Sastra Lisan Totoli

Nurhaya Kangiden, dkk.

Tujuan utama penelitian ini adalah menyelematkan sastra lisan Totoli milik masyarakat Kabupaten Buol Toli-Toli, Sulawesi Tengah yang terancam punah. Untuk itu, peneliti melakukan inventarisasi yang diikuti dengan analisis terhadap bentuk, jenis, jumlah, tema, sastra lisan Totoli. Selain itu, penulis juga meneliti siapa yang menuturkan cerita dan dalam kesempatan apa serta untuk tujuan apa cerita dituturkan. Pendapat yang digunakan sebagai landasan penelitian ini adalah pendapat Hutomo (1975), Sudikan (1985), Mattalitti, dkk. (1985), serta Badudu (1975). Metode penelitian adalah metode deskrptif dengan teknik pengumpulan dengan dengan studi pustaka, wawancara, perekaman, dan transkripsi.

Hasilnya adalah bentuk sastra lisan Totoli ada dua macam, yaitu prosa (cerita) dan puisi (pantun/lelegasan). Jenis cerita ada lima macam, (1) legenda, (2) mite, (3) fabel), (sage), dan (5) cerita didaktik. Cerita rakyat Totoli yang ditemukan berjumlah sebelas cerita. Tema cerita berkisar tentang kecerdikan dapat mengalahkan kekuatan jasmani, kesabaran, ketaatan, dan anak durhaka. Penutur cerita terbatas pada orang-orang tertentu saja dan umumnya berusia 62—65 tahun. Untuk penutur dalam bentuk pantun, lebih bervariasi, berusia 25—65 tahun. Bentuk pantun lebih digemari daripada bentuk cerita. Cerita biasanya dituturkan pada saat kenduri, acara khusus, atau menjelang tidur (orang tua bercerita kepada anaknya). Pantun biasanya dibawakan pada saat kenduri, pesta perkawinan, dan pesta panen. Tujuannya adalah agar generasi penerus (1) mewarisi cerita rakyat daerahnya, (2) mengetahui asal-usul daerahnya, (3) mengetahui adat-istiadat daerahnya, (4) mengetahui asal-usul terjadinya suatu tempat atau kejadian tertentu di daerahnya, (5) mengetahui larangan terhadap sesuatu yang berlaku di daerahnya, dan (6) mengambil manfaat dari cerita rakyat daerahnya dan menggunakannya sebagai tuntunan hidup.