Godi Suwarna



Godi Suwarna

Godi Suwarna merupakan salah seorang sastrawan potensial di Jawa Barat. Pria kelahiran Tasikmalaya pada tanggal 23 Mei 1956 juga dikenal sebagai sastrawan multitalenta. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di kampung Cirikip, Tasikmalaya. Pendidikan SD diselesaikannya di SD Neglasari Tasikmalaya (lulus tahun 1969), pendidikan SMP di SMP Panawangan, Ciamis (1972), dan  pendidikan SMA di SMA Pasundan Tasikmalaya (1975). Setelah itu, ia melanjutkan kuliahnya di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, IKIP Bandung. Kuliahnya itu ia tuntaskan pada tahun 1979. Ia juga  mahir menulis puisi, drama, novel, cerpen, dan fiksi mini. Selain piawai dalam menulis karya sastra beragam genre, Godi Suwarna juga dikenal sebagai aktor andal. Kemampuan dalam berakting di panggung teater diperoleh Godi selama bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB) yang dipimpin oleh Suyatna Anirun. Salah satu drama yang dibintanginya adalah drama berjudul King Lear, Sang Naga, dan Impian di Tengah Musim. Selain bertindak sebagai aktor, Godi juga piawai sebagai sutradara. Salah satu pentas yang disutradarainya adalah pergelaran puisi Konglomerat Kéré Lauk di Universitas Wollongong, Australia, pada tahun 1997.

    Godi Suwarna memiliki karakter yang unik dalam berekspresi di dunia sastra dan seni serta dalam penampilan di atas panggung.  Karakter yang unuik itu juga melekat pada diri Godi dalam penampilan keseharian. Dengan demikian, tidak mengherankan jika Rendra sangat mengagumi keunikan yang kental dalam setiap penampilannya. Kekaguman Rendra tersebut diwujudkannya dengan mendaulat Godi Suwarna sebagai aset dalam khazanah sastra Nusantara. Selain dalam penampilan, karya yang ditulis Godi sarat dengan kekhasan yang hanya dimiliki olehnya. Hal itu yang membedakan karya Godi dengan karya sastrawan Sunda lainnya. 

    Karya sastra yang ditulis Godi disampaikan dengan bahasa Sunda yang mengalir ibarat arus sungai deras. Hal itu terwujud karena penguasaan Godi terhadap bahasa ibu (Sunda) dan wawasan tentang kesundaan sangat luar biasa. Terkadang isi karya sastra yang ditulisnya dihiasi dengan kosakata arkais. Tidak jarang pembaca dibuat ketar-ketir dalam menyibak tabir makna di balik karya Godi. Imajinasinya yang luas, kaya, dan cenderung liar melahirkan karya yang tidak kalah eksentriknya dengan karakter penulisnya. Penguasaan terhadap cerita pewayangan, seperti Ramayana dan Mahabarata, dipadu dengan kejelian Godi terhadap situasi negeri saat itu mampu menjungkirbalikkan peranan tokoh pewayangan dari tempat dan posisi seharusnya. Ia menginginkan Sunda dalam sastra yang peka terhadap perkembangan zaman dengan segala kompleksitasnya. Salah satu cerpennya yang bertema dunia politik, “Murang-Maring”,  menghadirkan anggota dewan yang terdiri atas anggota Panakawan dan Pandawa dengan segala karakter khas mereka dan nuansa komedi.

    Godi yang dikenal dengan jargonnya “sudah meninggalkan dunia hitam” kini menetap di Ciamis. Di tempat itu, ia menjalani kehidupannya bersama istrinya, Rahmayanti Nilakusumah yang berprofesi sebagai penari. Dari  perkawinannya itu, mereka mempunyai empat anak, yaitu Denisha, Rengganis, Galia Matadewa, dan Welas Wulanari. 

