Sabaruddin Ahmad

Sabaruddin Ahmad adalah seorang guru bahasa dan sastra Indonesia serta pejuang kebahasaan tiga zaman yang menjadi salah seorang peletak dasar dalam bahasa Indonesia. Beliau lahir menjelang magrib tanggal 7 Maret 1921 di Kampung Perak, Padang, Sumatra Barat. Orang tuanya memberi nama Sabaruddin. Tambahan nama Ahmad di belakang namanya berkaitan erat dengan nama ayahnya, Ahmad Karib bin Ma’rifatullah gelar Datuk Juara Alus. Ibunya bernama Siti Kiram binti Muhammad Jamin gelar Datuk Maruhum Basa. Menurut cerita ibunya, Sabaruddin lahir dalam keadaan terbungkus selaput putih. Sampai dewasa, benda itu tetap tersimpan rapi. Jika dia demam, meriang, atau kurang sehat, ibunya akan membarutkannya ke tubuh Sabaruddin, lalu sembuhlah penyakitnya.

Sabaruddin dibesarkan orang tuanya dalam sebuah keluarga Islam yang sederhana. Walaupun ayahnya tidak sempat mendapatkan pendidikan formal, tetapi mampu baca tulis huruf Latin dan rajin membaca buku-buku mengenai agama Islam, adat istiadat, kebudayaan, cerita klasik, dan roman terbitan Balai Pustaka. Ayahnya menjadi guru mengaji dan bertugas sebagai mandor di sekolah pemerintah, yakni HIS (Hollandsch Inlandersche School) di Kota Padang. Di samping itu, ayahnya menjabat sebagai Ketua Bagian Dakwah Cabang Muhammadiyah Padang. Ayahnya sangat tegas dan disiplin. Ayahnya selalu menganjurkan agar anak-anaknya menghargai waktu. Harus bangun pagi-pagi, jangan sampai kedahuluan matahari untuk melaksanakan salat subuh.

Sejak kecil Sabaruddin sudah mengenal kesenian tradisional Minangkabau. Ayahnya adalah orang yang terampil bercerita. Tiap petang Sabtu dan malam Minggu, ayahnya menceritakan hal yang menawan hati, seperti kaba Siti Baheran, Rancak di Labuah, Magek Manadin, Sabai Nan Aluih, atau cerita bernafaskan Islam seperti Hikayat Siti Jamilah, Nabi Bercukur, dan Nabi Sulaiman. Ayahnya juga suka mengajak beliau menghadiri upacara Baralek dan berbagai pertemuan adat yang menggunakan tutur sapa dalam bahasa sastra. Tradisi lisan Minangkabau itu penuh dengan ungkapan, pepatah, dan petitih sehingga menumbuhkan minat dalam dirinya untuk mempelajari bahasa dan sastra Indonesia.

Pendidikan formal Sabaruddin dimulai sejak usia enam tahun di Inlandsche School yang terletak dekat tanah lapang pinggir laut Pantai Padang. Sebelumnya, beliau ditolak masuk HIS karena dianggap belum berumur tujuh tahun dan ketika tangan kanannya digapaikan ke telinga kiri melalui atas kepala, ternyata ujung tangan belum mencapai telinganya. Lima tahun menempuh pelajaran di Sekolah Melayu itu lantas melanjutkan ke HIS Muhammadiyah dan Kweekschool tamat tahun 1936. Kemudian, beliau melanjutkan ke Normaal School Muhammadiyah, sekolah khusus untuk pendidikan guru.

Sabaruddin menamatkan Sekolah Guru Muhammadiyah Padang pada usia 18 tahun lebih, akhir 1939. Sabaruddin dan Bachtiar, warga Minang keturunan Jawa yang sering dipanggil “Mak Itam” memperoleh nilai terbaik sehingga ditugaskan oleh Direktur Sekolah untuk jadi guru di Medan. Direktur Sekolah mendapat tugas dari Pimpinan Pengajaran Muhammadiyah Sumatra Barat untuk memenuhi permintaan Pimpinan Muhammadiyah Sumatra Timur. Maka, Sabtu petang awal tahun 1940, berdua mereka meninggalkan Kota Padang untuk menjadi guru di Medan.

Senin petang awal tahun 1940, Sabaruddin dan Bachtiar sampai di Wilhelmina Straat (Jalan Sutomo) Medan. Mereka berdua ditempatkan sebagai guru Standard School Muhammadiyah di Jalan Demak, Medan. Sabaruddin mengajar di kelas empat dan Bachtiar di kelas lima. Di sekolah inipun bertugas Bandaharo Harahap yang populer sebagai penyair dengan nama Hr. Bandaharo. Tidak lama kemudian, Sabaruddin dipindahkan sebagai guru Normaal School Muhammadiyah di Jalan Sampali, Medan.

