Judul: Wacana Humor Tertulis (kajian Tindak Tutur)

Penulis: Wiwiek Dwi Astuti

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) aspek atau masalah yang menyebabkan terjadinya kelucuan yang diangkat dari delapan buku wacana humor tertulis, (2) peran atau keadaan maksim yang melanggar prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun dalam sembilan buku humor tertulis, dan (3) ciri khusus yang membedakan antara jenis humor yang satu dan humor yang lain. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik dengan merujuk pendapat Austin (1962), Van Dijk (1977), Leech (1993), dan Halliday (1993). Korpus data penelitian ini berupa kumpulan humor yang berbentuk buku yang terbit tahun 1996—2002. Penelitian ini memilih sembilan buah buku humor yang semuanya berisi 1.147 buah cerita humor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa di dalam wacana humor tertulis berdasarkan motivasinya ditemukan tiga jenis humor, yakni komik, humor, dan humor intelektual. Berdasarkan topiknya, terdapat tiga belas jenis humor, yakni humor seksual, pendidikan, politik, agama, rumah tangga, percintaan, keluarga, etnis, dokter, pengacara, psikiater, pencuri, dan mahasiswa. Berdasarkan tekniknya, ditemukan beberapa jenis humor, yakni olok-olok, teka-teki bukan permainan kata, teka-teki permainan kata, permainan kata, dan supresi. Selain itu, di dalam wacana humor tertulis terdapat kelucuan atau humor yang disebabkan oleh pelanggaran prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun. Pelanggaran prinsip kerja sama terlihat pada pelanggaran maksim, yakni maksim kuantitas, maksim kualtas, maksim hubungan, dan maksim cara. Pelanggaran prinsip sopan santun terlihat pada pelanggran maksim kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan simpati. Pelanggaran terhadap maksim menyebabkan timbulnya kelucuan atau humor dan dalam tuturan yang melanggar maksim terkandung implikatur yang bermacam-macam.