Struktur Sastra Lisan Tontemboan

Leo A. Apituley, dkk.

Penelitian ini membahas 22 cerita sastra lisan Tontemboan, sastra lisan dari kecamatan Batui, Sulawesi Tengah. Cerita yang dianalisis terdiri dari 18 fabel, 2 mite, dan 2 legenda. Penelitian terfokus pada struktur yang meliputi tema dan amanat, latar, tokoh, dan alur. Pendapat yang dijadikan dasar penelitian adalah pendapat Damono (1978), Suringewood (1971), dan Sunney (1977). Metode yang digunakan adalah metode deskriptid dengan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, pengajuan pertanyaan, dan perekaman.

Hasil analisisnya adalah tema-tema yang terdapat dalam cerita sastra lisan Tontemboan sangat bervariasi, antara lain, kepahlawanan, tentang kehidupan raja-raja, kejujuran, menentang penjajahan, harga diri, keajaiban manusia dan alam, orang tamak, keindahan alam, dan peranan wanita dalam rumah tangga. Amanat ceritanya, antara lain, manusia tidak boleh mengandalkan kekuatan/kekuasaan duniawi, menjaga kesehatan itu sangat penting, ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan manusia, orang kaya hendaknya menolong yang miskin, penjajahan menyebabkan kemelaratan, tidak baik membalas perbuatan jahat, dan bagaimanapun kebenaran akan terbukti. Latar tempatnya, antara lain, laut, hutan, daratan, gunung, rumah, istana, sawah, kebun, dll. Latar waktunya, antara lain, masa sebelum dan sesudah penjajahan, sebelum kemerdekaan, sebelum adanya daratan. Latar kehidupannya, antara lain, kehidupan nelayan, petani, raja dan istrinya, orang kaya, bangsawan, serta kehidupan campuran masyarakat golongan atas, menengah, dan bawah, juga kehidupan masyarakat purba. Latar budayanya, antara lain, budaya magis, gaib, dan pengaruh agama islam. Penokohannya tidak berbeda dengan tokoh cerita pada umumnya, tokoh protagonis mempunyai ciriciri positif dan antagonis sebaliknya. Ada tokoh yang dinamis (berubah) dan statis (tidak berubah).