Bulan Bahasa dan Sastra

Berita

URL: 
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/berita/1531/Penganugerahan%20Penghargaan%20Badan%20Bahasa%20dalam%20Rangka%20Bulan%20Bahasa%202014
Display
Main Slideshow: 
Ya
Second Slideshow: 
Tidak
Urutan: 
8

Penganugerahan Penghargaan Badan Bahasa dalam Rangka Bulan Bahasa 2014

Tanggal: 
10/30/2014
Cuplikan: 
Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah menyelenggarakan Penganugerahan Penghargaan Badan Bahasa dalam rangka Bulan Bahasa Tahun 2014 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, 30 Oktober 2014.
Isi Berita: 

Jakarta—Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah menyelenggarakan Penganugerahan Penghargaan Badan Bahasa dalam rangka Bulan Bahasa Tahun 2014 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, 30 Oktober 2014.

     Penghargaan tersebut meliputi Penghargaan Sastra Badan Bahasa, Festival Musikalisasi Tingkat Nasional, dan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional.

     F. Rahardi yang mewakili dewan juri Penghargaan Sastra Badan Bahasa yang terdiri dari Melani Budianta, Seno Gumira Ajidarma, Linda Christianty, dan dirinya sendiri menyampaikan bahwa setelah membaca 30 karya sastra yang terbit selama lima tahun terakhir diputuskan bahwa pemenang pertama adalah Baju Bulan yang merupakan kumpulan puisi dari Joko Pinurbo, pemenang kedua adalah Gendang Pengembara, kumpulan puisi dari Leon Agusta, dan pemenang ketiga adalah Buli-Buli Lima Laki, kumpulan puisi dari Nirwan Dewanto. Selanjutnya pemenang akan dikirim untuk mengikuti SEA Write Award di Bangkok, Thailand.

     Sementara itu, Embi C. Noer mewakili dewan juri Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional menetapkan peserta dari Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari enam orang yaitu Faisal Yunus, Humaerah Auliya Umar, Khusnul Hatimah, Aldi Anwar, Muhamad Aris, dan Andi Abdillah yang berasal dari SMAN 2 Barru sebagai penampil terbaik pertama.

     Selanjutnya, Dra. Ira Hapsari, M.Hum. yang mewakili dewan juri Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional memutuskan bahwa pemenang pertama adalah pasangan Duta Bahasa Provinsi Bali yaitu Ayu Ladah Carolina dan Made Adi Suadnyana.

     Sementara itu, dalam sambutannya, Kepala Badan Bahasa, Prof. Dr. Mahsun, M.S. mengatakan bahwa tiga kegiatan ini terkait dengan pemanfaatan bahasa sebagai mediumnya, pertama bagaimana penulis kita memanfaatkan bahasa untuk menuangkan gagasannya, kedua bagaimana melantunkan puisi dengan musik, dan ketiga penguatan kompetensi berbahasa Indonesia (UKBI).

     Berbicara bahasa Indonesia tidak lepas dari NKRI, bagaimana melalui ikrar sumpah pemuda yang merupakan momentum awal revolusi mental, pola pikir kita dari mental yang menganggap kita terdiri dari suku bangsa yang berbeda dengan menempati pulau yang berbeda, kemudian saat sumpah pemuda kita melakukan revolusi mental melalui kesepakatan berbahasa hingga menuju kemerdekaan.

     Lebih lanjut, Mahsun mengatakan bahwa untuk selanjutnya, kegiatan ini rencananya akan diselenggarakan tidak selalu di Jakarta tetapi di daerah lain sehingga semangat keindonesiaan dapat terus terjaga.

     Kepala Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Dra. Yeyen Maryani, M.Hum. mengatakan bahwa secara umum seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar hanya ada beberapa peserta duta yang sakit ringan. Terkait peran duta bahasa, menurutnya yang terpenting adalah bagaimana badan bahasa memberdayakan duta bahasa dalam konteks membina dan memasyarakatkan bahasa Indonesia sehingga memberikan kontribusi dalam pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa Indonesia. (an)

Gambar: 

Berita

URL: 
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/berita/1522/Badan%20Bahasa%20Menggelar%20Festival%20Musikalisasi%20Puisi%20Tingkat%20Nasional%202014
Display
Main Slideshow: 
Ya
Second Slideshow: 
Tidak
Urutan: 
6

Badan Bahasa Menggelar Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional 2014

