Bahasa Jawa Dan Etnis Bali: Telaah Struktur Dan Fungsinya

Widada

Penelitian terhadap bahasa Jawa yang dipakai oleh etnis Bali (yang disingkat BJEB) mempunyai dua tujuan, yaitu ingin mendeskripsikan struktur bahasa dan ingin mendeskripsikan fungsinya. Deskripsi struktur BJEB itu meliputi aspek fonologi dan aspek morfologi, sedangkan deskripsi fungsi BJEB berupa pemakaian atau penggunaan BJ itu oleh masyarakat etnis Bali yang tinggal di Yogyakarta jika berkomunikasi dengan orang etnis Jawa. Oleh karena itu, ancangan teori yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu dasar analisis linguistik struktural dan dasar analisis komponen tutur (components of speech).

Adapun data penelitian ini berupa tuturan BJEB ragam ngoko. Alat penelitiannya ada dua macam, yaitu daftar kata dan daftar pertanyaan. Daftar kata digunakan untuk mendapatkan data struktur BJEB, sedangkan daftar pertanyaan untuk mendapatkan fungsi BJEB. Cara pengumpulan data dengan menggunakan berbagai teknik, seperti teknik kerja sama dengan informan, teknik kuesioner, dan teknik rekam. Cara menganalisis data dilakukan dengan menerapkan metode distribusional dengan berbagai teknik dan metode padan.

Dalam BJEB terdapat enam fonem vokal, yaitu /a, e, o, I, u, dan e pepet/ dan fonem konsonan berjumlah 21 buah, yaitu /p, b, t, d, c, j, k, g, ?, f, v, s, h, m, n, ñ, ŋ, w, dan y/. Dalam aspek fonologi BJEB terdapat hal yang khusus sifatnya, yaitu tidak munculnya fonem /t/ dan /d/ dalam tuturan dan pendistribusian bunyi [U], [k] , dan [?]. Dalam BJEB itu ditemukan tiga macam afiks, yaitu prefiks, sufiks, dan konfiks. Afiks tersebut dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu afiks asli BJ dan afiks yang berasal dari bahasa lain. Afiks yang berasal dari bahasa lain merupakan gejala interferensi, sebagai contoh: {ku-} pada kata kusilih ‘kupinjam’, {kowe-} pada kata kowe gawa ‘kaubawa’, {per-/-an} pada perdagangan ‘perdagangan’. Di samping itu, afiks BJEB berdasarkan fungsinya dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu afiks verbal (contohnya: {N-}, {dhi-}, {ku-}, {kowe-}), afiks nominal (contohnya: {-an}, dan {pe(N)-n} ), afiks adjektival (contohnya: {-an}, dan {ke-/-en}), dan afiks yang lain (contohnya: {sa-} dan {sa- /-e}).

Adanya penggabungan afiks pada bentuk dasar mengakibatkan terjadinya proses morfofonemis. Dalam BJEB proses itu ada tiga macam, yaitu perubahan fonem atau bunyi, penambahan fonem atau bunyi, dan penghilangan fonem atau atau bunyi. Perubahan fonem, misalnya: /N-/---› [m] pada kata [mbaŋun] ‘membangun’, penambahan fonem misalnya /?/ pada kata [crita?ke] ‘menceritakan’, dan penghilangan fonem misalnya: fonem /e/ dalam kata [kedanan] ‘tergila-gila’. Di samping itu, terdapat juga hal yang khusus dalam proses morfofonemik BJEB, yaitu pada afiks {dhi-} dan afiks {ke-} jika bergabung pada bentuk dasar kata [isi] ‘isi’ dan [irIs] ‘sayat’, afiks {-an} jika bergabung pada kata [rayu] ‘rayu’, [isi] ‘isi’, dan [temu] ‘temu’.

Bahasa Jawa cenderung digunakan oleh masyarakat etnis Bali untuk berkomunikasi dengan orang Jawa yang berpendidikan relatif rendah, seperti tukang becak, pembantu rumah tangga; dengan anak-anak atau orang tua; dalam situasi tidak formal; di tempat tertentu, seperti di pasar, di rumah; untuk membicarakan hal atau topik yang nonilmiah; dan cenderung kepada mitra bicara yang sudah akrab dengan pembicara.