Sabaruddin Ahmad bertunangan dengan Mariana Sulun yang pernah menjadi muridnya di Normaal School Muhammadiyah. Mariana adalah anak Sulun Sutan Malenggang, Kepala Bagian Teknik dan Perbengkelan DSM (Deli Spoor Maatschappij) di Pulo Brayan (sekarang PT Kereta Api Devisi Regional I Sumatera Utara). Mereka pun menikah dengan disaksikan oleh Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Konsul Muhammadiyah Andalas Timur, dan Ustaz Bustami Ibrahim. Sabaruddin sebagai Ketua Tablig Muhammadiyah akhirnya menjadi suami dari Mariana Sulun yang menjadi pengurus Aisiyah bagian pendidikan pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia.

Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan RI, Sabaruddin dan keluarga terpaksa mengungsi ke Tebingtinggi. Setelah keadaan aman, mereka kembali ke Medan. Akan tetapi, rumah mereka di Jalan Japaris sudah musnah jadi abu dibakar oleh kaki tangan Belanda, yakni komplotan Poh An Tui. Semua barang milik keluarga, termasuk satu lemari berisi buku terbitan Balai Pustaka habis terbakar.

Pada tahun 1948, Penerbit dan Penjual Buku-buku Saiful U.A. Medan menerbitkan buku karangan Sabaruddin Ahmad berjudul Seluk Beluk Bahasa Indonesia. Buku ini berkulit tebal dan terdiri atas lima pasal. Tiap pasal diberi judul tersendiri yang berhubungan dengan bahasa dan kesusastraan. Tebal buku 128 halaman dengan kata sambutan oleh Madong Lubis dan menjadi bahan rujukan Anton M. Moeliono dalam penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bahkan, setelah mendapat resensi dari H.B. Jassin, buku ini menjadi buku pelajaran di sekolah-sekolah. Honorarium penerbitan buku ini dipergunakan oleh Sabaruddin untuk membeli sebuah rumah di Jalan Puri, Medan.

Penerbit Firma Saiful juga menerbitkan buku-buku karangan Sabaruddin Ahmad, seperti Pengantar Sastera Indonesia, Paramasastera Indonesia, Kiliran Budi, dan Latihan Bahasa. Buku Kiliran Budi (1954) berisi atas seloka, pantun, bidal, peribahasa, dan perumpamaan yang disunting dari khasanah sastra Melayu. Buku-buku itu terbit antara tahun 1950 s.d. 1954 dengan harga antara Rp 3,50 s.d. Rp 12,00 per eksemplar. Pada tahun 1969, diterbitkan buku Latihan Kemahiran Bahasa Indonesia untuk sekolah lanjutan pertama yang mengalami cetak ulang kesembilan pada tahun 1974.

Buku-buku karangan Sabaruddin Ahmad tidak hanya diterbitkan oleh Firma Saiful. Buku Metode Baru Tata Bahasa Indonesia yang ditulisnya bersama Dra. Astuty Hendrato diterbitkan Firma Ampera (1965). Buku ini diselesaikan oleh Sabaruddin dalam masa-masa penuh keprihatinan karena harus berhadapan dengan Lekra, terutama Bakri Siregar sebagai lawan polemiknya di media massa. Setelah krisis politik berlalu, buku karangannya berjudul Latihan Kemampuan Bahasa Indonesia untuk SLTP diterbitkan oleh penerbit Sinar Agung Medan (1977).

Reputasi Sabaruddin Ahmad dalam mengajar bahasa dan sastra Indonesia mengantarkannya sebagai guru di SMA Darurat Ismail Daulay dan Perguruan Ganesha (sekarang Perguruan Kesatria). Pada tahun 1949, pemerintah mengangkatnya sebagai pegawai negeri di SMA Negeri 1 Jalan Seram yang kemudian ditingkatkan statusnya menjadi SMA Negeri Teladan, Medan. Murid-muridnya banyak yang menjadi orang sukses dan terpandang, seperti Raja Inal Siregar, T. Rizal Nurdin, Prof. H.M. Yusuf Hanafiah, H. Effendi Ritonga, Harbrinderjit Singh Dillon, dan H. Saiful Sulun.

Karier kepegawaian Sabaruddin Ahmad berkembang dengan baik. Pada tahun 1968-1971, Sabaruddin diangkat sebagai Sekretaris Kantor Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumatra Utara. Setelah menjalani masa pensiun, Sabaruddin Ahmad diberi kepercayaan sebagai Inspektur Pendidikan Pertamina Wilayah I di Pangkalan Berandan (1983-1986).

Di samping itu, Sabaruddin Ahmad menjadi dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Sastra di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di mana beliau termasuk salah seorang pendirinya. Kemudian, menjadi dosen kursus B-1 Bahasa Indonesia dengan salah seorang muridnya bernama Mohammad Zain Saidi (Mozasa), sastrawan Indonesia dari Sumatra Utara (1953-1960). Tahun 1957 menjadi Lektor Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP). Beliau juga pernah menjadi dosen di Universitas Sumatra Utara (USU), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatra Utara, Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Medan, Institut Teknologi Medan (ITM), Universitas Amir Hamzah, dan Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) Medan.