Tanggal: 
10/28/2014
Cuplikan: 
Pesan sastra sebagai pengikat atau wahana menyampaikan suatu hal yang menarik, dalam kurikulum 2013 hal itu dituangkan dalam materi untuk kelas tujuh dan sepuluh, yaitu menggunakan puisi sebagai konteks pembelajaran yang baik
Isi Berita: 

Jakarta—Pesan sastra sebagai pengikat atau wahana menyampaikan suatu hal yang menarik, dalam kurikulum 2013 hal itu dituangkan dalam materi untuk kelas tujuh dan sepuluh, yaitu menggunakan puisi sebagai konteks pembelajaran yang baik, hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pembelajaran, Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Fairul Zabadi ketika memberikan sambutan pada pembukaan Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, 28 Oktober 2014.

     Lebih lanjut, Fairul memberikan contoh pada tahun 2012 ketika musikalisasi puisi dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antara SMA 6 dan 70 Jakarta. Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional ini dilaksanakan pada tanggal 28—31 Oktober 2014 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.

     Pertumbuhan musikalisasi puisi berkaitan erat dengan sejarah perkembangan sastra dan musik itu sendiri. Sejak awal pertumbuhannya, sastra dan musik memang saling terkait. Seperti kita ketahui, munculnya  kesenian berawal dari kepentingan ritual dalam upacara-upacara yang dilakukan masyarakat tradisional. Dalam kegiatan ini, segala aspek yang kini disebut seni, seperti sastra (mantra), musik, nyanyian, dan tarian, merupakan satu kesatuan yag saling mengisi tanpa ada kategorisasi.

     Dalam perkembangan selanjutnya,  terwujudlah kesenian-kesenian rakyat dan tradisi sastra lisan. Syair-syair serta cerita-cerita di dalam tradisi lama kita kerap disampaikan dan dibawakan dengan iringan musik dan/atau dibawakan dalam lantunan tembang. Pawang penglipur lara (Pawang Kaba) di Sumatra, misalnya, bersyair dengan iringan musik (yang alat-alatnya terbuat dari kulit binatang, kayu, dan bambu). Di daerah Jawa Barat dikenal Tukang Pantun (contohnya dalam Seni Beluk). Tukang Pantun ini bercerita semalam suntuk dalam bentuk lantunan tembang sambil memetik kecapi. Cerita-cerita yang kerap dibawakan adalah karya sastra berisi hikayat yang terkadang membutuhkan waktu sampai tujuh malam berturut-turut untuk menyelesaikannya.

     Dalam perkembangannya, para seniman opera menyusun syair-syair baru dan aransemen musiknya. Para seniman tersebut  memiliki prinsip yang berbeda- beda. Ada seniman yang mengompromikan deklamasi dan nyanyi, ada yang berprinsip musik harus  mengabdi pada kata-kata dan bukan menguasainya. Ada pula yang berkehendak mengungkapkan makna kata melalui musik. Pengungkapan makna dalam musik ini bukan hanya pada musik vokal, melainkan juga pada musik instrumental. Dalam perkembangan sastra modern kita, upaya memadukan musik dengan puisi ini terus berkembang hingga mencapai bentuk yang sekarang, yang kemudian mendapat nama musikalisasi puisi.

     Setyo Untoro, M.Hum. selaku ketua panitia penyelenggara mengatakan bahwa kegiatan ini adalah lanjutan kegiatan sebelumnya yang diadakan di Surakarta pada Tahun 2013 dan untuk tahun ini jumlah peserta lebih banyak yakni diikuti oleh tim musikalisasi puisi dari 23 provinsi di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Barat, Kalimantan Selatan, Sumatra Utara, Sumatra Utara, Banten, Lampung, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Aceh, Riau, Bali, Maluku Utara, Jawa Tengah, NTB, Sulawesi Selatan, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Sumatra Selatan, Bengkulu, dan DKI Jakarta.

