Aman Datuk Madjoindo



Aman Datuk Madjoindo

Nama Aman Datuk Madjoindo sudah  tidak asing lagi dalam dunia sastra di Indonesia. Terutama dalam dunia cerita anak. Salah satunya adalah Si Doel Anak Betawi. Aman lahir di Supayang, Solok, Sumatera Barat pada tahun 1896. Anak laki-lakinya bernama Rusli dan anak perempuannya bernama Sitti Damsiar. Karena Aman dan istrinya bercerai, Rusli dibawa ibunya pindah ke Malaysia dan bersekolah di sana. Sitti Damsiar bersama dengan Aman. Sitti Damsiar memberikannya sepuluh orang cucu. Cucunya yang kedua, Raihul Amar, gelar Datuk Besar, suka menulis. Aman sangat gembira karena merasa bahwa cucunya itulah yang telah mewarisi bakat menulisnya. Akan tetapi, cucunya itu ternyata memilih bidang kedokteran sebagai tujuan hidupnya dan bakat menulisnya tidak diteruskan.  

              Aman Datuk Madjoindo bersekolah di Inlansche School (Sekolah Bumiputera) Kelas II tahun 1906-1911. Aman bercita-cita menjadi seorang pengarang. Selain itu, ia juga ingin menjadi redaktur dan penerjemah. Saat itu ada Balai Pustaka yang tugasnya menerjemahkan buku anak-anak berbahasa Belanda ke dalam bahasa Melayu. Aman ingin sekali bekerja di situ, ikut menerjemahkan dan menjadi staf redaksinya. Oleh karena itu, ia berhasrat mengikuti kursus bahasa Belanda. Kursus itu dilaksanakan sore hari di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara). Karena tempat tinggalnya jauh dari tempat kursus, ia pindah dan menumpang di rumah ibu Sarimun, di Meester Cornelis, agar kalau pulang malam hari tidak terlalu jauh.

              Setelah lulus kursus, barulah Aman diangkat menjadi redaktur. Setelah menjadi redaktur, ia mempunyai banyak kesempatan untuk menyadur, menerjemahkan. dan menyusun karangannya.

              Aman bekerja di Balai Pustaka bersama Nur Sutan Iskandar yang menjadi Meleische Redactuur 'Redaksi bahasa Melayu'. Selain bersama Nur Sutan Iskandar, Aman juga berkenalan dengan staf redaksi yang lain, yaitu Tulis Sutan Sati, Sutan Muhammad Zein, dan Sutan Pamuntjak yang menurut pengakuannya banyak mempunyai andil dalam perjalanan kariernya.

              Aman Datuk Madjoindo adalah seorang karyawan yang tekun bekerja, tetapi kurang memperhatikan kesehatan. Akibatnya, ia terserang sakit paru-paru dan harus dirawat di Sanatorium Cisarua Bogor. Karena penyakitnya, pada tahun 1927, ia mengambil cuti dan istirahat di Solok, kota kelahirannya. Ia memilih Solok karena udaranya sama dengan di daerah Cisarua. Namun, di Solok ternyata ia tidak dapat beristirahat. Akibatnya, kesehatannya tidak juga bertambah baik. Setelah cutinya habis, ia kembali ke Jakarta. Akan tetapi, baru beberapa bulan bekerja, ia harus kembali ke Sanatorium.

              Aman berhenti bekerja dari Balai Pustaka pada tanggal 30 Juni 1958. Namun, hal itu bukan berarti ia benar-benar berhenti bekerja. Pada keesokan harinya, ia sudah mulai bekerja kembali di penerbit lain, yaitu penerbit Djambatan yang dipimpin oleh Sutan Pamuntjak.

              Proses kreatif sastra Aman dimulai sejak ia masih di bamgku sekolah. Akan tetapi, pendorong utamanya adalah saat ia ingin menulis cerpen itu untuk mengisi nomor majalah mingguan di Balai Pustaka yang bernama Panji Pustaka. Kemudian proses itu berlanjut. Keluar dari Sanatorium Cisarua, Aman mempunyai keinginan untuk mengarang cerita tentang anak-anak Betawi asli yang tidak mau hersekolah dan hanya mengaji sehingga ketinggalan dari teman-temannya yang datang dari luar Betawi. Keinginan itu diwujudkan dalam karyanya yang berjudul Si Dul Anak Betawi. Cerita itu dibuatnya dengan menggunakan dialek Betawi (Jakarta). Karya Aman itu sangat terkenal walaupun ditulisnya hanya dalam waktu dua sampai tiga bulan saja. Dalam pendahuluan buku itu disebutkan alasan pengarang menggunakan dialek Jakarta. Alasannya adalah agar orang di luar Jakarta dapat mengetahui bagaimana dialek Jakarta itu.

