Badan Bahasa Dukung Upaya Pengembangan Bahasa Isyarat


09/26/2017 | Seminar dan Lokakarya

Badan Bahasa Dukung Upaya Pengembangan Bahasa Isyarat

Jakarta, Badan Bahasa — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Laboratorium Riset Bahasa Isyarat Departemen Linguistik FIB UI dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) menyelenggarakan Seminar Bahasa Isyarat dengan tema “Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Isyarat Indonesia dalam Konteks Pencerdasan dan Pengembangan Optimisme Tuli” di Gedung Samudra, Badan Bahasa, Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Dalam sambutannya, Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar mengatakan bahwa Badan Bahasa mendukung upaya pengkajian sekaligus pengembangan bahasa isyarat. “Salah satu buktinya adalah pelaksanaan kegiatan seminar seperti ini. Sebuah bahasa tidak harus menghilangkan satu bahasa yang lain, tetapi sebaliknya, bahasa-bahasa itu harus hidup, dikenali, dan betul-betul diperkenalkan kepada masyarakat,”tutur Dadang.

“Kita memiliki UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang disabilitas. Bisindo pun dalam bagian penjelasannya sudah ada dalam UU tersebut, yang dimaksud dengan bahasa isyarat di dalamnya adalah Bisindo, bisa kita lihat pada lampiran bagian penjelasannya,”tambahnya.

Selanjutnya, Dadang mengungkapkan bahwa tahun depan Badan Bahasa akan mengadakan suatu kegiatan besar yaitu Kongres Bahasa Indonesia XI. Pada kegiatan itu, topik tentang bahasa isyarat sudah diusulkan masuk ke dalam bahasan.  “Dengan catatan banyak yang mengusung tema itu. Jadi kalau topik bahasa isyarat dimasukkan ke dalam KBI XI, saya pikir gaungnya akan semakin terasa,”ungkap Dadang.

Pada akhir sambutannya, Dadang menyampaikan perihal Gerakan Literasi Nasional yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Gerakan ini harus dilaksanakan secara besar-besaran, masif, dan disadari. Tidak cukup hanya sekadar advokasi dan diintervensi saja, tetapi memang harus berdasarkan dari kebiasaan-kebiasaan. Kita mencoba menggerakkan itu semua menjadi sebuah kebiasaan, sehingga tanpa disuruh pun, segenap masyarakat termasuk di dalamnya para peneliti dan pengguna bahasa isyarat ikut pula dalam kegiatan literasi itu,”ujar Dadang mengakhiri sambutannya.    

Sementara itu, Ketua Departemen Linguistik FIB UI, F.X. Rahyono mengutarakan bahwa bahasa isyarat dihasilkan berdasarkan pengalaman dan pemantauan indera penglihatan terhadap segala objek dan peristiwa yang dijumpai sehari-hari. “Jadi, bahasa isyarat tercipta secara alamiah untuk mengomunikasikan apa yang dirasakan, diinginkan, dipikirkan, diketahui, dan dilakukan oleh manusia terhadap objek atau peristiwa yang hadir dalam kehidupan manusia, misalnya isyarat berjalan, dalam bahasa isyarat adalah gerak organ tubuh dengan tangan dari tangan yang mengisyaratkan objek yang bergerak bukan mengisyaratkan kata “ber-“ dan “-jalan”, inilah bahasa isyarat alamiah,”kata Rahyono.

Rahyono menambahkan bahwa bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) adalah bahasa isyarat alamiah yang diciptakan sendiri oleh orang tuli (bukan rekayasa orang dengar), yang dapat dipahami dengan mudah dan menjadi milik bersama, serta mampu mengatasi keterbatasan dalam mempertahankan dan memfasilitasi keberadaan hidupnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Gerkatin, Bambang Prasetyo menjelaskan bahwa bahasa isyarat sudah ada sejak ada sekolah tuli di Bandung (1931) dan Wonosobo (1932). “Tahun 2002, Bisindo diresmikan di Bali dengan tujuan untuk standardisasi bahasa isyarat, yang berbeda-beda menjadi satu bahasa, ternyata tidak bisa karena demi penghormatan bahasa daerah dan pertahanan budaya masing-masing daerah. Kemudian, sejak tahun 2009, kurikulum Bisindo sudah digunakan oleh FIB UI sampai sekarang,”kata Bambang. (an)