Dalam kegiatan ini dilakukan penilaian terhadap penampilan para peserta oleh juri untuk  menentukan enam penampil terbaik. Adapun kriteria penilaian meliputi penafsiran puisi (30%), komposisi  (30%), keselarasan (20%), vokal (10%), dan penampilan (10%). Tim penilai dalam kegiatan ini terdiri atas lima orang, yaitu Remy Sylado, Jose Rizal Manua, Embi C. Noer, Reda Gaudiamo, dan Andre S. Putra. (an)

Gambar: 

PEMILIHAN DUTA BAHASA TINGKAT NASIONAL 2014

Tanggal: 
10/28/2014
Cuplikan: 
JAKARTA—Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Badan Bahasa) kembali menggelar acara Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2014. Acara ini berlangsung tanggal 25—31 Oktober 2014 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.
Isi Berita: 

JAKARTA—Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Badan Bahasa) kembali menggelar acara Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2014. Acara ini berlangsung  tanggal 25—31 Oktober 2014 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.

            Pemilihan kali ini diikuti oleh 28 pasang Duta Bahasa yang merupakan utusan dari daerahnya masing-masing. Sebelum diutus ke Jakarta, mereka sudah terlebih dahulu melalui seleksi duta bahasa di tingkat provinsi dan telah ditetapkan sebagai duta bahasa provinsi masing-masing.      

            Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2014 ini secara umum bertujuan meningkatkan peran generasi muda dalam memantapkan fungsi bahasa Indonesia, daerah, dan asing sesuai dengan ranah pengunaannya masing-masing guna memperkuat karakter, martabat, dan daya saing bangsa. Secara khusus bertujuan  

  1. memilih duta bahasa tingkat nasional yang mampu melaksanakan tugas memasyarakatkan kepedulian dan kebanggaan pada bahasa dan sastra Indonesia dan daerah;
  2. menyiapkan duta bahasa yang senantiasa mampu mengupayakan penguatan: penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, pelestarian bahasa dan sastra daerah, penguasaan bahasa asing strategis, dan apresiasi sastra Indonesia dan daerah;
  3. memperkuat jejaring kerja sama secara berkesinambungan dengan duta bahasa tingkat provinsi dalam berbagai kegiatan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra.

Pemilihan duta bahasa ini dilaksanakan melalui tiga tahap kegiatan, yaitu pembekalan, penilaian, dan pemberian penghargaan. 

Pada tahap pembekalan, selain memperoleh materi kebahasaan dan kesastraan, peserta juga mendapat pengetahuan tentang nasionalisme, pengembangan kepribadian, dan integritas dari sejumlah narasumber.  Narasumbernya, antara lain, Imam B. Prasodjo, Seno Gumira Ajidarma, Dr, Vivid Argarini, Wanda Hamidah, dan pejabat dari Badan Bahasa, Prof. Dr. Mahsun, M.S. (Kepala Badan Bahasa), Dr, Sugiyono (Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur dan Pelindungan), serta Dra, Yeyen Maryani, M.Hum (Kepala Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan sekaligus yang menjadi penanggung jawab kegiatan).

Pada tahap penilaian, aspek yang akan  dinilai adalah pengetahuan, ketrampilan, dan sikap peserta. Juri dan penilai untuk pengetahuan adalah Dr. Sugiyono (Badan Bahasa), Dr. Fairul Zabadi (Badan Bahasa), dan Dr a. Liliana Muliastuti, M.Pd (Universitas Negeri Jakarta); Juri dan penilai untuk keterampilan adalah Dra. M.P. Ira Hapsary, M.Hum (Badan Bahasa), Dra, Meity Taqdir Qodratillah, M. Hum (Badan Bahasa), dan Dr, Agustin R. Lakawa (Pusat Bahasa, Universitas Trisakti). Juri dan penilai terhadap sikap peserta adalah panitia.

Pada tahap pemberian penghargaan, juri akan memilih enam pasang duta bahasa terbaik yang akan memperoleh hadiah uang dan hadiah lainnya, Hadiah uang tersebut akan diberikan sesuai dengan  peringkat pemenang, yaitu pemenang 1 mendapat uang Rp14.000.000,00, pemenang 2, Rp12.000.000,00, pemenang 3, Rp10.000.000,00, pemenang 4 Rp7.000.000,00, pemenang 5, Rp6.000.000,00, dan pemenang 6, Rp5.000.000,00. (mla/tom)

 

Berikut nama-nama peserta Pemilihan Duta Bahasa 2014.

No

Nama

Provinsi

1

Ichwan

Aceh

2

Irma Kharisma

3

M. Ryan Ramadhan

Sumatera Utara

4

Feby Yoana Siregar

5

Radynal Hasnan M.