    Bakat seninya semakin terasah dengan minatnya pada bacaan sastra karya sastrawan ternama, baik dalam maupun luar negeri. Aktivitasnya menulis puisi yang dimulai  tahun 1976 hingga sekarang melahirkan beberapa kumpulan puisi. Selain itu, ia menulis cerpen, novel, dan naskah drama. Aktivitasnya sebagai peminat drama telah memperkaya kepiawaiannya dalam dunia seni. Kepiawaian tersebut ia tunjukkan kepada khalayak, di antaranya, tahun 2005 dalam acara Utan Kayu International Literary Biennale yang diselenggarakan oleh  Teater Utan Kayu (TUK) dan  Poetry Festival yang diselenggarakan oleh  Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Jakarta International Literary Festival  Tahun 2008 (JILFEST 2008), serta Jakarta-Berlin Arts Festival di Jerman pada tahun 2011.

    Sejak tahun 1998, Godi Suwarna aktif menggagas acara festival kebudayaan semalam suntuk yang dinamakan Nyiar Lumar. Festival tersebut sangat unik karena diselenggarakan di hutan keramat Astanagedé, Kawali, peninggalan Kerajaan Galuh, Kabupaten Ciamis. Kesan keramat semakin terasa karena perhelatan budaya akbar itu hanya bersandar pada penerangan tradisional yang berasal dari obor, cempor, lampion, dan api unggun. Perhelatan budaya tersebut dijadwalkan setiap dua tahun sekali. Acara tersebut mengundang banyak perhatian kalangan seniman dalam dan luar negeri. Selain itu, bersama istrinya, Godi Suwarna juga mendirikan Sanggar Titik Dua yang setiap waktu terbuka bagi para peminat sastra dan seni. Berikut ini, antara lain,  adalah karya yang telah dciptakan oleh Godi Suwarna.

 Karya

    a. Kumpulan Cerpen

  1. Murang-Maring (1980)
  2. Serat Sarwasatwa (1995)

    b. Novel:

  1. Sandékala
  2. Deng

    c. Kumpulan Puisi:

  1. Antologi Puisi Sunda Mutahir
  2. Jagad Alit (1979)
  3. Surat-Surat Kaliwat (1984)
  4. Blues Kere Laut (1992)
  5. Sajak Dongeng S. Ujang (1998)

    d. Drama:

  1. “Burung-burung Hitam”
  2. “Orang-orang Kelam”
  3. “Gaok-Gaok Geblek”
  4. “Durmayuda”
  5. “Cak Anumerta”
  6. “Gor-Gar”

     e. Fiksi Mini

  1. 2012: Sanghiang Bedug”, “Tukang Parahu Xv”, “Open House”,  “Halo-halo Bandung”, “Tukang Parahu Xvi”,  ”Tukang Parahu Xvii”, ”Ringkang Sang Dangiang 2”, ”Désa Wisata”, “Tokééé..! Tokééé..! Tokééé..!”, “Tukang Parahu Xviii”, “Malem Minggu”, ”Luwang-Liwung”, ”Dongéng Rayagung”, ”Adam & Béker”, ”The Battle For Freedom” , ”Kalangkang Peuting” , , ”Tukang Parahu Xx””Eureup-Eureup”, ”Ucing Garong”, ”Tukang Parahu Xix”, “Tom & Jerry” ,  dan  ”Serat Kasmaran”.
  2. 2013: Si Éyank & Si Ayank”,  “Tukang Parahu Xxi”, “Tukang Parahu Xxii”, “Tatangga Sabeulah”, “Leuweung Tutupan”,  “Tuluuung..! Tuluuung..!”,  “Patriot Proklamasi”, danLalakon Bumi Ageungan.

 

Penghargaan

  1. Sutradara Terbaik Porseni Jawa Barat (1980)
  2. Sutradara Terbaik Porseni Nasional (1981)
  3. Hadiah Sastra Rancagé untuk buku kumpulan puisi Blues Kere Lauk (1993)
  4. Hadiah Sastra Rancagé untuk buku kumpulan cerpen Serat Sarwasastra (1996)
  5. Hadiah Sastra Paguyuban Pasundan untuk naskah novel Sandékala (1998)
  6. Hadiah Sastra Oeton Moechtar untuk novel Deng (2000)
  7. Hadiah Sastra Rancagé untuk novel Sandékala (2007) (LS)