; 2) Bahasa ibu (B1) dalam kegiatan Kelompok Belajar Mahabbah dapat dijadikan teknik untuk mencapai suatu pendidikan keaksaraan fungsional dengan pendekatan yang dilakukan dalam proses belajar-mengajar Keaksaraan Fungsional (KF) seperti:  melakukan interaksi dengan warga belajar, melakukan interaksi bahasa dan memahami bahasa yang akan digunakan, melakukan pendekatan psikologis, serta memahami adat istiadat dan budaya warga kelompok belajar;dan 3) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar-mengajar meliputi:a) motivasi ,b) kreatifitas, dan c) tema budaya berbentuk pernyataan kesimpulan, sedangkanfaktor-faktor penghambat proses belajar-mengajar fungsional mencakup (a) warga kelompok membawa anak atau cucu, (b) perlengkapan tulis tidak mencukupi, (c) tidak tersedia papan tulis, (d) buku paket tidak ada, (e) tutor hanya satu, (f) tidak ada perangsang dari penyelenggara atau pemerintah untuk menarik warga kelompok belajar mengikuti kegiatan belajar-mengajar, (g) pengawasan dan dana dari pemerintah pusat ke kelompok belajar sangat terbatas, khususnya Departemen Pendidikan Nasional. (RDH)