Judul: Ungkapan Vernakuler, Ekspletif, dan Vokatif dalam Dialog Tiga Novel Amerika Berserta Terjemahannya

Penulis: Arie Andrasyah Isa

Subjek: Sosiolinguistik

Jenis: Tesis

Tahun: 2006

Abstrak

Tesis ini bertujuan untuk rnemperlihatkan beberapa tilikan dari kajian sosiolinguistik yang hanya dibatasi pada penggunaan ungkapan vernakuler, ungkapan ekspletif, dan ungkapan vokatif (kata sapaan) yang digunakan untuk menilai hasil terjemahan karya sastra, yaitu novel. Penerjemahan novel rnemiliki masalah tersendiri yang menyangkut budaya, kesantunan, dan ciri sosial. Penerjemahan adalah pengalihan rnakna dari bahasa surnber ke bahasa sasaran. Dia lebih menekankan bahwa rnakna lebih diutamakan daripada bentuk boleh berubah, tetapi makna tidak boleh berubah. Dalam pengalihan pesan penerjernah harus menggunakan kriteria penilaian terjernahan yang ditawarkan oleh Larson (1984), yaitu ketepatan (accuracy), kejelasan (clarity), dan kewajaran (naturalness).

Dalam penelitian ini digunakan sumber data novel asli A Time to Kill dan The Firm karya John Grisham dan Malice karya Danielle Steel beserta terjemahannya, yaitu Saat untuk Membunuh dan Biro Hukum karya Hidayar Saleh dan Jerat-Jerat Kedengkian karya Ny. Suwarni A.S. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi terjemahan yang melihat bahwa teks terjemahan yang baik adalah terjemahan yang memiliki criteria ketepatan, kejelasan, dan kewajaran, seperti yang dikemukakan oleh Larson (1984:485). Kerangka acuan yang dipakai di dalam penelitian ini adalah pandangan Larson tentang evaluasi terjemahan karena evaluasi terjemahan itu digunakan untuk membuktikan terjemahan itu tepat, jelas, dan wajar.

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Larson yang menekankan bahwa penerjemahan harus berdasarkan makna karena maknalah yang hams dialihkan dan dipertahankan, sedangkan bentuk boleh berubah. Penelitian penerjernahan dad bahasa sumber ke bahasa sasaran ini memakai kerangka acuan Larson (1984) untuk mengevaluasi teks sasaran yang tidak tepat, tidak jelas, dan tidak wajar melalui kriteria yang ditawarkannya, yaitu terjemahan harus tepat, jelas, dan wajar. Untuk menguji terjemahan ungkapan vemakuler, ekspletif, dan vokatif dipakailah ketiga kriteria itu untuk mengetahui apakah ketiga ungkapan itu memenuhi syarat ketiga kriteria itu atau tidak. Metode penelitian dibagi tnenjadi (1) ancangan penelitian, (2) penentuan sumber data, (3) meode pengumpulan data, (4) penentuan korpus data, dan (5) metode analisis data. Penelitian ini bersifat kualitatif karena sifatnya mendeskripsikan data dan temuannya daiam bentuk esai-esai pendek. Corak penelitian adalah kajian pustaka karena data yang digunakan berasal dari ragam tulis novel, tetapi bukan data yang diperoleh melalui turon ke lapangan.

Penelitian ini lebih cenderung kepada penilaian hasil terjemahan novel yang diterjemahkan dari bahasa sumber (bahasa Inggris) ke dalam bahasa sasaran (bahasa Indonesia). Penelitian ini berhubungan dengan kajian penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran (target-language oriented) karena menurut Williams dan Chesterman (2002:8), kesepadanan yang menggunakan analisis teks (source-language oriented) bukan konsep yang pokok dalam penelitian ini.

Dari hasil analisis data terlihat bahwa beberapa tilikan kajian sosiolinguistik terbukti dapat digunakan untuk menilai hasil terjemahan, khususnya terjemahan karya sastra, yaitu novel. Pembuktian ini didasari oleh kurangnya pengetahuan penerjemah dalam mengalihkan teks sumber ke dalam teks sasaran tanpa melibatkan aspek sosiolinguistik. Kurangnya pengetahuan penerjemah tentang aspek sosiolinguistik itu membuat hasil terjemahannya menjadi tidak tepat, jelas, dan wajar. Hal itu sekaligus menjawab submasalah tentang (1) ungkapan vernakuler, (2) ungkapan ekpletif, dan (3) ungkapan vokatif. Selain itu, mengenai teks dialog, padanan yang diberikan oleh penerjemah tidak memperlihatkan ciri sosial masyarakat bahasa sasaran karena penerjemah masih membiarkan teks sasaran memuat unsur baku, sedangkan teks sumber rnemperlihatkan unsur nonbaku yang rnembuat teks sasaran menjadi tidak wajar. Ungkapan umpatan, makian, hujatan, carutan, sumpahan, dan kutukan dalam bahasa sumber harus memiliki fungsi yang sarna dengan bahasa sasaran karena fungsi itu berperan untuk membuat padanannya sejajar, senuansa, dan sarna nilainya. Jika tidak dilakukan, akan menimbulkan persepsi pembaca bahasa sasaran yang berbeda,. Misalnya, ungkapan shit (digunakan ketika kaget) menjadi buset (digunakan ketika kaget, kagum, terkesirna), bukan brengsek (digunakan ketika kesal, jengkel). Padanan yang sejajar, senuansa dan sarna nilainya itu harus didukung oleh konteks ujaran dan situasi yang terjadi pada saat dialog terjadi. Untuk itu dalarn mernadankan ungkapan eksplisit digunakan karnusCollins Cobuild Advanced Learner's English Dictionary oleh Sinclair (ed.(2003). [ALOY]