Tokoh dan Penokohan dalam Caturlogi Drama Orkes Madura Karya Arifin C. Noer

Sudiro Satoto

Penelitian ini difokuskan pada wacana semiotik teks dramatik Orkes Madun, empat serial lakon drama pentas (Madekur dan Tarkeni atawa Orkes Madun Bagian Satu (OM-I, 1973), Orkes Madun ILA atawa Umang-Umang (OM-II, 1976), Orkes Madun III B atawa Sandek Pemuda Pekerja (OM-III, 1979), dan Ozone atawa Orkes Madun IV (OM-IV, 1989). Kita dapat mengetahui tema dan amanat lakon, serta jalinan unsur-unsurnya melalui analisis tokoh dan penokohan, serta alur dan pengaluran lakon. Masalah penelitian mencakup (1) bagaimana ciri-ciri tokoh, hubungan antartokoh berdasarkan fungsi, serta alur dan pengaluran dalam caturlogi drama OM-I--IV?, (2) bagaimana analisis semiotik tanda yang terdapat pada tokoh dan penokohan, serta alur dan pengaluran dalam caturlogi drama OM-I-IV dapat dipakai sebagai sarana untuk mengungkap makna tema kemiskinan, serta amanat lakon yang terkandung di dalamnya, dan (3) bagaimana kehadiran tokoh para nabi, para badut, khususnya badut pertama (Semar) dan Waska dalam fungsi dewa perang masing-masing, dapat membangun tiga alur pokok, sekaligus juga menjadi benang merah penghubung keempat lakon OM-I--IV ke dalam lakon panjang OM-I--IV? Tujuan penelitian ini untuk menemukan ciri-ciri struktur teks dramatik, khususnya unsur tokoh dan penokohan, serta alur dan pengaluran dalam OM I-IV, mengungkap makna tema dan amanat yang terkandung dalam OM-I--IV, dan menemukan benang merah yang menghubungkan keempat lakon OM-I-IV ke dalam sebuah lakon panjang OM-I--IV.

Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan perpaduan antara pendekatan struktural dan semiotika (semiotika terapan pada drama atau lakon). Pendekatan struktural memfokuskan analisis tekstual terhadap unsur struktur teks dramatik. Pendekatan semiotik memfokuskan analisis tanda yang terdapat pada tokoh dan penokohan OM-I--IV. Selain itu, penulis juga menggunakan pendekatan intertekstualitas terbatas pada seri lakon OM-I--IV guna menemukan benang merahnya. Analisis OM-I--IV dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (a) melakukan analisis tekstual terhadap unsur penting struktur teks dramatik (tokoh dan penokohan serta alur dan pengaluran) guna menemukan ciri-ciri struktur teks dramatik OM-I--IV, (b) melakukan analisis semiotik terhadap tanda apa yang telah dilakukan pada langkah pertama guna memahami makna dan tema kemiskinan dan cara memerangi kemiskinan, dan (c) melakukan analisis hubungan intertekstualitas dalam OM-I--IV dari teks yang kemudian terhadap teks sebelumnya guna mengetahui persamaan dan perbedaan di antara setiap teks dari keempat lakon OM.

Berdasarkan analisis dapat ditarik kesimpulan bahwa caturlogi drama OM-I—IV merupakan drama seri yang terdiri atas 4 lakon, tema dalam OM-I-IV adalah kemiskinan, subtemanya adalah kemiskinan dengan berbagai jenis kemiskinan, yaitu kemiskinan ekonomi, sosial, struktural, kultural, jiwa atau moral, raga dan metafisis; amanat OM-I-IV adalah memerangi kemiskinan, subamanatnya adalah cara memerangi berbagai jenis kemiskinan dan penderitaan, serta akibat yang ditimbulkannya; tokoh sentral MAD (Madekur, kawan senasib, pencopet, pacar, dan suami TAR) dan TAR (Tarkeni, kawan senasib, pelacur, pacar, dan istri MAD). Dalam OM I kedua orang tua masing-masing ditinggalkan, dari desa pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah dan nasib yang lebih baik daripada hidup miskin. Tokoh sentral WK (diperankan oleh Semar atau Badut I (BD-I) bersama dua orang tokoh pembantu dalam OM-II berhasil mewujudkan impian spektakuler WK, yaitu merampok. Tokoh sentral SD (pekerja pabrik) adalah buruh kecil dan miskin pada suatu pabrik milik PPP (para pemilik pabrik). Pada akhir lakon OM-III berpisah untuk sementara dengan istrinya, Oni; tokoh SD pergi untuk membasmi penyebab kegagalan dalam upaya melepaskan belenggu kemiskinan dan penderitaan. Kegagalam WK untuk mati di bumi dan planet bulan, menjadikannya memutuskan untuk mencari lagi mati di bumi dengan cara membuat formula jamu penolak hidup dan jamu penolak mati. Akhirnya, yang menjadi perdebatan sengit dalam OM IV adalah siapa yang bersalah dan bertanggung jawab atas kehancuran kebudayaan dan peradaban manusia di bumi akibat terjadinya perampokan. Lakon OM-I-IV mempunyai kemungkinan mimetik, hermeneutik, dan intertekstualitas. Yang menjadi benang merah dalam OM-I—IV adalah tokoh sentral WK dan sutradara SM (Semar, RBD, dan sutradara).