              Novel Pertolongan Dukun, karya Aman yang lain, adalah lanjutan cerita dari novel Si Dul Anak Jakarta. Buku itu dulu berjudul Perbuatan Dukun, tetapi kemudian diganti menjadi Pertolongan Dukun. Novel itu juga ditulis dalam dialek Jakarta. Novel itu banyak menggambarkan adat istiadat Jakarta, terutama mengenai kehidupan sehari-hari yang herhubungan dengan perjodohan atau perkawinan.

              Aman adalah seorang pemikir. Apa yang dilihatnya selalu dipikirkannya. Apa yang dipikirkannya menjadi bahan renungan dan bahan penulisan karyanya. Karena yang dipikirkannya beragam, karyanya pun beragam. Ia menyaksikan kehidupan buruh di kota besar dengan segala kesukaran hidup mereka sehingga mereka banyak berhutang. Dia melihat orang-orang yang berkuasa dan memiliki uang terus mempermainkan kehidupan orang yang lemah, baik tingkat sosial, maupun ekonominya. Apa yang dilihatnya itu, dipikirkannya, dan dijadikannya novel. Ia ingin menunjukkan jalan keluar bagi si lemah untuk mengatasi masalahnya. Hal itu tergambar dalam novelnya yang berjudul Sebabnya Rafiah Tersesat.

              Ketika Aman berada di daerah Puncak, sekitar perkebunan teh, selama tiga bulan, ia banyak melihat kemesuman yang dilakukan oleh tuan-tuan Belanda perkebunan (onderneming). Perbuatan mesum yang menimpa wanita-wanita dusun yang dilihatnya itu sangat menyiksa batinnya. Rentetan peristiwa yang disaksikannya itu, terutama yang dialami oleh gadis-gadis yang hidup di perkebunan itu, dituangkannya dalam novel Menebus Dosa.

              Aman juga menulis tentang masalah antarsuku. la teringat kepada seorang dari suku Nias di Padang ketika ia menjadi guru di Ulak Karang. Orang Nias itu ingin bermenantukan bangsawan Padang yang bergelar Sutan. Masa itu suku Nias dipandang rendah oleh masyarakat Padang, bahkan dihina. Berdasarkan hal itu Aman mulai menyusun cerita selama tiga bulan dan diberinya judul Si Cebol Rindukan Bulan (1942). Cerita itu memberikan pengetahuan kepada pembaca bahwa keinginan haruslah disesuaikan dengan kemampuan.

              Masalah antarsuku itu mengganggu pikiran dan perasaan Aman Datuk Madjoindo. Rasa kebangsaannya yang tinggi membuatnya tidak bisa berdiam diri. la mempunyai cita-cita untuk membangkitkan rasa persatuan bangsa Indonesia melalui percampuran darah atau perkawinan. Perkawinan antarsuku, menurut Aman, akan melenyapkan perasaan lebih tinggi dari suku pada suku lainnya. la berpendapat bahwa tugas itu bukan tugas para pemimpin dan pemikir saja, melainkan juga merupakan tugas seluruh bangsa Indonesia. Pikiran dan kehendaknya itu diwujudkan Aman dalam karyanya yang berjudul Rusmaladewi yang menceritakan pertemuan antara  orang dari Jawa dan Andalas (Sumatera). Buku itu ditulis oleh Aman bersama dengan Soejono Hardjosoemarto.

              Perhatian Aman juga sangat banyak tertuju kepada anak-anak. Oleh karena itu banyak karya Aman yang berupa cerita anak-anak. Salah satu di antaranya adalah yang berjudul Srigunting. Nama buku itu berasal dari nama burung srigunting yang mempunyai keberanian yang sangat besar. Dalam cerita itu Aman melukiskan keberanian dan semangat pahlawan dalam dada anak-anak dan pemuda masa itu. Dalam kata pengatar buku itu disehutkan hahwa tujuan penulisan huku itu adalah untuk membangkitkan semangat dan keberanian anak-anak untuk membela keadilan dan kebenaran di hari nanti seperti semangat dan keberanian srigunting.

