Suardi Tasrif



Suardi Tasrif

Suardi Tasrif lahir 3 Januari 1922 di Cimahi, Jawa Barat. la adalah anak pasangan Mohammad Tasrif dan Siti Hapzah.Suardi Tasrif menikah dengan Ratna Hajari Singgih pada tanggal 19 Juli 1949 di Cigunung, Bogor. Mereka dikaruniai enam orang anak, Haydarsyah Rizal, Gaffarsyah Rizal, Handriansyah Razad, Irawansyah Zehan, Praharasyah Rendra, dan Furi Sandra Puspita Rani. Keenam anak Suardi Tasrif tersebut telah berkeluarga dan telah memberikannya sembilan orang  cucu.

            Suardi Tasrif mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa segala sesuatu harus terencana dengan baik sehingga tidak ada semacam ketergantungan. Menurut istrinya, Suardi Tasrif adalah sebagai orang yang bersifat universal, intensif dalam pergaulan dan pekerjaan (semua tenaga dan pikiran tercurah pada hal tersebut), serta berwawasan luas. Suardi Tasrif juga mengajarkan bahwa hidup harus fleksibel, mengabdi pada negara, dan memiliki rasa sosial.

            Suardi Tasrif memulai debutnya di bidang sastra mulai tahun 1945. Dalam waktu relatif pendek (sekitar lima tahun) ia telah berhasil menyelesaikan beberapa cerita pendek, puisi, naskah drama, dan beberapa buah artikel sastra. Sayangnya, keinginannya menjadi sastrawan itu didasari oleh ajakan Usmar Ismail. Akibatnya, setelah Usmar Ismail meninggal, ia merasa kehilangan semangat untuk menulis karya sastra. Oleh karena itu nama Suardi Tasrif memang jadi lebih dikenal orang sebagai seorang pengacara yang andal dan mantan wartawan senior daripada seorang sastrawan. Pendidikan Suardi Tasrif selanjutnya memang berhubungan dengan dunia hukum dan jurnalistik. Sebenarnya sejak kecil Suardi Tasrif memang sudah kagum dan tertarik pada masalah sosial dan hukum. Suardi Tasrif mengagumi dua tokoh pengacara (Sastra Mulyana dan Mr. Ishaq Cokrohadisuryo) yang membela Bung Karno di pengadilan Kolonial Belanda tahun 1930-an.

         Tahun 1994 Suardi Tasrif mendapat anugerah Bintang Mahaputra Kelas II atas jasa-jasanya yang diberikan kepada negara. Profesinya sebagai pengacara menurun kepada anaknya, Haydarsyah Rizal dan Irawansyah.

            Suardi Tasrif mengawali pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) tahun 1929-1936. Lalu, ia melanjutkan pendidikannya ke MULO (setingkat SMP) tahun 1936-1939, dan ke AMS (setingkat SMA) tahun 1939-1942. Setelah itu, Suardi Tasrif melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, tahun 1462-1965. Selain pendidikan formal, Suardi Tasrif juga mengikuti pendidikan nonformal di Universitas Colombia (kursus politik).

            Suardi Tasrif mengawali pekerjaannya sebagai penyiar radio Suara Indonesia, yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono IX. la terhitung sebagai penyiar radio Republik Indonesia bagian luar negeri yang pertama. Suardi Tasrif pernah pula membantu Usmar Ismail mengelola majalah Tentara dan Arena di Yogyakarta. Selanjutnya, Suardi Tasrif menjadi pemimpin redaksi surat kabar Harian Abadi sampai tahun 1958. Surat kabar itu dibreidel oleh pemerintahan Presiden Sukarno.

            Suardi Tasrif pernah menjadi Ketua Umum Peradin (Persatuan Advokat Indonesia). Di samping itu, ia juga salah seorang yang turut memperjuangkan berdirinya LBH (Lembaga Bantuan Hukum) tahun 1970 dan ikut membentuk Ikadin (Ikatan Advokat Indonesia).

         Suardi Tasrif merupakan wartawan pertama yang mengajarkan bahwa berita harus berdasarkan fakta yang lepas dari opini dan ia juga menganut paham bahwa wartawan pantang menerima imbalan atas penulisan beritanya.Gagasan Suardi Tasrif itu tertuang dalam kode etik jurnalistik tahun 1954.

 

Karya

a.    Karya Sastra

  1. Sajak-Sajak Remaja (kumpulan sajak). 1971. Jakarta : Sinar Hudaya.
  2. Jalan Kembali (kumpulan cerpen). 1971. Jakarta : Sinar Hudaya.
  3. “Yogya Bukan Hollywood” (drama, 1981).

b.    Karya Lain

  1. Pengarang-Pengarang Amerika : Orientasi Baru untuk Pengarang-Pengarang Indonesia (esai). Majalah International. September/Oktober 1949.
  2. Beberapa Hal Tentang Cerita Pendek (dalam Lubis, 1981).
  3. Cannery Row karya John Steinbeck (timbangan buku). Siasat, 18 Januari 1948.
  4. Pasang Surut Kerajaan Merina : Sejarah Sebuah Negara yang Didirikan Oleh Perantau-Perantau Indonesia di Madagaskar (sejarah). 1966. Jakarta: Balai Muda Media.
  5. Menegakkan Rule of Law di Bawah Orde Baru (hukum). 1971. Jakarta: Peradin.
  6. Tiga Laporan Perjalanan Jurnalistik Februari 1953 (laporan perjalanan).Jakarta: Penerbit   Kementerian Penerangan.