Sumatera Barat

6

Anisa Nurjanah

7

Ricko Afaldi Putra

Riau

8

Rismun Sufia Monike

9

Aruqmaana Rasyid

Jambi

10

Hetri Pima Anggara

11

Handri Yanto

Bengkulu

12

Sally Nurhabibi

13

Robi Prasetio

Sumatera Selatan

14

Riska Fitrah Aprianti

15

Sunarto

Kepulauan Riau

16

Kristie Onasis

17

Eko Apriansyah

Bangka Belitung

18

Dian Utari

19

Gisella Anasthasia Sugianto

Banten

20

Andri Wibowo

21

Rahardyan Shukmawan

DKI Jakarta

22

Safira Al Khansa

23

Restu Surya Dinagara

Jawa Barat

24

Yanti Silviana

25

Muh Irfan

Jawa Tengah

26

Ghoniyati Rohmah

27

Satya Permana

DI Yogyakarta

28

Disma Ajeng Rastiti

29

Triyanto Adi Sampurno

Jawa Timur

30

Aisyah Ayu Anggraeni Hidayat

31

Ayu Indah Carolina

Bali

32

Made Adi Suadnyana

33

Hilman Qudratuddarsi

Nusa Tenggara Barat

34

Amy Shientiarizki

35

Andreas Yoseph Witak

Nusa Tenggara Timur

36

Maya Riyani Therik

37

Dwi Purwanto

Kalimantan Barat

38

Yoanna Afrimonika

 

 

Gambar: 

Berita

URL: 
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/berita/1515/Penganugerahan%20Piala%20Adibahasa%202014%20Provinsi%20Kalimantan%20Timur
Display
Main Slideshow: 
Tidak
Second Slideshow: 
Tidak
Urutan: 
8

Penganugerahan Piala Adibahasa 2014 Provinsi Kalimantan Timur

Tanggal: 
10/28/2014
Cuplikan: 
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-86 di Provinsi Kalimantan Timur terlihat berbeda dari tahun sebelumnya. Pada peringatan tahun ini, Selasa, 28 Oktober 2014 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur merangkai kegiatan tersebut dengan penganugerahan Piala Adibahasa 2014 Provinsi Kalimantan Timur.
Isi Berita: 

Samarinda—Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-86 di Provinsi Kalimantan Timur terlihat berbeda dari tahun sebelumnya. Pada peringatan tahun ini, Selasa, 28 Oktober 2014 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur merangkai kegiatan tersebut dengan penganugerahan Piala Adibahasa 2014 Provinsi Kalimantan Timur.  Penganugerahan yang dilaksanakan di halaman Kantor Gubernur tersebut merupakan hasil kerja sama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, melalui Biro Sosial, dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, melalui Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, sebagai tindak lanjut ditandatanganinya Kesepakatan Bersama antara Gubernur Kalimantan Timur dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 

     Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, Dr. H. Awang Faroek Ishak  dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah melaksanakan kegiatan penilaian Adibahasa tersebut pada 23 September sampai dengan 10 Oktober 2014. Pelaksanaan kegiatan tersebut dimaksudkan dan ditujukan untuk membangkitkan bahasa Indonesia sebagai identitas budaya bangsa karena bahasa selain menjadi sarana komunikasi juga merupakan pondasi dalam membangun  bangsa yang berbudaya. Penghargaan Adibahasa Provinsi Kalimantan Timur merupakan apresiasi untuk kabupaten/kota se-Kaltim yang telah menunjukkan perhatian dan dukungan yang besar bagi pengembangan bahasa Indonesia. Dalam penilaiannya, kriteria yang dinilai antara lain menyangkut penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik di ruang publik maupun dalam penerapan pada tata kelola pemerintahan. Kegiatan penilaian dan penghargaaan Adibahasa di Kalimantan Timur ini merupakan tantangan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan agar pada masa mendatang menjadi lebih baik. Gubernur juga menyatakan bahwa penilaian tersebut merupakan kali pertama yang dilakukan pada tingkat provinsi di Indonesia sehingga menjadikan Provinsi Kalimantan Timur sebagai provinsi pertama di Indonesia yang melakukan penilaian adibahasa tingkat provinsi.

     Penilaian dilaksanakan oleh tim dari Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dengan narasumber dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Dr. Sugiyono dan Drs. Mustakim, M.Hum). Adapun peraih peringkat I sekaligus berhak menerima Piala Adibahasa Tingkat Provinsi Kalimantan Timur adalah Pemerintah Kota Balikpapan yang diwakili oleh Sekretaris Kota Balikpapan. Peringkat kedua hingga terakhir (kesembilan) diperoleh Kabupaten Paser, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Berau, Kota Bontang, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat, dan Kota Samarinda.

     Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menetapkan Piala Adibahasa merupakan piala bergilir yang diberikan oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Timur kepada walikota atau bupati yang memenangi penilaian Adibahasa dalam upacara Sumpah Pemuda. Adapun wujud Piala Adibahasa Provinsi Kalimantan Timur merupakan replika dengan ukuran yang lebih kecil dari Piala Adibahasa tingkat nasional (Er/IBU).

Gambar: 

Peran Duta Bahasa Harus Dimaksimalkan

Tanggal: 
10/27/2014
Cuplikan: 
Peran Duta Bahasa itu harus dimaksimalkan sampai bisa menjadi pendorong bagi daerahnya untuk meraih penghargaan Adibahasa (penghargaan untuk provinsi yang terbaik dan tertib dalam menggunakan bahasa). Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Prof. Dr. Mahsun, M.S. dalam sambutannya pada Acara Pembukaan: Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2014 yang berlangsung di Hotel Mercure, Ancol, Senin 27 Oktober 2014.
Isi Berita: 

Jakarta—Duta Bahasa itu bukan sekadar gelar, tetapi kerja. Oleh karena itu, para finalis Duta Bahasa Tingkat Nasional 2014 yang datang ke Jakarta mewakili provinsinya masing-masing itu bukan hanya untuk memperebutkan gelar, tetapi juga harus menunjukkan hasil kerjanya yang nyata di daerahnya masing-masing. Peran Duta Bahasa itu harus dimaksimalkan sampai bisa menjadi pendorong bagi daerahnya untuk meraih penghargaan Adibahasa (penghargaan untuk  provinsi yang terbaik dan tertib dalam menggunakan bahasa). Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Prof. Dr. Mahsun, M.S. dalam sambutannya pada Acara Pembukaan: Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2014 yang berlangsung di Hotel Mercure, Ancol, Senin 27 Oktober 2014.      

     Duta Bahasa itu, menurut Mahsun, juga harus bisa berdiplomasi. Mereka harus bisa  meyakinkan pemerintah daerahnya untuk meningkatkan peran bahasa Indonesia dalam rangka memperkokoh persatuan dan pertahanan Indonesia. Mahsun sangat berharap selama dalam karantina para finalis mendapatkan bekal teknis kebahasaan yang sangat memadai agar mereka bisa melaksanakan tugasnya dengan baik di lapangan. 

     Mereka juga harus dibekali pengetahuan menyusun proposal yang baik, cara mengenali dan mengidentifikasi masalah, dan hal lainnya yang berhubungan dengan tugas dan kewajiban mereka sebagai Duta Bahasa. Kalau pengetahuan itu dikuasai mereka, mereka akan lebih mudah dalam menjalankan misinya.

     Mahsun pun tidak tanggung-tanggung dalam memberi dukungan kepada Duta Bahasa, Mahsun bermaksud meminta bantuan kepala balai/kantor bahasa se-Indonesia untuk mengumpulkan semua Duta Bahasa,  Duta Bahasa angkatan pertama (tahun 2004) sampai yang terbaru (2014) untuk digembleng ulang dan diberi bekal tambahan. Tujuannya tentu saja untuk lebih meningkatkan kinerja para Duta Bahasa tersebut, terutama untuk menciptakan tertib berbahasa di daerahnya masing-masing. Pertemuan akbar itu juga dimaksudkan untuk membentuk komunitas duta bahasa agar mereka saling mengenal dan dapat lebih bersinergi dalam bekerja. 

     Mahsun, yang membatalkan perjalanannya ke daerah demi membuka dan bertemu secara langsung dengan para finalis Duta Bahasa 2014, bahkan bermaksud menyediakan dana untuk mendukung aktivitas para Duta Bahasa di daerahnya masing-masing. Sikap dan niat baik Mahsun itu disambut dengan antusias oleh para finalis. Mereka mengaku bangga dan bahagia mendapat perhatian penuh dari Kepala Badan Bahasa.      

     Untuk menandai dimulainya Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2014 secara resmi, Mahsun melampirkan samir (selempang) di bahu dan menyematkan pin di dada dua orang finalis yang mewakili seluruh finalis Duta Bahasa 2014. Mereka yang didaulat sebagai perwakilan itu adalah Radynal Hasnan M (Provinsi Sumatera Barat) dan Kristie  Onasis (Provinsi Kepulauan Riau).    

     Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2014 diikuti oleh 28 pasang duta bahasa yang mewakili 28 provinsi. Karantina Duta Bahasa akan berlangsung sampai tanggal 29 Oktober 2014, dan pengumuman pemenangnya akan dilaksanakan pada acara Puncak Bulan Bahasa, Kamis 30 Oktober 2014, di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.(mla/tom)

Gambar: 

Puncak Acara Bulan Bahasa dan Sastra 2012

Tanggal: 
10/31/2012
Foto Banner: 
Foto atau Gambar: 

Badan Bahasa Menggelar Puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2012

Tanggal: 
10/30/2012
Cuplikan: 
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan Acara Puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2012 di Gedung Samudra, Rawamangun, Jakarta (Selasa, 30 Oktober).
Isi Berita: 

Jakarta—Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan Acara Puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2012 di Gedung Samudra, Rawamangun, Jakarta (Selasa, 30 Oktober). Acara Puncak merupakan akhir  penyelenggaraan Bulan Bahasa dan Sastra 2012 yang telah berlangsung selama sebulan penuh, sepanjang Oktober. Tema yang diangkat adalah “Bahasa Indonesia Perekat Kerukunan Hidup Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara”.

Acara itu dihadiri oleh Kepala Badan Bahasa, pejabat Kemendikbud, pejabat Badan Bahasa, guru, mahasiswa, siswa, dan sastrawan. Dalam acara puncak itu dilakukan pengumuman pemenang lomba dan sayembara, penyerahan hadiah serta pemberian Penghargaan Badan Bahasa 2012 kepada sastrawan dan Penghargaan Sastra kepada pendidik (guru SD, SMP, SMP, dan SMA).

Dalam acara itu ditampilkan, antara lain, tarian “Puspa Wresti” yang dibawakan oleh Kadek Ridoi Rahayu dan I Gde Wahyu Adi Raditya (Duta Bahasa 2012 dari Bali), lagu “Rang Kayo Hitam” yang dibawakan oleh Dellon Kuswari (Duta Bahasa 2012 dari Jambi), dan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh SMAK 5 Penabur, Jakarta (Penampil Terbaik I Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SLTA Se-Jabodetabek). Yang mencuri perhatian adalah penampilan SMAN 6 yang berkolaborasi dengan SMAN 70 Jakarta. Mereka tampil kompak membawakan lima buah karya dalam musikalisasi puisi dengan tema “Jangan Menangis Tanah Airku”. Siswa kedua sekolah itu tampil dengan penuh rasa persahabatan.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Bahasa, Prof. Dr. Mahsun, M.S., menyatakan bahwa kondisi bahasa Indonesia pada saat ini, yang belum menjadi tuan di negeri sendiri, membuat Badan Bahasa sebagai satu-satunya institusi pemerintah yang membidangi masalah kebahasaan dan kesastraan secara rutin menyelenggarakan kegiatan bulan bahasa dan sastra dengan harapan bahasa Indonesia bisa menjadi tuan di negeri sendiri.

Tujuan Bulan Bahasa dan Sastra 2012 ialah menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa dan sastra Indonesia dalam rangka mempererat kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menuju masyarakat Indonesia yang berkarakter dan berdaya saing tinggi.

Bulan Bahasa dan Sastra tahun ini melibatkan siswa, mahasiswa, guru, sastrawan, masyarakat umum, dan orang asing (Lomba BIPA). Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi Penilaian Penggunaan Bahasa di Media Massa Cetak (Tingkat Nasional), Debat Bahasa Antarmahasiswa se-Jabodetabek dan Banten, Pemilihan Duta Bahasa (Tingkat Nasional), Sayembara Penulisan Proposal Penelitian Kebahasaan dan Kesastraan (Tingkat Nasional), Sayembara Penulisan Cerpen Remaja (Tingkat Nasional), Lomba Keterampilan Berbahasa Indonesia bagi Peserta BIPA (Tingkat Internasional), Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan  (Tingkat Nasional), Festival Musikalisasi Puisi bagi Siswa SLTA se-Jabodetabek dan Parade Mural Cinta Bahasa Indonesia.(an/lus)

 

 

 

                                                                                            

 

 

 

Gambar: 
Syndicate content