              Selain untuk menimbulkan semangat anak-anak, cerita anak itu juga bertujuan memberikan hiburan, yang berupa penggeli hati, dan teka-teki untuk mengasah keterampilan berpikir. Hal itu terlihat pada buku yang berjudul Pak Janggut dan Bujang Bingung. Buku-buku itu merupakan cerita penggeli hati yang juga bertendensi pendidikan. Pada pendahuluan buku Apakah Itu? (teka-teki) jelaskan bahwa teka-teki itu merupakan permainan yang dapat menggembirakan anak-anak pada saat mereka herkumpul atau sedang beristirahat.

              Kebiasaan orang di kampung Aman ialah apabila anak laki-laki sudah berusia enam atau tujuh tahun mereka tidak diperbolehkan tidur di rumah. Mereka diusir ke surau untuk mengaji sampai dewasa. Di surau itulah mereka biasanya bermain teka-teki. Teka-teki itulah yang dikumpulkan Aman dan diterbitkan menjadi sebuah buku.

              Ketika pertama kali ia menulis cerita tentang anak-anak, hal itu juga atas anjuran Sutan Pamuntjak. Aman suka menulis cerita tentang anak-anak di kampungnya, kehidupan yang benar-benar dikenalnya, seperti menggembalakan kerbau, bermain layang-layang kehidupan di surau, di sekolah, dan berkelahi. Cerita-cerita dari Tom Sowyer penulis Amerika yang disukainya, juga memberikan banyak inspirasi bagi Aman. Ia mulai menulis tokoh Mustapa yang merupakan gambaran dirinya saat masih kecil. Kisah Mustapa berakhir bahagia. Tokoh Mustapa kemudian menjadi teladan bagi teman-temannya. Cerita itu pertama-tama diterbitkan dengan judul Anak Desa. Namun, pada cetakan kemudian, judulnya diubah menjadi Cita-Cita Mustapa, agar ada kesesuaian antara judul dan isi, yaitu tentang anak desa yang mempunyai cita-cita dan kemampuan yang tidak kalah oleh cita-cita anak kota. Di negeri Belanda pada tahun 1935, buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul Desa Jongen.

              Selain sebagai pengarang, Aman juga seorang penerjemah. la sangat terkesan dengan cerita Belanda yang berjudul De Club van Zessen Klaar. Buku itu menceritakan anak-anak Belanda pada saat musim dingin, yaitu pada saat selokan beku dan jalan-jalan tertutup es. Lalu, ia bersama Sutan Pamuntjak membuat terjemahan bebasnya dan menghasilkan buku yang berjudul Kembar Enam karya John Kieviet jilid satu dan dua. Buku itu merupakan terjemahan Aman yang pertama. Aman juga menyukai pengarang cerita anak-anak Inggris, dan Johan Buss, pengarang Belanda. Terjemahan Aman yang lain adalah Setangkai Daun Surga karya Cor Bruijn.

              Rupanya Aman adalah orang yang sangat senang menulis. la tidak saja mengarang dan menerjemahkan, tetapi juga menyadur dan mengumpulkan cerita. Ia suka menyadur atau menceritakan kembali cerita-cerita lama atau dongeng yang pernah didengarnya, misalnya, cerita klasik di Minangkabau yang mungkin berasal dari cerita Seribu Satu Malam yang menceritakan perkawinan orang bumi dengan orang langit.

              Cerita itu di Minangkabau diungkapkan dengan pantun berbalas. Aman ingin agar tradisi orang Minangkabau dalam berkasih sayang diketahui orang luar daerahnya. Keinginannya itu lalu ditulisnva dalam buku Cerita Malim Deman dan Putri Bungsu. Cerita Putri Bungsu itu didengar oleh Aman dari neneknya yang sudah berumur seratus tahun ketika ia masih kecil. Dalam cerita itu Putri Bungsu dimarahi orang tuanya, lalu pergi dari rumahnya hingga sampai ke bulan. Cerita neneknya itu sangat berkesan bagi Aman.