Sejalan dengan kegiatan keilmuan yang dijalaninya, keinginan menambah ilmu pengetahuan ternyata tidak pernah surut dalam diri Sabaruddin Ahmad. Untuk itu, beliau menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri Medan (sekarang Universitas Negeri Medan) pada tahun 1964. Gelar Sarjana Sastra Indonesia pun diraihnya dari Universitas Sumatra Utara, Medan, pada tahun 1976 dalam usia 55 tahun.

Di samping aktif sebagai pengurus Muhammadiyah, Sabaruddin pernah menjadi Ketua PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Sumatra Utara (1960-1965), Ketua Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI) Sumatra Utara, Ketua Umum HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) Sumatra Utara, Ketua Umum Himpunan Pencinta Seni Budaya Minang Sumatra Utara, Ketua HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia) Sumatra Utara, dan pengurus komite sastra DKM (Dewan Kesenian Medan).

Pada masa kepengurusannya, Tapian Daya (sekarang menjadi arena Pekan Raya Sumatra Utara) berfungsi sebagai pusat kesenian masyarakat Sumatra Utara. Semasa menjadi pengurus komite sastra DKM (1975-1986), Sabaruddin Ahmad bersama sastrawan Sumatra Utara, seperti B.Y. Tand, N.A. Hadian, Herman K.S., Rusli A. Malem, Damiri Mahmud, A.N. Zaifah, Lazuardi Anwar, dan Sutejo Muhadhie menghadiri Pertemuan Sastrawan 1979 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tulisan-tulisannya berbentuk artikel budaya, kritik, dan esai sastra banyak dimuat surat kabar terbitan Medan dan Jakarta. Tulisannya berbentuk kata pengantar terdapat pada kumpulan puisi Pesta Api karya Abdul Jalil Sidin (1981, cetakan keempat), Nun karya Rusli A. Malem (1981), dan Lingkaran Putih karya Sutejo Muhadhie (1981).

Di bidang pers, Sabaruddin Ahmad tampil sebagai pengasuh rubrik “Rujak Bahasa” di Harian Analisa Medan, ”Bina Bahasa” di Harian Sinar Pembangunan Medan (sekarang Medan Pos), dan memandu acara “Siaran Bina Bahasa” di Radio Alnora, RRI, dan TVRI Medan. Selama menjadi pengasuh rubrik kebahasaan dan menulis artikel di surat kabar, Sabaruddin Ahmad pernah menggunakan nama samaran Abu Sofian dan Sabar Eddien.

Mengingat jasa-jasanya di bidang pendidikan, pada peringatan Hari Guru ke-49, PGRI Sumatera Utara memberikan penghargaan “Guru Teladan” kepada Sabaruddin Ahmad. Kemudian, H.T. Rizal Nurdin selaku Gubernur Sumatta Utara ketika itu memberikan penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan dan Anugerah Wiyata Mandala kepada Sabaruddin Ahmad pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Medan, 2 Mei 2002.

Sabaruddin Ahmad memiliki 12 anak, tujuh putra dan lima putri, serta 23 cucu. Ditakdirkan tiga putra dan dua orang cucunya meninggal dunia. Anak-anaknya adalah Masri Syahrial, alm. (lahir 1945), Safwan Hadi (1947), Sofnir Ali (1950), Safrina Hanum (1952), Nila Kesuma (1954), Ida Hafni (1956), Syafrul, alm. (1958), Sofyan Hadi, alm. (1960), Syahwin (1963), Sri Kami Yanti (1966), drg. Kesuma Wardhani (1968), dan Indra Gunawan (1970).

Pada tahun 1981, Sabaruddin Ahmad dan istrinya menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Istrinya, Hj. Mariana Sulun wafat pada tanggal 2 Februari 2000 dalam usia 74 tahun. Tahun 2002, Sabaruddin Ahmad telah sepenuhnya menjalani purnabakti. Ia tidak banyak bergerak dan sehari-hari memfokuskan diri dalam beribadah. Dia tidak dapat aktif membaca arena terserang katarak sehingga sesudah sarapan pagi putri bungsunya bertugas membacakan surat kabar untuk ayahandanya. Tahun 2005, Shafwan Hadi Umry dan Rusli A. Malem menulis biografinya dengan judul Kiliran Jasa Seorang Guru Bahasa: Sebuah Biografi Drs. H. Sabaruddin Ahmad yang diterbitkan Balai Bahasa Sumatra Utara. Pada tanggal 5 Juli 2007, Drs. H. Sabaruddin Ahmad yang telah memperkaya khasanah bahasa dan sastra Indonesia wafat dalam usia 86 tahun. (syd/BBSU)

Artikel Terpopuler