              Cerita lama lain yang disusun oleh Aman ialah Goel Bakawali yang berupa fiksi lirik. Cerita itu berasal dari tanah Hindu. Pada tahun 1712 cerita itu disalin pujangga Benggali, yang bernama Izzatullah dari bahasa Hindi ke dalam bahasa Parsi dengan judul Goel-i-Bakawali Bunga Mawar Bakawali. Pada tahun 1804 cerita dalam bahasa Parsi itu disalin oleh pengarang yang bernama Nihal Chard ke dalam bahasa Urdhu dan pada cetakan kedua judulnya diubah menjadi Mazhab-i-‘Isja. Karena ceritanya menarik, banyak pengarang menerjemahkan cerita itu. Pengarang Prancis, Garcin de Tassy, menerjemahkannya dari bahasa Parsi dengan nama La Rose de Bakawali. Cerita dari Prancis itulah yang disyairkan Aman ke dalam bahasa Melayu. Akan tetapi, cerita itu sudah dipersingkat Aman karena dianggap terlalu panjang.

              Saduran Aman yang lain ialah Cindur Mata serta Tambo Minangkabau dan Adatnya yang disadurnya bersama Ahmad Dt. Batuah. Cerita itu sangat terkenal di Minangkabau karena dianggap sebagai pusaka yang harus dihormati oleh orang Minangkabau. Cerita itu berintikan adat dan agama yang menjadi dasar pemerintahan negeri Minangkabau zaman dahulu dan sebagian besar masih berlaku dan dipatuhi oleh masyarakat Minang. Cerita lain yang ditulis oleh Aman ialah Syair Silindung Delima yang ditulis berdasarkan cerita Asschepoeter. Cerita itu kemudian disalin ke dalam bahasa Aceh oleh Anzib dan dicetak oleh Balai Pustaka tahun 1931.

              Syair Anis Aljalis disadur Aman dari cerita Seribu Satu Malam kemudian diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1933. Syair Siti Nuriah Membunuh Diri ditulis Aman berdasarkan cerita lama dan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1934.

              Selain itu, Aman juga menyusun cerita nabi-nabi. Ia menulis dari cerita Nabi Adam hingga Nabi Muhammad yang dijadikannya dalam tiga belas jilid dan diberi judul Rangkaian Manikam. Setelah itu, penerbit Gunung Agung meminta Aman agar menyalin buku-buku Hikayat Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Sejarah Melayu (yang terdiri atas dua jilid), Lima Tumenggung, dan Hang Tuah. Setelah buku terbitan Gunung Agung itu muncul, datanglah tawaran kepada Aman untuk menafsirkan Al Quran. Tawaran itu mula-mula ditolaknya karena ia merasa kurang mampu, tetapi atas dorongan Sutan Pamuntjak tawaran itu diterimanya. Tafsir Al Quran itu dijadikan enam jilid, setiap jilid terdiri atas lima juz dan diterbitkan oleh penerbit Djambatan.

              Tafsir Al Quran adalah karya Aman Datuk Madjoindo yang terakhir, yang diselesaikan setelah ia pergi ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Setelah itu. Aman tidak berkarya lagi karena kesehatan matanya tidak memungkinkan.

Karya

       a.    Novel

       (1)   Sebabnya Rafiah Tersesat. Jakarta: Balai Pustaka. 1934.

       (2)   Nyingkirkeun Rurubed (diterjemahkan oleh Marga Soelaksana).

              Jakarta: Balai Pustaka. 1933.

       (3)   Menebus Dosa. Jakarta: Balai Pustaka. 1932.

       (4)   Si Cebol Rindukan Bulan. Jakarta: Balai Pustaka. 1934.

       (5)   Rusmala Dewi. Jakarta: Balai Pustaka 1932.

       (6)   Perbuatan Dukun. Jakarta: Balai Pustaka 1935.

       (7)   Sampaikan Salamku Kepadanya. Jakarta: Balai Pustaka 1935.

       b.    Cerita

       (1)   Sepuluh Cerita Kanak-kanak. Jakarta: Balai Pustaka, 1950.

       (2)   Pak Janggut dan Bujang Bingung.

       (3)   Srigunting

       (4)   Si Doel Anak Betawi

       (5)   Kuntum Melati.

       (6)   Putri Rimba Larangan. Jakarta: Balai Pustaka. 1957.